Dokter Gigi Yang Cukup Bagus Di Bandung

Pernah sakit gigi? Sakit gigi adalah sakit yang sangat tidak mengenakan. Dulu saya pernah merasakannya. Waktu itu saya memiliki dua gigi yang sudah parah, karena dulu saya nggak beres root canal treatment-nya. Sialnya, itu satu kanan dan satu kiri.

Cerita bermula saat agustus 2014, saya liburan pulang ke Indonesia. Di Indonesia, saya sudah berharap bisa menikmati beberapa makanan yang sulit ditemui dengan Tokyo dan tentu dengan rasa yang orisinil. Tapi apa daya, harapan tinggallah harapan, karena gigi saya sakit. Saat di pesawat, tanpa sengaja saya memakan kue bolu dan kue bolu itu masuk ke gigi saya. Akibatnya, saya sakit gigi selama di pesawat sampai rumah.

Mengingat sudah tidak tahan dengan gigi tersebut, saya pun memutuskan untuk pergi ke dokter gigi. Kebetulan pada waktu itu saya sedang ada di Bandung. Dibandingkan dengan perawatan di Gombong (rumah saya), di Bandung sepertinya lebih mumpuni untuk urusan gigi. Selain itu, saya sendiri tidak punya waktu yang banyak untuk perawatan gigi, saya hanya punya waktu 3 minggu itupun terbagi-bagi, 2 minggu di rumah dan 1 minggu di Bandung. Tahu bakalan lama, karena ada dua gigi saya yang harus di-root canal treatment.

Setelah browsing berkali-kali, akhirnya saya menemukan O-smile Laser dental. Di web-nya, klinik ini mengatakan kalau mereka bisa menyelesaikan root canal treatment dengan sekali datang (O-Smile Dental). Kliniknya ada di Natasha Skin Care di Jalan Supratman, Bandung, tidak jauh dari Pusdai Bandung.

Well, setelah mencoba klinik situ, memang tidak mengecewakan. Ditinjau dari segi layanan, layanan tidak mengecewakan. Kemudian, dokternya juga ramah-ramah dan pastinya selalu menjelaskan prosedur yang sedang dilakukan ke pasiennya. Lalu, pertanyaan saya juga dijawab semua.

Untuk perawatan root canal, dimulai dengan investigasi giginya. Kemudian dilakukan pengukuran seberapa dalam kanalnya. Setelah itu, gigi akan disuntik obat bius sehingga rasa sakit akan menjadi lebih ringan. Setelah itu, laser akan ditembakan ke gigi beberapa kali. Setelah itu, daging dan syaraf yang tersisa di gigi akan dibersikan. Singkatnya, beberapa kali tembakan laser, kemudian dibersihkan, begitu terus.

Kalau dari pengalaman saya, sakitnya, wah….. SAKIT BANGET.. Seperti ada duri yang menusuk gusi. Kalau ingat sakitnya, jadi pengin langsung sikat gigi, hahahaha, maklum trauma. Walaupun sakit, secara pribadi, saya merekomendasikan klinik itu. Hehehe.

Pertanyaan berikutnya biasanya adalah biaya. Ya, diakui, biayanya lumayan, hehehe. Lebih-lebih kalau ada banyak gigi yang diurus, jadi itungannya tiap gigi. Kalau untuk root canal sampai selesai siapin aja X XXXX. Hehehehe..

Selamat siang.

Iklan

Hampir Dua Bulan di Tokyo

Oke, saya bukan sedang menghitung hari atau menantikan sebuah hari spesial. Kalau saya menghitung hari, pasti saya sebut sudah berapa hari saya disini.

Jadi ceritanya, saya diberi kesempatan untuk menikmati pendidikan di Jepang. Mulai bulan Oktober ini, resmi saya menjadi mahasiswa kembali di Tokyo Institute of Technology. Alhamdulillah luar biasa rasanya, karena saya sendiri sudah menantikan hal ini lama sekali. Tahun ini merupakan tahun yang luar biasa bagi saya. Hidup ini sudah dipermudah oleh Allah dan Allah sekarang mempermudah saya untuk mendapatkan jalan ini. InsyaAllah, semoga dipermudah untuk urusan saya yang lainnya.

