Idiom

Masih terkait dengan bahasan peribahasa pada terbitan sebelumnya, kali ini saya hendak membahas Idiom. Berdasarkan KBBI idiom itu bermakna:

n Ling 1 konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya, misalnya kambing hitam dalam kalimat dalam peristiwa itu hansip menjadi kambing hitam, padahal mereka tidak tahu apa-apa; 2 ark bahasa dan dialek yang khas menandai suatu bangsa, suku, kelompok, dan lain-lain.

Idiom yang saya maksud adalah seperti pada pengertian yang pertama. Pada pengertian pertama, diberikan sebuah contoh yaitu kambing hitam. Dalam konteks tersebut, makna kambing hitam tidak bisa dijelaskan dengan kata kambing dan hitam, karena arti sebenarnya dari idiom itu adalah orang yang tidak tahu apa-apa atau tidak bersalah tetapi disalahkan. Sangat jelas sekali tidak ada kaitannya dengan kambing yang berwarna hitam. Contoh lainnya seperti mungkin yang pernah dibahas oleh kawan saya yaitu negeri antah berantah.

Lalu, hal lain yang menarik dari idiom adalah ada beberapa idiom yang sama meskipun bahasanya berbeda (hampir diterjemahkan kata per kata). Misalnya ketika orang yang pura-pura bersimpati (menangis segala) biasa kita ungkapkan dengan air mata buaya. Orang inggris pun ternyata memiliki idiom yang sama untuk hal tersebut yaitu crocodile tears. Contoh berikutnya yaitu jalan tikus untuk mengungkapkan jalan pintas. Orang inggris pun menggunakan istilah yang mirip yaitu rat running. Mungkin ada puluhan contoh lainnya. Saya sendiri tidak tahu bagaimana fenomena ini terjadi, mungkin ahli bahasa lebih paham.

Nah, ternyata di ranah Natural Language Processing (NLP), ada beberapa ilmuwan yang mencoba untuk menjelaskan dan memformulasikan fenomena ini. Secara umum, task-nya mirip dengan disambiguation taksnamanya multiword expression (MW)

Pada intinya ada suatu ekspresi dalam suatu kalimat (konteks), apa makna yang tepat untuk ekspresi tersebut. Misalnya: “I ate an apple in the Apple Store when I bought MacBook”. Tuh, apple dan Apple beda maknanya kan? Jadi ketika komputer ditanya apple harus jawab buah apple sedangkan untuk Apple harus jawab tokonya si perusahaan Apple yang buat MacBook.

Bedanya dimana? MW itu lebih kompleks karena lebih dari satu kata dan arti masing-masing kata tidak ada kaitannya dengan maknanya.

