Jeblugan

Saat puasa-puasa dulu, selain petasan, ada satu lagi yang sering dimainin yaitu “Jeblugan”. Jeblugan – begitulah orang-orang tempat saya menyebut benda ini. “Jeblug”  berarti meletus, tapi biasanya orang akan membaca “njeblug”. Mungkin benda ini memiliki nama lain di tempat yang lain. Kalau istilah dalam bahasa Indonesia namanya meriam bambu.

Jeblugan ini seperti meriam dan terbuat dari bambu. Biasanya bambu yang digunakan bambu yang besar dan memiliki kulit yang tebal serta diameter yang lebar, yaitu bambu petung (pring petung). Ukurannya mungkin sekitar 1-1,5 meter. Bambu di lubangi dari mulutnya sampai belakang, dengan tetap mempertahankan sisi yang paling belakang, sehingga bambu tidak tembus dari depan sampai belakang. Sehingga bambu ini seperti tabung tak bertutup tapi beralas.

Pada bagian yang tertutup, bambu dilubangi pada bagian sisinya. Tidak perlu lebar-lebar, mungkin sekitar 3 cm-an kali. Setelah itu, bambu diposisikan miring sehingga sisi yang berlubang berada lebih tinggi dibandingkan yang tertutup. Lalu, isikan minyak tanah secukupnya. Untuk memainkannya cukup masukan pemantik ke lubah kecil yang 3 cm tadi. Kombinasi uap minyak tanah yang panas dan api ini lah yang menyebabkan suara ledakan.

Catatan: permainan ini cukup berbahaya dan sebaiknya didampingi oleh orang dewasa serta saya tidak menyarankan untuk memainkan permainan ini. Saya sendiri pernah main sekali seumur hidup dan itupun dengan pengawasan orang tua.

permainan_meriam_bambu_28229

Sumber: Wikipedia

Saya sendiri penasaran sejarah permainan ini dan darimana asalnya. Untuk memainkannya sendiri membutuhkan produk dari minyak bumi, itu artinya permainan ini ada setelah orang Indonesia kenal dengan minyak bumi, mungkin. Kalau dari wikipedia di atas, katanya abad 6, tetapi tidak ada sumber yang valid terkait dengan klaim ini. Jadi meh :/, saya belum percaya.

Ingat, kita harus hati-hati ketika menerima informasi.

Iklan

Mengingat masa kecil

Bernostalgia kembali ke zaman waktu kecil dulu. Semuanya pasti pernah mendengar permainan ini dan mungkin sebagian orang sudah tidak memainkan ini seiring dengan banyaknya mainan modern seperti PS, PSP, Game komputer, XBox, deelel.
Permainan ini bernama gobaksodor. Waktu zaman saya dulu dirumah, jujur saya tidak pernah memainkan permainan ini hanya menonton teman-temanya yang memainkanya.
Biasanya permainan ini dimainkan saat malam hari, ketika bulan purnama ataupun saat terang bulan. Maklum saat tahun 96 TV masih belum banyak kalau tidak salah baru ada TVRI.
Dan bagi kami yang saat itu masih kecil, kurang bahkan tidak terlalu tertarik dengan acara ini.

Saat itulah biasanya kami memainkan permainan ini. ramai-ramain menuju halaman rumah atau yang biasa disebut latar, maklum di rumah saya hampir semua rumah memiliki halaman yang cukup luas, bahkan bisa untuk bermain bola.

tanpa sengaja saya menemukan video ini, saat melihat-lihat di youtube.
Dan emang agak sedikit menyesal dulu tidak ikut main permainan ini karena terlihat asik memainkan permainan ini.
Walaupun dalam vidoe ini yang memainkan permainan bukan anak kecil, melainkan oran dewasa. Itu tidak menjadi masalah karena sepertinya permainan ini menarik untuk dimainkan. Dijelasin peraturanya juga lho.

Sayangnya, saat pulang kembali ke rumah, sudah tidak pernah ada anak-anak yang memainkan permainan yang saya mainkan dulu, tidak hanya gobagsodor.
Saya tidak pernah melihat anak-anak yang main gundu atau kelereng atau dir,ditempat saya, main wayang(kertas bergambar), ular-ularan, dan lainya.

He… Anak-anak sekarang memang berbeda dengan zaman saya kecil, mulai dari permainanya, lagunya, semuanya berbeda.
Tapi semoga permainan yang dulu ada tidak punah.

(sumber : youtube)