Tokyo, kira-kira apa yang terpikirkan ketika mendengar nama kota tersebut disebut? Modern, Ramai, Besar, Luas, dan Mahal. Oke, ternyata memang benar begitu menurut saya. Tapi buat yang memang berniat untuk melanjutkan belajar disini, jangan takut karena mahalnya. Buktinya, banyak orang yang bisa bertahan di kota ini dengan mengandalkan beasiswa. Jadikan hal tersebut tantangan bagi diri kita untuk bisa lebih kreatif dalam menyiasati segala sesuatu. InsyaAllah ada jalan.

Tokyo merupakan tempat ketiga saya tinggal. Pertama jelas di rumah orang tua saya hingga saya SMA. Kedua, Bandung hingga saya lulus kuliah. Tinggal di tempat baru bisa menjadi titik awal untuk membangun sesuatu. Atau bisa menjadi titik awal untuk memulai sesuatu yang kita inginkan. Kita pun bisa mulai membangun kebiasaan baru di kota baru ini. Menurut saya, ini merupakan suatu peluang yang harus dimanfaatkan.

Woi… Sekian obrolan berat saya. Mari kita mulai obrolan ringan.

Semenjak di Tokyo ini, ada banyak hal baru atau hal lama yang mulai saya rasakan kembali antara lain:

1. Jalan Kaki

Asyik, kemana-mana jalan kaki. Kalau memang masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Saya sendiri kurang lebih setiap hari jalan selama 20-an menit. 🙂

2. Frekuensi Membaca Meningkat

Disini mau tidak mau harus sering membaca artikel baik tentang Indonesia ataupun dengan Jepang. Saya sendiri berusaha untuk mencoba membaca artikel dalam bahasa Jepang.

3. Belajar bahasa

Mau tidak mau harus belajar bahasa Jepang. Memang sih, kita bisa belajar bahasa Inggris. Tapi sayang bahasa Inggris hanya bisa kita lakukan dilingkungan kampus. Selain itu, saya juga harus senantiasa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris karena bahasa Inggris inilah satu-satunya alat komunikasi di sini.

4. Duta Indonesia

Disadari atau tidak, saya sendiri sering mempromosikan indonesia ke teman-teman lab atau teman-teman kuliah. Kadang sebagian dari mereka kaget dengan Indonesia (kaget mendengar faktanya).

5. Naik kereta api (karena ada yang sadar, jadi saya betulkan kembali)

Hampir setiap hari saya selalu naik kereta api disini. Kurang lebih 2 jam saya habiskan waktu saya di kereta setiap hari. Tentu, ini potensi waktu yang harus dimanfaatkan.

6. Belanja Bahan Makanan dan Masak

Hampir setiap 2 minggu sekali saya pergi ke supermarket untuk membeli keperluan dapur. Dan hampir setiap hari saya memasak untuk memenuhi kebutuhan makan saya. Karena memang harus masak, saya pun mulai mencoba berkreasi yang macam-macam. Haha. Sejauh ini saya lebih mencoba-coba ketika memasak dibandingkan dengan mencari tahu resep masakan.

7. Panjang hari yang berubah dan Waktu sholat yang dinamis

Waktu sholat disini cukup dinamis. Dan panjang hari juga semakin pendek (sekarang masuk musim dingin) -> cocok buat puasa (Matahari muncul jam setengah tujuh pagi dan Maghrib jam Setengah Lima sore).

Sip, sekian tulisan ringkas saya. Saya hanya ingin berbagi cerita. Terima kasih telah membaca. 🙂 Intinya mari lebih giat, lebih tekun, dan lebih rajin!

