Nglantur Sore-Sore

Akhir-akhir ini Tokyo sering banget hujan. Minggu ini aja hampir kaya satu minggu hujan. Suasana hujan saat musim panas ini, mirip-mirip suasana di Bandung. Panas nggak dingin juga nggak. Bisa pakai jaket kaya di Bandung. Hari Jumat, seperti biasa di Lab ada seminar sampai jam 6 sore. Kalau pas musim panas gini nggak ketabrak maghrib tapi kalau pas musim dingin, pas ketabrak tuh.

Hari Jumat itu, Lab bakalan cepet banget kosong. Semua orang bakalan langsung pengin cepet-cepet balik. Maklum kan akhir pekan. Pembimbing juga dapat dipastikan normalnya akan balik cepet. Tapi bagus juga sebenarnya pulang cepet, soalnya semakin malam, kereta akan semakin penuh. Akhir pekan gini, biasanya orang jepang akan pergi pesta atau makan-makan di  luar, bersosialasi dengan manusia lainnya. Mungkin setelah capek-capek kerja selama seminggu.

Oh iya, kalau pulang malam di Jepang itu, apalagi kalau mepet kereta terakhir, bisa dipastikan nggak kebagian tempat duduk. Dan pasti banyak yang mabuk. Kadang malah sampe ada yang nggak sadar. Tapi biasanya sih ada temen orang yang tidak sadar itu berbaik hati mengantar sampe rumah orang tersebut. Kadang kereta jadi bau agak aneh (nggak biasa dihidung), mungkin itu bau bir kali yah. Hehehehe

Ngomong-ngomong soal hujan, tadi saya sempat lihat data curah hujan antara Tokyo dan Jakarta. Untuk Tokyo, mulai dari bulan Maret sampe Oktober memang memiliki kecenderungan curah hujan yang tinggi. Ini berbanding terbalik dengan Jakarta. Ya kita tahu lah, kapan musim hujan itu mulai. Di Tokyo, puncak curah hujan terjadi bulan September, sedangkan di Jakarta terjadi bulan Januari. Bisa dikatakan, di Indonesia mulai masuk kemarau, di Jepang mulai penghabisan air hujan. Walaupun maksimum di Jepang, ternyata itu baru setengahnya maksimum curah hujan di Jakarta. Pantas ya, kalau Jakarta lebih berpotensial kena banjir. Dan memang, selama saya di Tokyo, belum pernah ada pengalaman jalan jadi sungai karena banjir. (data: Tokyo, Jakarta).

Oh iya, drainase di Tokyo sendiri keknya dipisah. Dipisah maksudnya, untuk air hujan dan limbah air. Mungkin biar mudah ngolahnya kali yah? Saya sempat kepikiran, kalau misal air limbah kan lebih banyak jampi-jampinya biar bisa keluar air bersih dibandingkan dengan air hujan yang notabene masih belum terlalu tercemar. Jadi kesimpulannya kan jampi-jampinya lebih hemat.

Terus lagi, sungai di Jepang juga biasanya lebar-lebar. Dan nggak ada rumah pinggir sungai. Di samping sungai biasanya ada tanah lapang beberapa meter. Biasanya sih dibuat taman. Mungkin buat jaga-jaga kalau nanti tiba-tiba banjir, pemukiman masih aman. Kalau nggak dibuat taman, ya dibuat tempat latihan nyupir.

Terus biasanya, ikan-ikan di sungai juga besar-besar. Entah ikan apa. Soalnya nggak ada pemancing dan orang jepang keknya jarang makan ikan air tawar. Kebanyakan ikan dari laut. Mungkin karena sudah sekalian asin kali yah. Hehehe.

Wah, selamat berbuka puasa.

Ramadhan Kali Kedua di Jepang

Hore lama nggak posting, akhirnya bisa posting juga.

Alhamdulillah, sekarang sudah masuk lagi bulan Ramadhan. Ramadhan tahun ini dan tahun sebelumnya memang agak sedikit beda, soalnya sudah beda tempat tinggal. Kadang sering orang penasaran gimana sih rasanya puasa di luar negeri. Biasanya sih poin yang menarik ada dua, pertama berapa lama berpuasa dan yang kedua bagaimana kegiatan di sana.