Iklan

Plagiarisme

Seiring berkembangnya Internet, semakin banyak jumlah konten yang dapat diakses. Akan tetapi kondisi ini kadang disalahgunakan oleh sebagian orang, misalnya saja plagiarisme. Kasus plagiarisme sendiri sempat menghebohkan Indonesia beberapa kali. Dan perlu diketahui pula, beberapa negara lain juga sempat dibuat heboh dengan kasus tersebut, Jerman misalnya.
Jadi apa sih plagiarisme itu? Karena plagiarisme sendiri adalah serapan dari bahasa Inggris (aslinya plagiarism), saya menggunakan definisi plagiarisme dari kamus bahasa Inggris yaitu plagiarism is “the practice of taking someone else’s work or ideas and passing them off as one’s own”. Berdasarkan definisi tersebut, plagiarisme itu memiliki dua kriteria yang harus dipenuhi yaitu:
  1. mengambil karya/ide orang lain
  2. mengklaim karya/ide tersebut sebagai karya/idenya.
Karya dalam hal ini dapat berarti luas, bisa itu tulisan, gambar, desain, atau yang lain. Selain itu, tidak ada pengkhususan bahwa plagiarisme itu hanya terjadi di lingkungan akademik saja.
Meskipun sekilas definisi plagiarisme di atas itu cukup jelas, pada kenyataanya menentukan apakah suatu karya itu adalah hasil dari plagiarisme atau bukan itu tidak mudah. Pada artikel ini, saya akan berusaha mendiskusikan beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya menentukan apakah suatu karya itu hasil dari plagiarisme atau bukan. Supaya lebih mudah, saya mengambil contoh kasus plagiarisme pada teks/tulisan. Oke, berikut ini faktor-faktornya:
  1. Level derajat kesamaan
Cara yang umum untuk menentukan apakah sebuah tulisan itu adalah hasil plagiarisme atau bukan, ya dengan membandingkan tulisan tersebut dengan yang lain. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar persamaan suatu tulisan dengan tulisan yang lain agar tulisan tersebut dapat dikatan sebagai hasil dari plagiarisme. Apakah 1 kalimat? 2 kalimat? 1 paragraf? atau 80% katanya sama?
Catatan candaan: untuk plagiarisme pada tulisan, kita mungkin saja membatasi ide itu unitnya adalah 1 kata. Jadi ketika kita menulis, tulisan kita bisa jadi disebut hasil plagiarisme ketika menggunakan kata-kata yang sudah ada (sudah digunakan oleh orang terdahulu). Oleh sebab itu, supaya tulisan kita orisinal, ya kita harus menciptakan kata baru. Hahaha
  1. Common knowledge (pengetahuan umum?)
Dalam suatu kelompok, tentu ada hal-hal/pengetahuan yang bersifat umum dan diketahui hampir oleh seluruh anggota kelompok tersebut. Pada prakteknya, pengetahuan tersebut ketika digunakan kembali tidak termasuk dalam plagiarisme. Misalnya, ketika dua orang menuliskan fakta: “matahari terbit dari arah timur”, salah satu dari mereka tidak dapat dikatakan sebagai plagiat. Hal ini karena, hampir semua orang paham bahwa mahari tersebit itu dari arah timur. Lalu apa masalahnya? pengetahuan ini sifatnya relatif antar komunitas dan sulit mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan yang masuk dalam kategori ini.
  1. Aturan main

Aturan main di sini adalah lebih ke teknis penulisan. Apakah tulisan tersebut sesuai format atau tidak. Bisa saja seorang penulis menyebutkan sumber dari informasi yang digunakannya kembali, tetapi ketika penulis tersebut salah format, misalnya harusnya berupa kutipan tetapi tidak dikutip, jika ini terjadi di lingkungan akademik dalam publikasi ilmiah, tulisannya tersebut bisa saja disebut sebagai hasil dari plagiarisme.

Dari ketiga faktor tersebut, faktor nomor 1 dan 2 adalah yang cukup abu-abu alias sulit ditentukan batasnya. Hal ini lah yang membuat penentuan apakah suatu karya hasil dari plagiat atau bukan itu sulit. Oleh karena itu, pada umumnya para ahli lah yang akan menentukan keputusan tersebut, meskipun telah ada banyak perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menghitung kesamaan suatu tulisan.
Waaaah. Ngantuk ternyata. Mungkin dilain waktu saya coba terangkan lebih detil faktor tersebut dan mungkin hal penting lain plagiarisme juga.

Peribahasa

Bahasa merupakan media yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dengan satu sama lain. Dalam menggunakan bahasa, ada kalanya menggunakan ungkapan yang rumit, seperti peribahasa. Menurut saya, ada banyak hal yang melatarbelakangi manusia menggunakan peribahasa, misalnya untuk memperhalus, atau menambahkan nilai keindahan.

Berdasarkan KBBI, peribahasa dapat diartikan sebagai:

1. kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan);

2. ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku

Hal itu berarti, peribahasa adalah ungkapan yang memiliki susunan tetap yang memiliki kesamaan makna dengan maksud tertentu. Mungkin singkatnya begini, suatu ungkapan memiliki makna “A”. Lalu manusia hendak mengungkapkan maksud “B”. Ketika manusia menggunakan ungkapan tersebut untuk mengungkapkan B, karena A dan B itu mirip, maka A adalah peribahasa. Dengan kata lain, peribahasa umumnya adalah metafora. Oleh karena, menurut saya, peribahasa dapat dibilang sebagai “bahasa yang dikodekan”. Mungkin konstruksi dalam otak manusia seperti ini: “makna” -> ungkapan harfiah -> peribahasa.