Minggu Terakhir di Bandung

Ternyata sudah 5 tahun saya tinggal di Bandung dan 12 September menjadi hari terakhir saya di kota ini. Entah kapan lagi saya bisa berkunjung kesana. Ada banyak sekali kenangan di Bandung yang tidak mudah dilupakan. Tapi ya, saya tahu kalau saya suatu saat akan meninggalkan kota ini.

Kalau teman saya menuliskan daftar rencana yang akan dilakukan di hari terakhirnya di Bandung, saya akan menuliskan kegiatan saya.

Saya akan mulai dengan hari terakhir saya dengan teman saya.

Selasa, 3 September

Hari itu masih pagi, kami berpisah, saya harus ke jakarta, dan teman saya harus ke Bogor. Itu adalah hari terakhir bagi kami. Semoga tahun depan kita bisa bertemu kembali. Setelah menyelesaikan urusan saya di Jakarta, saya langsung pulang balik ke Bandung. Karena sudah malam, aktivitas hari itu saya akhiri.

Rabu, 4 September s.d. 5 September

Karena masih lumayan capek dari Jakarta, hari itu saya manfaatkan untuk ke bersih-bersih kosan. Maklum, kosan sudah seperti kapal pecah. Rabu siang saya ke LPIK. Sore hari tanggal 4 September saya mampir ke pasar baru untuk lihat-lihat koper. Dapat referensi banyak, tapi sayang Ibu penjual koper yang ditemui pertama kali kesini tutup. Alhasil, saya mengurungkan niat untuk membeli koper hari itu.

Jumat, 6 September

Selepas jumatan saya pergi ke LPIK. Saat ashar, saya lari ke Salman, kemudian saya ke A*e ******* untuk membeli space maker dan lihat-lihat koper. Sayang mahal, nanti saja deh. Jumat malam, saya dan teman-teman sandang ada acara di salah satu Cafe di Bandung. Intinya sih, kami disediakan tempat untuk menampilkan apa yang telah kami lakukan.  Pulang sudah cukup malam, tapi karena ada perlu di Plesiran, Jadilah saya ke Plesiran.

Sabtu, 7 September

Saya pergi ke pasar Baru. Saya putuskan membeli koper. Koper 29 Inchi dengan harga yang lumayang miring dibandingkan di A*e. Ternyata kopernya tidak seberat yang saya pikirkan. Sampai dikosan, saya langsung menyiapkan perjalanan ke Subang. Singkat cerita, saya punya bu lik di Subang. Tapi selama 5 tahun di Bandung saya belum pernah main kesana. Hari itu, saya mau tidak mau harus main karena entah kapan lagi saya bisa main kesana.

Hari sudah menjelang malam ternyata (Jam 5 sore). Saya ke Subang dengan menggunakan Elf sederet 5 (Istilah saya: karena tiap deret harus berisi 5 orang, entah di kusi dekat supir, ataupun kursi depan pintu. Kalau deretannya belum lengkap 5, Elf tidak mau berangkat). Ibu yang duduk di sebelah saya pernah bercerita, kalau penumpang sering iuran bersama untuk membayar kursi yang kosong supaya Elf mau berangkat. Wow..

Elf berangkat setengah jam kemudian. Rute perjalanan: Ledeng-Lembang-Tangkuban Perahu-Ciater-<Jalan Cagak>-dan Subang. Pukul setengah delapan saya sampai di Subang. Ringkasnya, saya sampai dan pulang kembali ke Bandung hari Ahad sorenya.

Ahad, 8 September

Pulang dari Subang, saya putuskan untuk langsung mengunjungi bu Lik saya yang ada di Ciwaruga (tanggung sudah lewat ledeng). Maghrib saya sampe di tempat bu Lik saya. Yey!

Senin, 9 September

Sarapan bubur di Se**u rame dan malamnya makan ramen di *amen ***se.

Selasa, 10 September

Saya harus kembali ke Jakarta, untungnya saya tidak perlu berangkat pagi. Malam sampai di Bandung.