1. Panjang Puasa

Durasi puasa beberapa negara

Durasi puasa beberapa negara (huffington post)

Mantap kan, ada yang puasanya puanjang banget dan ada yang pendek. Semua tergantung di belahan bumi sebelah mana. Eh, ternyata nggak ada durasi untuk puasa Jepang. Kalau untuk Jepang sekarang, Subuh itu mulai 02:30 (kira2) dan Maghrib sekitar 19:00 (juga kira2). Berapa tuh? Ya intinya masih nggak sepanjang Eslandia. Mungkin yang paling cepet yang berada di belahan bumi selatan seperti di Falkland, atau itu, di bagian ekornya Amerika selatan ada Chili dan Argentina.

Kalau di tempat tinggal saya, saya lebih memilih untuk menunggu waktu sahur dan Subuh, baru kemudian tidur. Dengan begini, tidak perlu khawatir ketinggalan Sahur dan Subuh. Dan rasanya, banyak juga kawan-kawan yang menerapkan pola ini.

2. Kegiatan ramadhan

Karena orang islam termasuk minoritas di Jepang, secara otomatis suasana ramadhan tidak begitu terasa kental. Tidak seperti di Indonesia, Arab, Malaysia, atau Pakistan. Semua berjalan seperti biasa. Normalnya orang akan berkerja dari jam 09:00 sampai jam 17:00 atau umumnya lembur. Tak ada takjil, tak terdengar suara adzan dari luar, dan tentu jamaah tarawih tidak sebanyak di Indonesia.

Tapi walaupun begitu sebenarnya tidak terlalu sulit menjalankan Puasa di sini dibandingkan dengan negara sebelah yang memang dilarang (kabarnya, semoga tidak). Walaupun musim panas, cuaca di Tokyo tidak terlalu panas dan sering sekali hujan akhir-akhir ini. Meskipun saya suka terheran-heran, saat saya menggunakan jaket di Lab, ada kawan lab yang menyalakan kipas angin dan kepanasan. Hehehehe.

Untuk kegiatan tarawih, akhirnya di kampus diadakan juga. Jadi bisa tarawih bareng-bareng. Semoga semakin banyak yang bisa ikutan tarawih jamaah. Hikmahnya adalah banyak hal yang biasa dialami di Jepang dan nggak bisa dialami di Indonesia. Terlepas apakah hal tersebut menyenangkan atau tidak. Dan lagi-lagi, menyenangkan atau tidak bisa hasilnya relatif dari sisi mana kita melihatnya.

Buat yang mau gabung tarawih, biasanya tarawih dilaksanakan di Kampus Ookayama South building lt. 9. Waktunya habis isya (jam 21:00-21:40 JST).

Eh, ternyata lumayan juga ngabuburit sambil menulis asal-asalah di blog. Hehehehe. Selamat berpuasa, eh berbuka* ding.

*Buat yang sudah masuk waktu buka puasa.

Hampir Dua Bulan di Tokyo

Oke, saya bukan sedang menghitung hari atau menantikan sebuah hari spesial. Kalau saya menghitung hari, pasti saya sebut sudah berapa hari saya disini.

Jadi ceritanya, saya diberi kesempatan untuk menikmati pendidikan di Jepang. Mulai bulan Oktober ini, resmi saya menjadi mahasiswa kembali di Tokyo Institute of Technology. Alhamdulillah luar biasa rasanya, karena saya sendiri sudah menantikan hal ini lama sekali. Tahun ini merupakan tahun yang luar biasa bagi saya. Hidup ini sudah dipermudah oleh Allah dan Allah sekarang mempermudah saya untuk mendapatkan jalan ini. InsyaAllah, semoga dipermudah untuk urusan saya yang lainnya.

Tokyo, kira-kira apa yang terpikirkan ketika mendengar nama kota tersebut disebut? Modern, Ramai, Besar, Luas, dan Mahal. Oke, ternyata memang benar begitu menurut saya. Tapi buat yang memang berniat untuk melanjutkan belajar disini, jangan takut karena mahalnya. Buktinya, banyak orang yang bisa bertahan di kota ini dengan mengandalkan beasiswa. Jadikan hal tersebut tantangan bagi diri kita untuk bisa lebih kreatif dalam menyiasati segala sesuatu. InsyaAllah ada jalan.

Tokyo merupakan tempat ketiga saya tinggal. Pertama jelas di rumah orang tua saya hingga saya SMA. Kedua, Bandung hingga saya lulus kuliah. Tinggal di tempat baru bisa menjadi titik awal untuk membangun sesuatu. Atau bisa menjadi titik awal untuk memulai sesuatu yang kita inginkan. Kita pun bisa mulai membangun kebiasaan baru di kota baru ini. Menurut saya, ini merupakan suatu peluang yang harus dimanfaatkan.