Karena peribahasa ini merupakan bahasa yang dikodekan, ketika manusia menggunakannya, ada resiko maknanya tidak tersampaikan secara utuh. Hal ini disebabkan penerima pesan tidak dapat menerjemahkannya.

Selain itu, peribahasa umumnya melibatkan benda/konsep yang ada di sekitar manusia. Oleh sebab itu, peribahasa dapat dikatakan umumnya lokal pada komunitas tertentu. Itu artinya, untuk mengungkapkan satu makna, dua komunitas yang berbeda dapat menggunakan peribahasa yang berbada. Sehingga, ketika dua komunitas ini berkomunikasi dengan peribahasa masing-masing, terdapat resiko untuk tidak saling memahami satu sama lain.

Sebagai contoh, suatu hari saya bercakap-cakap dengan teman dari asia tengah. Waktu itu kami membicarakan hal “mengerjakan pekerjaan sekali, mendapatkan beberapa hasil sekaligus”. Teman saya yang berasal dari asia tengah menanyakan, adakah ungkapan untuk maksud tersebut di Indonesia? Saya pun menjawab ada, dan ternyata begitu pula dengan di negaranya. Hanya saja, peribahasanya berbeda.

Di negara teman saya tersebut menggunakan peribahasa “membunuh dua kelinci dengan satu panah”. Sedangkan di Indonesia, saya mengatakan “sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui”. Berdasarkan peribahasa ini, kita bisa pahami jika di asia tengah yang notabene zaman dulu penduduk di sana berburu dan non-maden, sangat kental menggunakan istilah berburu dalam peribahasanya. Sedangkan di Indonesia, yang merupakan negara kepulauan, menggunakan istilah yang terkait dengan pulau. Kalau tidak percaya, kita ambil peribahasa yang sepadan yakni “sambil menyelam minum air”.

Jadi apa pelajarannya, dengan bertanya peribahasa di suatu daerah, bisa jadi kita bisa mengetahui kebiasaan masyarakat penduduk di daerah tersebut. Lalu, kira-kira kenapa yah, di bahasa Inggris peribahasa yang sepadan yaitu “membunuh dua burung dengan satu batu?”. Mungkinkah orang Inggris zaman dulu hobi berburu (mengketapel) burung?

 

Kamera – CCTV

Saat ini kamera telah menjadi bagian dari kehidupan manusia karena digunakan untuk mengabadikan peristiwa yang dialami manusia. Saat jalan-jalan, makan, wawancara, wisuda, atau peristiwa penting lainnya, para kamera akan sibuk dipencet-pencet oleh manusia. Sang manusia berharap untuk mengambadikan momen sebanyak-banyak, hingga membuatnya kebingungan setelahnya ketika memilah momen mana yang harus digunakan.

Seiring dengan bertambahnya kebutuhan manusia, kamera pun mulai beranak-pinak sesuai dengan spesialisasi masing-masing. Ada kamera yang bisa dipakai dalam air, kamera segede dadu, kamera segede gaban, dan tak ketinggalan kamera yang digunakan untuk merekam gerak-gerik manusia (kamera pengawas) atau sering dikenal sebagai CCTV.

CCTV sering kita temua di tempat-tempat umum seperti pusat perbelanjaan, toko-toko, bandara, stasiun, terminal, dsb. Orang memasang CCTV dengan berbagai macam tujuan, akan tetapi pada intinya adalah untuk pengawasan. Ada karakteristik yang menarik dari semua tempat yang dipasangi CCTV, yaitu selalu ada tanda yang mewanti-wanti kalau ada kamera CCTV yang terpasang, misalnya “Perhatian, CCTV beroperasi 24 jam”. Saya sendiri pun penasaran dengan alasan pemasangan tulisan tersebut.

