Self-plagiarism

Self-plagiarism .. plagiarisme gitu? menggunakan ide/kata-kata sendiri plagiat kah? hmmm

Setelah sebelumnya saya berdiskusi tentang plagiarisme, kali ini saya akan membahas konsep yang mirip tapi pada dasarnya tidak sama, yaitu self-plagiarisme. Jika pada artikel sebelumnya kita bisa pahami bahwa plagiarisme adalah praktek menggunakan ide/karya orang lain lalu diklaim sebagai ide/karyanya sendiri (oxford dict). Jadi, self-plagiarism dapat diartikan sebagai praktek menggunakan ide kita sendiri lalu kita mengeklaim ide tersebut, mungkin kah ini? Heeeee… Aneh yah? Karena itu self-plagiarism itu tidak sama persis dengan plagiarisme yang pada umumnya terjadi. Lalu apa itu?

Untuk memahami self-plagiarism, kita perlu memahami dua hal kesepakatan/aturan pada suatu komunitas dan siapa pemegang hak cipta. Kesepakatan yang saya maksud misalnya, dalam komunitas riset, ketika orang menulis makalah yang berisi usulan ide barunya ke suatu konferensi, maka penulis dilarang mengusulkan ide yang sama persis ke konferensi yang berbeda. Hal ini karena ide hanya diusulkan sekali saja. Contoh lainnya, ada beberapa sekolah yang tidak mengizinkan siswanya untuk mengumpulkan PR yang sama untuk mata pelajaran yang berbeda. Pada komunitas dengan aturan-aturan seperti ini, jika kita menggunakan ide kita sendiri, kita bisa mendapatkan label self-plagiarism.

Yang terakhir adalah kepemilikan hak cipta (copyright). Dalam beberapa situasi, kadang saat penulis mengirimkan tulisannya, penulis tersebut bukanlah yang memegang hak cipta akan tulisannya, melainkan suatu lembaga/perusahaan. Contohnya, saat kita mempublikasikan makalah, penulis biasanya akan melakukan transfer hak cipta ke lembaga yang akan mempublikasikannya. Hal ini berarti ide yang ada pada tulisan tersebut hanya boleh dicetak/didistribusikan oleh sang pemengan hak, sehingga ketika ada sebagian ide/tulisan yang tercetak tidak melalui lembaga yang berhak, maka dapat dikatakan pemilik hak cipta dilanggar hak-nya. Oleh karena itu, orang mencetak secara ilegal tersebut dapat dituntut. Oleh karena itu, ketika penulis mengirimkan tulisan dengan ide yang sama ke lembaga lain setelah lembaga sebelumnya memiliki hak cipta, sang penulis dapat dikatan sebagai self-plagiarism.

So, pada dasarnya adalah, biasakan ketika mengirimkan tulisan/makalah ke satu tempat saja. Dahhhhh!!!

Iklan