Rabu, 11 September

Saya berfikir hari ini Sandy sidang. Jadi saya ke kampus tapi ternyata belum. Fail… Maafkan saya, tapi selamat Wisuda (S.T.)*

Kamis, 12 September (Eh, hari ini ternyata hari habisnya kontrak kosan).

Pagi hari saya ke Ibu Laundry untuk pamitan. Setelah itu, saya mampir ke toko kopi yang di Jalan Banceuy. Ketemu Ipin, dkk di Kampus. Beli wayang golek di Saung Udjo. Tentu tidak lupa pamitan dengan Ibu Ayu.

Jam 6 saya masih melakukan final packing dibantu pak Lik di kosan. Pamitan dengan Ibu kos. Cukup singkat dan mengharukan. Walaupun cuma 2 tahun tinggal disana tapi ada banyak kenangan. 🙂

Malam jam 7.30-an saya berangkat pulang ke Gombong.

Sungguh minggu yang melelahkan, mengharukan, menyedihkan tapi diri saya semakin excited.

Terima Kasih semuanya. Semoga Allah melancarkan urusan kita semua.

*) dalam proses revisi.

PKL, Masyarakat, dan Pemerintah, Jadi Siapa?

Belum lama ini sekitar bulan Januari, PKL di sekitar gerbang belakang ITB di razia oleh pemerintah. Sedikit banyak saya mengikuti berita terbaru berkaitan hal tersebut. Posisi mahasiswa memang cukup rumit. Karena tidak mungkin melakukan pembenaraan terhadap PKL, dan tidak bisa melarang pemerintah pula untuk tidak melakukan razia. Hanya sedikit memberikan gambaran, sekarang kios-kios telah berdiri kembali, terlihat cantik berjajar di tepi jalan. Mungkin tak lama lagi,  orang pun akan sedikit demi sedikit lupa akan persoalan tersebut.

Tanpa sengaja, tiba-tiba sore ini saya kepikiran masalah PKL. Saya pun kembali bertanya, memang sepenuhnya PKL itu salah? Kemudian saya pun penasaran, sejak kapan sebenarnya PKL tersebut ada di sana? Apa yang terjadi jika PKL tersebut ditertibkan pada waktu itu (1/2 hari setelah ada di sana). Atau apa yang terjadi jika saat itu kita enggan untuk membelinya? Yup, mungkin orang-orang yang berjualan di sana sekarang sudah memiliki profesi lain. Bisa jadi nasibnya lebih baik dari sekarang atau bahkan selanjutnya. Sayangnya kita tidak mungkin kembali ke masa lalu dan melakukan hal itu.

Tapi mungkin itulah salah satu contoh persoalan yang tidak kunjung diselesaikan atau dicari solusinya. Lama-kelamaan akan semakin membesar dan semakin kompleks. Karena mungkin akan berbeda cerita, ketika pemerintah menertibkan PKL di awal-awal keberdaanya. Kondisi sekarang ini, PKL sudah menjadi zona nyaman para pelakunya dan banyak yang menggantungkan hidupnya di sana. Sehingga saat terjadi penertiban, pemerintah seolah-olah merampas hidup orang-orang tersebut.

Di sisi lain, kita yang menjadi pelangganya, kita menerima manfaat yang tidak sedikit dari keberadaan PKL tersebut. Kita bisa memenuhi kebutuhan perut dan kebutuhan lainnya dengan mudah, tidak perlu mencari ketempat yang jauh. Tapi kita juga sadar bahwa keberadaan mereka di sana sebenarnya menyalahi aturan yang ada. Dan seolah-olah kita lupa akan hal tersebut dan cenderung kita membiarkannya, termasuk diri saya sendiri (rasanya).

Pada akhirnya, PKL tidak sepenuhnya salah ketika usahanya menempati wilayah tersebut, karena banyak pihak yang membairkannya. Masyarakat juga tidak sepenuhnya benar, karena secara langsung menerima manfaat keberadaanya, dan di sisi lain, pemerintah juga tidak dapat dikatakan benar dengan melakukan penertiban beberapa kali saja dan membiarkan persoalan tersebut berulang. Jadi siapa?