Setelah mencoba mencari tahu, saya kira “mungkin” ada tiga hal yang ingin dicapai dari pemasangan tersebut, yaitu:

  1. Pencegahan kejadian yang tidak diharapkan: intinya dengan orang mengetahui jikalau CCTV terpasang, orang yang hendak berbuat jahat akan mengurungkan niatnya tersebut. Ini merupakan solusi yang win-win mungkin yah.
  2. Pemberitahuan kepada orang bahwa CCTV merekamnya: setiap orang tentu punya hak untuk tahu jika akan ada atau ada CCTV yang merekamnya (semacam izin atau pemberitahuan).
  3. Bukti/pentunjuk ketika kejahatan terjadi: dengan direkamnya segala kejadian yang terjadi, ketika tindak kejahatan terjadi, rekaman CCTV dapat menjadi pentunjuk dan rekamannya pun dapat digunakan sebagai barang bukti.

Alasan kemungkinan kedua ini sebenarnya masih membingungkan bagi saya, karena ketidakkonsistenan dalam pemasangan tanda CCTV dan CCTV itu sendiri. Kadang tanda CCTV tersebut dipasang sebelum CCTV itu merekam, tapi tak jarang pula kita mendapati CCTV telah merekam kita ketika kita membaca tanda tersebut. Untuk gambaran, bisa dilihat ilustrasi di bawah berikut ini. Sorry kalau gambarnya jelek. meh :/

IMG_2157

Ada bedanya kah membaca sebelum dan membaca ketika sudah terekam CCTV? Tentu ada. Kurang lebih begini:

  1. Warning: ini istilah yang saya pakai untuk situasi ketika kita membaca CCTV sebelum direkam oleh CCTV. Dalam situasi ini, kita masih bisa menolak untuk direkam oleh CCTV, dengan cara tidak memasuki ruangan yang berkamera tersebut. Itu berarti kita masih memiliki hak pribadi untuk tidak direkam oleh CCTV.
  2. Notification: ini berarti kita mendapatkan pemberitahuan setelah CCTV sedang merekam kita. Ini berati kita tidak punya pilihan untuk menolak supaya tidak direkam, dan kita cukup tahu saja kalau kita sedang direkam oleh CCTV.

Beda kan?

Selain itu, saya juga masih penasaran dengan kemanjuran dari CCTV untuk mengurangi tindak kejahatan. Benarkah begitu? Memang telah ada riset yang dilakukan untuk menjawab hal ini, misalnya Priks et al, menyimpulkan kalau 25% tindak kejahatan menurun pada stasiun-stasiun di pusat kota Stockholm. Akan tetapi, kita tidak tahu pada tempat lainnya bukan? Selain itu, haruskah kita memasang CCTV pada semua tempat? Tentunya, tempat yang rawan tindak kejahatan dan yang tidak, akan memiliki pola yang berbeda ketika dipasangi CCTV. Dengan mengetahui informasi tersebut, kita bisa menentukan tempat seperti apa yang harus dipasang CCTV.

Terakhir, apakah Indonesia memiliki aturan terkait dengan pemasangan CCTV? Saya sendiri tidak tahu akan hal ini. Mungkin sebagian orang akan berpikir, untuk apa aturan tersebut? CCTV mungkin memiliki banyak manfaatnya, tetapi bukan berarti orang bebas melakukannya karena keberadaan CCTV tersebut bisa jadi menganggu hak orang lain atau bahkan disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Misalnya saja CCTV digunakan untuk merekam yang tidak sebagaimana mestinya, seperti wilayah orang lain ikut terekam oleh kamera CCTV orang lain? Situasi ini seperti mengawasi wilayah orang lain, lalu bagaimana ketika pemilik wilayah tersebut tidak ingin ada CCTV yang merekam. Atau rekaman CCTV tersebut disalahgunakan untuk kepentingan yang tidak semestinya. Oleh karena itu, aturan ini dibutuhkan untuk melindungi semua pihak. Ada yang tahu hal ini?  