Woi… Sekian obrolan berat saya. Mari kita mulai obrolan ringan.

Semenjak di Tokyo ini, ada banyak hal baru atau hal lama yang mulai saya rasakan kembali antara lain:

1. Jalan Kaki

Asyik, kemana-mana jalan kaki. Kalau memang masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Saya sendiri kurang lebih setiap hari jalan selama 20-an menit. 🙂

2. Frekuensi Membaca Meningkat

Disini mau tidak mau harus sering membaca artikel baik tentang Indonesia ataupun dengan Jepang. Saya sendiri berusaha untuk mencoba membaca artikel dalam bahasa Jepang.

3. Belajar bahasa

Mau tidak mau harus belajar bahasa Jepang. Memang sih, kita bisa belajar bahasa Inggris. Tapi sayang bahasa Inggris hanya bisa kita lakukan dilingkungan kampus. Selain itu, saya juga harus senantiasa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris karena bahasa Inggris inilah satu-satunya alat komunikasi di sini.

4. Duta Indonesia

Disadari atau tidak, saya sendiri sering mempromosikan indonesia ke teman-teman lab atau teman-teman kuliah. Kadang sebagian dari mereka kaget dengan Indonesia (kaget mendengar faktanya).

5. Naik kereta api (karena ada yang sadar, jadi saya betulkan kembali)

Hampir setiap hari saya selalu naik kereta api disini. Kurang lebih 2 jam saya habiskan waktu saya di kereta setiap hari. Tentu, ini potensi waktu yang harus dimanfaatkan.

6. Belanja Bahan Makanan dan Masak

Hampir setiap 2 minggu sekali saya pergi ke supermarket untuk membeli keperluan dapur. Dan hampir setiap hari saya memasak untuk memenuhi kebutuhan makan saya. Karena memang harus masak, saya pun mulai mencoba berkreasi yang macam-macam. Haha. Sejauh ini saya lebih mencoba-coba ketika memasak dibandingkan dengan mencari tahu resep masakan.

7. Panjang hari yang berubah dan Waktu sholat yang dinamis

Waktu sholat disini cukup dinamis. Dan panjang hari juga semakin pendek (sekarang masuk musim dingin) -> cocok buat puasa (Matahari muncul jam setengah tujuh pagi dan Maghrib jam Setengah Lima sore).

Sip, sekian tulisan ringkas saya. Saya hanya ingin berbagi cerita. Terima kasih telah membaca. 🙂 Intinya mari lebih giat, lebih tekun, dan lebih rajin!

Odaiba, Gundam, Rainbow Bridge, dan Liberty

Cerita ini merupakan lanjutan dari perjalanan saya mengunjungi Tokyo Tower.Waktu itu kami tidak langsung pulang setelah puas menikmati Tokyo Tower. Kami melanjutkan perjalan ke Odaiba (tempat yang paling dekat dengan Tokyo Tower). Dari Tokyo tower kami jalan ke stasiun Hamamatsucho. Dari stasiun ini, kami mencoba naik monorail ke Stasiun Tennozu Isle (pengalaman pertama saya naik monorail). Tanpa melakukan cek dan ricek, kami langsung masuk ke kereta. Kami dapat kereta ekspress rupanya. Tapi sayang, kali ini kami sedang tidak membutuhkan kereta ekspress karena kereta ekspress tidak berhenti di Tennozu Isle. Kereta ekspress langsung berlari menuju Haneda. Tak ada pilihan lain, kami pun turun di Haneda dan naik kereta lokal ke Tennozu Isle.

Di Tennozu Isle (Ini pulau lho) kami langsung berpindah kereta menuju stasiun Tokyo Teleport (Ini nama stasiunnya beneran lho). Tokyo Teleport adalah salah satu stasiun di Odaiba. Apa itu Odaiba? Tempat seperti apa itu? Jadi Odaiba itu adalah pulan buatan di Teluk Tokyo. Lokasinya persis di sebelah Rainbow Bridge. Awal dibuat pulau ini adalah untuk tujuan pertahanan tetapi lambat laun menjadi tempat komersial seperti sekarang ini. Di pulau ini ada banyak banget mall. Etsss, tapi saya datang kesini bukan untuk belanja. Saya sendiri ingin melihat rainbow bridge yang merupakan setting Tokyo Magnitude.