Duit-Duit Parkir Ilegal

Pernah kepikiran berapa pemasukan kota Bandung dari duit parkir? Katanya setiap tahun kota Bandung panen duit sekitar 8 miliar dari urusan parkir ini (cek disini yak: tribun). Banyak kan? Eh, saya sendiri baru tahu kalau gedung itu ada yang namanya IPTP (Izin Pengelolaan Tempat Parkir). Gedung yang nggak punya izin beginian kabarnya duit parkirnya nggak bisa diberikan ke pemerintah.  Di sini katanya kota Bandung rugi sekitar 89 jeti tiap bulan gara-gara parkir lho.

Di Bandung, tempat parkir sudah menjadi salah satu masalah yang mulai akut. Gimana nggak mulai akut, wong kalau bikin tempat usaha jarang ada yang mikirin nanti tempat parkir pengunjungganya gimana? Di ITB sendiri, keknya urusan tempat parkir udah berkali-kali disinggung.

Sedikit iseng-iseng tentang parkir, ternyata penentuan tarif parkir ditentukan berdasarkan beberapa kriteria yaitu: lama parkir di tempat tertentu, jenis kendaraan, frekuensi, dan biaya operasional. Di bagian khusus perda tentang parkir untuk kota Bandung ternyata tarifnya (sepeda motor) adalah 500 untuk 2 jam dan 500 setiap 1 jam berikutnya (baik tepi jalan umum ataupun lokasi khusus). Kalau mau langganan katanya sih hanya 15 rebu /bulan (lihat aturannya di sini). Tempat parkir kalau itu resmi dan agak mahal dikit sih nggak masalah karena toh uangnya akan masuk ke kas negara juga (yang semoga aja uangnya nanti nggak ikut dikorupsi).

Nah, yang jadi persoalan adalah parkir ilegal ini. Kelakuan parkir ilegal pun bermacam-macam. Dan yang paling mengherankan sebenarnya siapa sih yang menugaskan orang tersebut untuk menata parkir disitu? Baiklah, memang mau tidak mau, kadang kala keberadaanya sangat membantu, terutama dalam hal menata kendaraan, membantu proses parkir, dan menjaga (walaupun saya tidak tahu, kalau ada kehilangan nanti ikut tanggung jawab nggak ya?). Tapi kadang ada pula yang keberadaanya sama sekali tidak membantu. Sewaktu datang suasana tampak sepi (seperti tidak ada tukang parkirnya), tapi seketika hendak meninggalkan tempat, juru parkir dadakan pun muncul. Dengan cekatan biasanya akan menyentuh ujung jok belakang sepeda motor. Tapi kalau sudah nggak kena, ya pura-pura bantuin pengendara ke jalan raya (padahal nggak nyeberang jalang sama sekali). Dan akhirnya mau nggak mau pengendara pun memberikan uang ke tukang parkir tersebut.

Apapun itu, persoalan parkir ini rasanya perlu ditertibkan. Kalau merujuk data dari kompas:

Berdasarkan informasi dari Dishub, lanjutnya, di Kota Bandung terdapat 227 titik parkir. Namun, juru parkir yang ada terlalu banyak, yaitu sekitar 1.800 orang. Tidak semua juru parkir itu resmi petugas dari Dishub.

Tampaknya lebih banyak juru parkir ilegalnya dibandingkan dengan yang legal.

Hmm, tapi setelah dipikir-pikir, adanya suatu tempat usaha/kerumunan yang lupa memikirkan lokasi parkir, ternyata memiliki andil yang cukup besar terhadap pertumbuhan lokasi parkir ilegal.