Bersabar Dalam Menerima Informasi

Hidup di era digital seperti sekarang ini mengesankan jarak secara fisik bukan merupakan suatu persoalan. Informasi dari ujung dunia manapun dapat segera kita peroleh dengan mudahnya, misalnya orang yang tinggal di Indonesia dapat segera tahu dalam hitungan detik bencana tsunami yang terjadi di Sendai, Jepang. Akan tetapi, agaknya arus informasi yang semakin deras ini membuat orang semakin mudah menyebarkan informasi tersebut. Padahal, kebenaran informasi tersebut belum lah benar adanya.

Menyebarkan informasi yang benar memang lah bermanfaat, terlebih ketika berita tersebut secara tepat diterima oleh orang yang membutuhkan. Tetapi, saat informasi yang disebarkan itu tidak benar, justru akan merugikan orang yang menjadi objek informasi itu.

Menurut saya, ada dua hal yang memotivasi orang untuk langsung menyebarkan informasi dengan cepat. Alasan pertama adalah orang yang menyebarkan merasa bahwa informasi tersebut sangat penting sehingga semakin banyak orang yang tahu, akan semakin baik. Kedua, ketika orang menyebarkan informasi baru secara cepat, akan menimbulkan citra bahwa sang penyebar tersebut lebih tahu dibanding orang sekitarnya, ibarat seorang ilmuan yang menemukan suatu penemuan baru, eureka!

Lalu, bagaimana kah sikap kita seharusnya supaya kita dapat menyebarkan informasi yang benar dan cepat?

Pertama, coba kita evaluasi, menilai kebenaran informasi tersebut dahulu, atau menyebarkan dahulu. Pasti nalar kita akan menjawab, menilai kebenenaran terlebih dahulu, baru menyebarkan. Itu artinya kebenaran suatu informasi itu adalah hal yang paling utama, baru setelah itu penyebarannya. Bagi orang yang beragama islam, tempatkan diri anda seperti seorang imam dalam menerima informasi (baca: hadis). Ideanya karena anda seorang imam, maka anda akan mengecek kebenaran informasinya dengan mengecek rawinya (periwayatnya). Ketika informasi tersebut benar, baru lah anda mendakwahkannya.

Kedua, kita harus selalu mengingat efek buruk dari penyebaran informasi yang tidak benar ini. Selain merugikan orang yang menjadi sasaran informasi yang salah ini, anda juga turut membantu orang yang membuat informasi ini. Itu artinya anda menjadi orang yang dimanfaatkan oleh orang lain, apesnya lagi dimanfaatkan untuk melakukan hal yang kurang baik, ditambah lagi anda melakukan sendiri secara suka rela. Terakhir, citra anda pun bisa ikut tercoreng ketika anda menyebarkan informasi yang salah, karena orang pun akan berasumsi bahwa informasi yang anda miliki itu kebanyakan salah. Oleh karena itu, pada dasar intinya, ketika ada menyebarkan berita yang salah, anda juga akan terkena imbasnya, meskipun anda meminta maaf di waktu kemudian.

Untuk lebih jelas efek negatif dari menyebarkan informasi yang salah ini, saya coba membandingkan aktivitas ini dengan fenomena “papa minta pulsa” atau saya singkat sebagai PMP. Semua orang pasti familiar dengan PMP ini. PMP dan informasi salah ini sebelas dua belas, mirip! Si pembuat informasi yang salah ini biasanya memiliki tujuan untuk mengambil manfaat dari situasi yang timbul saat sasaran informasi itu terkena imbas informasi tersebut. Seperti juga pembuat PMP, dia juga memiliki tujuan untuk mengeruk uang dari situasi kepanikan yang terjadi saat orang yang jadi sasaranya menerima PMP. Kemudian, posisi kita sendiri berada di tengah-tengah ini. Ketika kita dengan mudahnya menyebarkan informasi yang salah ini ke semua orang, secara langsung, kita seperti membantu dalang PMP ini. Pasti kita semua setuju kalau dalang PMP itu tidak baik, bukan?

Jadi bagaimana kita harus menyikapinya? Kuncinya adalah sabar. Sabar dalam konteks ini adalah menahan diri untuk tidak secara gampang membagikan informasi yang tidak jelas kebenarannya, dan bersabar dalam mengecek kebenaran informasi itu sendiri. Dan ketika kita ragu-ragu akan kebenaran informasi itu, lebih baik kita tidak menyebarkannya. Segenting apapun situasi yang ada dalam bayangan kita saat kita menerima informasi, kita harus bersabar dalam hal ini. Meskipun panik itu manusiawi, kebanyakan panik itu sia-sia dan mengakibatkan kekeruhan suasana.