Rainbow Bridge

Rainbow Bridge (Maaf gambarnya jelek)

Waktu itu di Odaiba sendiri sedang ada festival. DREAM tema atau nama festivalnya, saya sendiri kurang mengerti. Festivalnya seperti umumnya festival di Jepang yaitu tarian dan bazar. Ada banyak sekali tim yang tampil. Masing-masing dari tim membawakan tarian masing-masing.

Festival Temanya Dream

Festival Temanya Dream

Salah satu tim peserta

Salah satu tim peserta

Puas melihat festival dan parade tarian, kami mencoba untuk melihat gundam lebih dekat. Kabarnya sih, ada Gundam di Odaiba. Memang benar, ada yang namanya Gundam Front Tokyo (Lokasi mas Gundam). Waktu itu kami hanya melihat-melihat saja di luar dan memoto beberapa kali. Setelah puas kami segera pergi berkeliling Odaiba lagi. Saya sendiri baru tahu kalau ternyata kita bisa masuk ke Gundam Front Tokyo. Di dalamnya ada replika stasiun di film Gundam, dll. Cek saja di situsnya: http://gundamfront-tokyo.com/

Kami Odaiba juga ada Ferris Wheel namanya Daikanransha. Dulu Daikanransha pernah menjadi Ferris Wheel tertinggi di dunia. Gelar ini berakhir pada tahun 2000. Sayang sekali, kami tidak jadi naik Daikanransha. Habisnya mahal. Oh iya, di Daikanransha ini, kita bisa memilih untuk naik yang lantainya bening. Jadi seolah-olah kita melayang di angkasa (agak serem sih ini).

Terakhir sebelum pulang, kami menyempatkan mengunjungi replika Liberty dan menikmati laut Tokyo pada malam hari sambil menyaksikan rainbow bridge. Tak lupa, kami juga mampir ke seize**ya di Odaiba untuk makan malam. 😀

Komentar:

Karena memang sudah cukup malam, kami memutuskan pulang. Padahal di Odaiba sendiri masih banyak yang belum di kunjungi. Ada yang namanya Miraikan, patung-patung artis dari lilin, dan ada museum lainnya (lupa namanya).

Lain kali mungkin ke sana lagi. (nunggu musim panas)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

*Kami di sini: saya, pribadi, dan anugerah. (artikel Tokyo Tower dan Odaiba).

 

Kegagahan Tokyo Tower

Tokyo Tower. Kalau ingat bangunan ini, saya pasti ingat dengan film Tokyo Tower. Oke, kita lewati filmnya. Akhirnya, 3 minggu lalu saya berhasil mengunjungi Tokyo Tower. Saya sendiri sudah lupa jalur kereta yang saya pakai. Seingat saya, kami berpindah kereta di Jiyugaoka (Oimachi line). Tower setinggi 333 sampai sekarang masih menjadi ikon untuk kota Tokyo walaupun sudah ada bangunan tandingannya yaitu Tokyo SkyTree yang rampung digarap tahun 2012.

Tujuan utama dibangunannya tower ini yaitu untuk keperluan penyiaran dan telekomunikasi. Maklum, di Tokyo sendiri ada ratusan bangunan bertingkat sehingga paling tidak dibutuhkan sebuah bangunan yang tingginya melebihi bangunan lain. Tokyo Tower memiliki tinggi 333 meter. Kita dapat naik ke atas sampai ketinggian 150 (main observatory) dan 250 meter (special observatory).

Untuk naik sampai ketinggian 150 meter, kita cukup membayar 820 yen. Kalau ingin sampai ke 250 meter, kita harus membayar lagi 600 yen. Sayangnya pada waktu kami kesana, special observatory sedang dilakukan perawatan sehingga kami hanya bisa naik sampai main observatory.

Tokyo Tower

Tokyo Tower

Kira-kira di atas ada apa ya?

Oke, di atas, kita bisa melihat pemandangan kota Tokyo dari atas. Di atas ditunjukan pula jarak tokyo tower ke beberapa tempat di Tokyo seperti Odaiba, Shinjuku, Shibuya, Asakusa, Ikebukuro, Ropponggi, dsb.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selain melihat pemandangan, di atas kita juga bisa menjumpai toko suvenir, cafe, kuil, dan bola baseball. Kuil nya kecil, sebagian orang menggantungkan doa mereka di sana (kalau nggak salah lihat). Yang saya baru tahu adalah bola baseball. Jadi ceritanya, ada bola ditemukan di ketinggian 306 meter. Ini keterangan bahasa Jepangnya (di bawah gambar bola). Ada yang punya ide, kenapa bola itu bisa nangsang disana?