Katanya Kaum Intelektual

Saya hanya akan menyinggung salah satu bagian dari kelompok intelektual sebut saja mahasiswa. Kenapa dengan mahasiswa? Akhir-akhir ini, saya sering melihat segerombolan sekelompok mahasiswa yang berdiri di trotroar tengah jalan untuk mengamen. Hmm, mahasiswa kok ya ngamen, katanya mengaku bagian kaum intelektual kok ya, nggak intelek. Kurang lebih itu komentar saya dalam hati. Ada yang salah, saya mohon maaf, dan silakan berikan saya masukan.

Sangat disayangkan memang jikalau ada mahasiswa yang mengamen. Mahasiswa, tapi tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Memang ada yang bilang, kalau jadi mahasiswa semua wajar, dan salah juga wajar. Tapi tentu hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk mengamen. Entah apapun keperluan uang mengamen tersebut dan segudang alasan yang melatarbelakanginya. Tapi intinya tetap, mahasiswa tak sepantasnya mengamen untuk mendapatkan hal tersebut. Baik itu untuk kegiatan sosial ataupun untuk kegiatan lainnya. Menurut pendapat saya pribadi, seorang mahasiswa yang mengamen itu, sama saja dengan merendahkan dirinya (maaf kalau kasar).

Seorang mahasiswa harusnya bersyukur karena bisa mendapatkan fasilitas pendidikan yang lebih. Ada jutaan pemuda di Indonesia yang karena keterbatasannya tidak bisa mengakses pendidikan di Perguruan Tinggi. Belum lagi, ada berapa anggaran negara yang dialokasikan untuk perguruan tinggi (walaupun mungkin masih banyak anggaran negara yang dikorupsi :p). Dan kalau mahasiswa mengamen itu, mungkin lebih buruk dari pada yang dilakukan oleh pengamen biasa. Dan pertujukannya pun, tidak lebih bagus dari pengamen aslinya. Malah kadang justru lebih minimalis (suara minimalis dan alat musik minimalis). Tampaknya, kalau disuruh mengamen sendiri-sendiri, belum tentu mereka mau. Karena itu, kalau mengamen pasti bergerombol. Itulah fenomena yang kerap ditemui di Kota Bandung, yah saya berharap tidak terjadi di kota lain.

Ah, lupa, kenapa saya sebut tidak intelek, ya karena cara yang dipilih adalah mengamen. Benarkah sudah tidak ada jalan lain selain itu? Hmm, mbok ya o, kalau jadi mahasiswa kita bisa main cantik (meminjam istilah “main cantik” dari Pak Chairil). Padahal mungkin, kalau mereka diminta mengeluarkan HP, minal sepertinya yang akan keluar beberapa smartphone atau blackberry. Kalau saya pribadi, mungkin lebih enak nge-danus jualan HP atau baju bekas. Hahaha, dan rasanya itu lebih main cantik lho :p. Kalaupun dana tersebut untuk kegiatan sosial, rasanya nggak banget, mosok dana sosial hasil ngamen. Lebih parah lagi kalau dana tersebut digunakan untuk keperluan makrab. Arghhhh, tolong dong! Lagi-lagi untuk keperluan perut.

Mari kita gunakan pikiran dan otak kita ketika ingin mencapai sesuatu!

Begitulah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. 🙂

Weekly Photo Challenge: Close ~ Last Part

Here is the last part of the weekly photo challenge. This is the first time I post twice for weekly photo challenge. Oh, seems I am fired now, may be.

Actually, I want to make only one post for this, but I will too many photos there. So I tried to separated. I don’t have any idea how I separated it. Just random picking the pictures.

Here is the second part or the last part.

Two weeks ago, I went back home. My home is located in county, but not too far from nearest city. There, we could find many rice fields since near all most people there are farmers, include my main family.

Not far from my house, there are railway. I and my friends used to play there when little, especially when fast day, every morning all people together gather there. Meeting other friend from other village, what a nostalgic! Actually, we know, playing there was dangerous. But, we love to be there!

We love great people inside the train by waving our hands!

Let’s look closely to the railway.

Baca lebih lanjut