Berempati, Berlimati, Bertujuhi…

Akhir-akhir ini ada banyak peristiwa besar yang terjadi di negeri kita tercinta, seperti bencana alam, penggusuran, isu toleransi, pembangunan pabrik, dsb. Dari tiap peristiwa tersebut, ada banyak sekali respon yang diberikan oleh orang-orang, terlebih dengan adanya media sosial, respon-respon tersebut mudah didengar di khalayak. Lalu sekarang ini, polarisasi respon-respon tersebut semakin terasa, karena adanya gesekan-gesekan dengan unsur politik. Meskipun gesekan tidak menjadi syarat mutlak polarisasi, tetapi tampaknya situasi ini menjadikan laju polarisasi semakin cepat. Polarisasi yang saya maksud adalah adanya dukungan terhadap kejadian tersebut atau sebaliknya.

Apakah polarisasi ini baik? Menurut saya, tak ada ada yang salah akan hal ini. Orang dijamin kebebasannya untuk berpendapat, bahkan mungkin ini menjadi indikasi yang cukup baik. Hanya saja menurut saya, ada sedikit pertimbangan yang perlu kita perhatikan atau ambil sebelum melemparkan pendapat terkait peristiwa tersebut. Hal ini karena sering kali ada banyak komentar-komentar yang seolah-olah dilontarkan dengan menutup mata dan spontan. Kalau pun harus membuat pendapat dengan menutup mata, maka tak ada salahnya untuk meraba-raba. Tentu, pendapat akan lebih baik kalau dilontarkan setelah membuka mata dan melihat suatu peristiwa dari berbagai macam sudut.

Bagaimana kita meraba-raba? atau apa yang harus kita lihat ketika kita membuka mata? Empati bisa jadi salah satu jawabannya.

Apa itu empati? Berdasarkan kamus kbbi itu berarti “keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain”.

Poin utamanya adalah merasakan apa yang orang rasakan dengan menempatkan diri kita pada posisi orang tersebut. Hal ini berarti, kita melihat apa yang terjadi dari kacamata orang tersebut.

Dengan melakukan hal ini, berarti kita melengkapi pandangan kita tidak hanya dari pandangan kita sendiri. Seringkali apa yang kita lihat dengan mata kita berbeda dengan apa yang mereka lihat. Kondisi ini sebenarnya mirip seperti cerita orang-orang buat yang diminta menjelaskan apa itu gajah. Masing-masing orang akan memegang gajah, akan tetapi bagian yang dipegang itu berbeda-beda tiap orang. Lalu, tiap orang hanya memegang bagiannya itu, tidak meraba bagian yang dipegang oleh orang lain. Setelah itu mereka diminta mendeskripsikan apa itu gajah. Karena tiap orang bertumpu pada bagian yang berbeda, maka gajah pun dideskripsikan macam-macam. Misalnya, gajah itu panjang kecil menurut orang yang memegang ekor, atau gajah itu lebar menurut orang yang memegang telinga, dsb.

Apakah pendapat orang buta tersebut salah? Tentu benar sebab mereka mendeskripsikan bagian-bagian dari gajah, tetapi ketika orang buta tadi tersebut meraba seluruh bagian gajah, pada akhirnya orang tersebut akan bisa tahu deskripsi gajah yang paling mewakili gajah itu, misal: gajah adalah binatang yang memiliki belalai (tentu ada karakteristik lain selain ini).

Akan tetapi, ketika orang buta sudah memegang teguh apa yang dipegang dia dan tidak berusaha menempatkan diri pada posisi orang buta yang lain, bisa jadi orang tersebut melewatkan sesuatu yang lebih utama dibandingkan dengan apa yang ia pengang tersebut. Situasi ini, mungkin akan menjadi semakin parah ketika tiap-tiap orang buta tersebut mengedepankan pendapatnya masing-masing. Maka yang terjadi adalah habis tenaga untuk membela sesuatu yang tidak terlalu utama.