IMG_0206

Penampakan bola di bawah, karena atas cukup terang jadi nggak jelas.

IMG_0205

Keterangan bola misterius di Tokyo Tower

Puas melihat-lihat tokyo dari atas, kami pun memutuskan pulang. Kalau turun, saran saya naik tangga ya. 🙂

Jadi ada 600 anak tangga. Lumayan bisa dimanfaatkan untuk pembakaran kalori. Nanti sampai dilantai 3 yang merupakan pusat makanan dan belanja.

IMG_0210

600 anak tangga, cuma 8 menit kok

IMG_0212

Numpang di Tokyo Tower :p

Komentar:

Seru ternyata melihat Tokyo dari atas. Tokyo sendiri terlihat seperti hutan dengan beratus-ratus gedung sebagai pohonnya. Di samping Tokyo Tower ada taman yang enak untuk menyegarkan pikiran juga. Selain taman ada kuil juga (nanti dibahasnya).

Selain itu, lantai kaca juga seru. Lebih-lebih kalau kita mencoba melewatinya. Mungkin biasa saja bagi orang yang suka ketinggian, tapi saya rasa tidak untuk sebaliknya.

Ini kali pertama saya merasa menjadi turis mancanegara. Haha. 🙂 Alhamdulillah.

Mitake-san, Momiji 2013

Momiji? Apa sih momiji? Hmm, momiji itu sebutan untuk pohon maple-nya jepang. Entah, di Indonesia ada pohon semacam ini atau tidak. Momiji ngapain? Lihat pohon? Ya, lihat pohon yang daunya sudah mulai berubah merah atau sudah mulai menguning. Memang tampak sederhana, tapi lumayan menyejukan mata bagi saya.

Tahun ini, saya untuk pertama kalinya mengikuti momiji bersama teman-teman dari PPI Tokodai. Sekitar 40 orangan, kami pergi ke arah 御岳山 (mitakesan). Perjalanan kami dimulai dari stasiun 武蔵溝ノ口 (Musashi mizonokuchi) ke stasiun 立川 (Tachikawa). Kemudian dari 立川 dilanjutkan ke stasiun 青梅 (Oome). Dan pemberhentian terakhir kami di stasiun 軍畑 (ikusabata). Kami menghabiskan sekitar 840-an yen untuk perjalanan ke sini.

Stasiun 軍畑, merupakan stasiun yang sangat kecil. Karena banyak orang yang turun, kami pun harus mengular mengantri menuju loket pintu keluar. Stasiun ini merupakan awal perjalanan kami menuju 御岳山.

Dari 軍畑, kami berjalan menyusuri pinggiran sungai Tama (多摩川). Di pinggiran sungai, banyak sekali pohon momiji. Sebagian ada yang sudah mulai merah dan sebagian lagi masih hijau. Penduduk di sini kebanyakan bertani dan banyak yang menjajakan hasil pertaniannya kepada para pengunjung. Ada sebagian yang membuka warung kejujuran di depan rumahnya.

Kami berjalan menuju tempat yang disebut dengan 御岳. Saya pikir kami akan naik hingga ujung gunung, eh, ternyata hanya di kakinya saja (mungkin). Ternyata, kalau ingin ke atas, kami harus menggunakan kereta kebel. Kami pun harus merogoh kocek kami lebih dalam untuk bisa naik ini sekitar 1000-2000 yen. Akhirnya banyak dari kami pun mengurungkan niat ini (termasuk saya). Dan sebagai gantinya, kami menyusuri sungai ini kembali.

Di 御岳, kami menikmati makan siang kami. Saya makan ikan goreng dan sayur jamworken (jamur, wortel, kentang–> masak sendiri ^.^)

Selesai makan, kami tak lupa untuk menunaikan sholat. Sholat selesai, foto-foto selesai, jalan-jalan selesai, dan akhirnya kami memutuskan pulang kembali ke Tokyo. Oh iya, kereta di sana lumayan lama nunggunya (mungkin paling banter 1 jam 3 kali). Oh iya, tempatnya rame bukan main dan banyak orang membawa kamera lho.

Eh, kalau dilihat-lihat, foto-foto yang kek gini lumayan cocok untuk latar kalendar kali ya? 🙂

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.