Kembali ke contoh kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Saya cukup sering melihat komentar-komentar yang diutarakan dalam surat kabar online atau media sosial. Kadang kala, ketika membaca komentar ini, sering muncul rasa keheranan dan penasaran. Ambil contoh, ada berita tentang demo warga yang menolak pendirian suatu pabrik yang mungkin keberadaanya kelak menganggu keseimbangan alam. Ada beberapa komentar yang menganggap sinis demo tersebut, dan dengan mudahnya mengatakan kurang lebih: bagaimana mau maju, pabrik aja ditolak, berkorban dong demi kemajuan (paraphrase saya).

Keheranan dan penasaran saya adalah apakah orang yang berkomentar ini telah berusaha memahami apa yang mereka khawatirkan? Berkorban untuk kemajuan, itu berarti berkorban untuk orang yang berkomentar. Apakah orang yang melontarkan komentar tersebut mau berkorban untuk orang yang telah berkorban tersebut? Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi dari komentar tersebut adalah, berkorban dalam konteks ini bisa jadi mengorbankan masa depan orang yang demo tersebut untuk sebuah kemajuan. Bukankah ini adalah hal yang besar dan berat? Lebih-lebih, orang yang berdemo tersebut tidaklah melanggar hukum apapun, salahkah mereka?

Hal ini pula yang saya dapati ketika ada penggusuran di ibukota. Perlukah kita berempati pada orang yang digusur? Saya kira hal ini sangat diperlukan dan rasanya berempati tidak menjadikan seseorang membenarkan akan sesuatu. Ambil contoh, kalau orang tersebut digusur karena ilegal, ya tindakannya tetap salah. Nah, justru dengan berempati membuat kita semakin berhati-hati dalam menyikapi persoalan ini. Dan pada akhirnya kita bisa paham bahwa gajah itu memiliki belalai (ingat cerita di atas). Hanya penasaran di akhir, mungkin kita berbuat yang sama kalau di posisi mereka? Ntah lah…

Bergulir secara alami atau standar?

Apanya sih yang bergulir? Gulir kaya guling-guling yak? Benda yang bergulir yang saya maksud kali ini adalah mouse/tetikus. Bagi yang pernah menggunakan komputer dengan sistem operasi OSX (Lion OS ++) dan Windows/Linux, pasti tahu yang saya maksud.

Menurut sejarahnya (sumber ini), sebelum tahun 2011, cara scrolling/menggulirkan tetikus itu hanya ada satu, yaitu cara standar. Jadi ketika kita menggulirkan roda di tetikus ke bawah, layar pada monitor akan ke bawah. Lalu tahun 2011, Apple mengenalkan cara scrolling yang baru, yaitu apa yang mereka sebut cara alami.

Untuk menggulirkan tetikus dengan cara alami, kita harus menggulirkan roda tetikus ke atas supaya layar dapat bergeser ke bawah. Si Apple nge-les kalau scrolling dengan cara ini akan terasa lebih alami ketika menggunakan layar sentuh. Pada saat menggunakan layar sentuh, yang kita lakukan adalah menggeser “kertas” ke atas untuk membaca bagian yang lebih bawah dari kertas. Coba saja deh! Gara-gara hal ini, semua pesawat dengan OSX menggunakan cara alami.

Situasi seperti yang membuat orang akan merasa kagok setelah menggunakan sistem operasi OSX lalu menggunakan Windows. Prustasi… Oh iya, ada beberapa tetikus yang bisa diatur baik alami atau standar lho. Tapi menurut saya, fitur ini tidak begitu membantu karena touch pad di MacBook masih pakai cara alami.

Saya pribadi nggak begitu peduli mau cara yang mana, walaupun saya lebih memilih cara yang “alami” sesuai dengan alatnya masing-masing. Misalnya, kalau pakai tetikus, ya sesuai dengan alaminya tetikus, begitu pula untuk touch pad, dan touch screen.

Kamu suka cara yang mana?

Jya…