Kutipan

Ketika kita menulis, kita sering menggunakan meminjam ide dari orang lain. Dalam aturan menulis, saat meminjam ide pun ada aturannya. Ini berarti kita tidak bisa menggunakan ide orang lain seenaknya. Umumnya, kita akan meminjam ide orang lain sebagai kutipan. Menurut KBBI, kutipan didefinisikan sebagai:

kutipan/ku·tip·an/ n 1 pungutan; petikan; nukilan; sitat; 2 Ling pengambilalihan satu kalimat atau lebih dari karya tulisan lain untuk tujuan ilustrasi atau memperkokoh argumen dalam tulisan sendiri;

Ketika kita meminjam ide orang lain tanpa izin, dalam hal ini tanpa melalui kutipan, itu bisa masuk sebagai kasus plagiarisme. Lalu apa keuntungannya mengutip? Kurang lebih berikut ini keuntungannya:

  1. Menghargai orang yang memiliki ide tersebut: mengutip berarti memberitahu pembaca dari mana ide itu berasal.
  2. Lepas tanggung jawab dari ide yang dikutip: kita tidak bertanggung jawab terhadap ide yang dikutip, meskipun kevalidan tulisan kita menjadi dipertanyakan ketika ada kutipan yang tidak benar/tidak valid. Misalnya: kita mengutip suatu ide sebagai argumen pendukung ide kita. Ketika ide tersebut tidak benar, hal itu berarti ide kita menjadi dipertanyakan kebenarannya. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam memilih sumber untuk dikutip.
  3. Menunjukkan bahwa kita paham akan topik yang ditulis: ketika kita mengutip dari orang lain, hal itu menandakan bahwa kita telah membaca tulisan orang lain dengan topik yang sama. Karena telah membaca ini, artinya kita bisa dibilang cukup paham.
  4. Bisa tahu letak ide kita terhadap orang lain: karena kita mengutip ide orang lain, ini berarti kita bisa paham posisi ide kita dibandingkan dengan orang lain.

Sekian!

Iklan

Plagiarisme

Seiring berkembangnya Internet, semakin banyak jumlah konten yang dapat diakses. Akan tetapi kondisi ini kadang disalahgunakan oleh sebagian orang, misalnya saja plagiarisme. Kasus plagiarisme sendiri sempat menghebohkan Indonesia beberapa kali. Dan perlu diketahui pula, beberapa negara lain juga sempat dibuat heboh dengan kasus tersebut, Jerman misalnya.
Jadi apa sih plagiarisme itu? Karena plagiarisme sendiri adalah serapan dari bahasa Inggris (aslinya plagiarism), saya menggunakan definisi plagiarisme dari kamus bahasa Inggris yaitu plagiarism is “the practice of taking someone else’s work or ideas and passing them off as one’s own”. Berdasarkan definisi tersebut, plagiarisme itu memiliki dua kriteria yang harus dipenuhi yaitu:
  1. mengambil karya/ide orang lain
  2. mengklaim karya/ide tersebut sebagai karya/idenya.
Karya dalam hal ini dapat berarti luas, bisa itu tulisan, gambar, desain, atau yang lain. Selain itu, tidak ada pengkhususan bahwa plagiarisme itu hanya terjadi di lingkungan akademik saja.
Meskipun sekilas definisi plagiarisme di atas itu cukup jelas, pada kenyataanya menentukan apakah suatu karya itu adalah hasil dari plagiarisme atau bukan itu tidak mudah. Pada artikel ini, saya akan berusaha mendiskusikan beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya menentukan apakah suatu karya itu hasil dari plagiarisme atau bukan. Supaya lebih mudah, saya mengambil contoh kasus plagiarisme pada teks/tulisan. Oke, berikut ini faktor-faktornya:
  1. Level derajat kesamaan
Cara yang umum untuk menentukan apakah sebuah tulisan itu adalah hasil plagiarisme atau bukan, ya dengan membandingkan tulisan tersebut dengan yang lain. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar persamaan suatu tulisan dengan tulisan yang lain agar tulisan tersebut dapat dikatan sebagai hasil dari plagiarisme. Apakah 1 kalimat? 2 kalimat? 1 paragraf? atau 80% katanya sama?
Catatan candaan: untuk plagiarisme pada tulisan, kita mungkin saja membatasi ide itu unitnya adalah 1 kata. Jadi ketika kita menulis, tulisan kita bisa jadi disebut hasil plagiarisme ketika menggunakan kata-kata yang sudah ada (sudah digunakan oleh orang terdahulu). Oleh sebab itu, supaya tulisan kita orisinal, ya kita harus menciptakan kata baru. Hahaha
  1. Common knowledge (pengetahuan umum?)
Dalam suatu kelompok, tentu ada hal-hal/pengetahuan yang bersifat umum dan diketahui hampir oleh seluruh anggota kelompok tersebut. Pada prakteknya, pengetahuan tersebut ketika digunakan kembali tidak termasuk dalam plagiarisme. Misalnya, ketika dua orang menuliskan fakta: “matahari terbit dari arah timur”, salah satu dari mereka tidak dapat dikatakan sebagai plagiat. Hal ini karena, hampir semua orang paham bahwa mahari tersebit itu dari arah timur. Lalu apa masalahnya? pengetahuan ini sifatnya relatif antar komunitas dan sulit mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan yang masuk dalam kategori ini.
  1. Aturan main

Aturan main di sini adalah lebih ke teknis penulisan. Apakah tulisan tersebut sesuai format atau tidak. Bisa saja seorang penulis menyebutkan sumber dari informasi yang digunakannya kembali, tetapi ketika penulis tersebut salah format, misalnya harusnya berupa kutipan tetapi tidak dikutip, jika ini terjadi di lingkungan akademik dalam publikasi ilmiah, tulisannya tersebut bisa saja disebut sebagai hasil dari plagiarisme.

Dari ketiga faktor tersebut, faktor nomor 1 dan 2 adalah yang cukup abu-abu alias sulit ditentukan batasnya. Hal ini lah yang membuat penentuan apakah suatu karya hasil dari plagiat atau bukan itu sulit. Oleh karena itu, pada umumnya para ahli lah yang akan menentukan keputusan tersebut, meskipun telah ada banyak perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menghitung kesamaan suatu tulisan.
Waaaah. Ngantuk ternyata. Mungkin dilain waktu saya coba terangkan lebih detil faktor tersebut dan mungkin hal penting lain plagiarisme juga.

Menanti Aral Penuh Kembali

Laut Aral, pernahkah Anda mendengar laut ini? Betul, laut Aral merupakan sebuah laut yang terletak di tengah padang pasir, layaknya oasis yang sangat luas yang terletak di antara dua negara yaitu Uzbekistan dan Kazakhstan. Menurut saya, Laut Aral adalah salah satu laut yang menarik. Menarik bukan karena terumbu karang atau yang lainnya akan tetapi menarik karena Laut tersebut merupakan dari sedikit laut yang terletak di tengah-tengah daratan. Jikalau kita biasa melihat dataran yang menjadi minoritas di tengah lautan, Laut Aral memiliki kondisi yang sebaliknya. Selain Laut Aral, ada Laut Kaspia yang terletak pula di tengah daratan.

Lokasi Laut Aral

Lokasi Laut Aral (Aljazeera)

Laut Aral merupakan laut yang hingga saat ini mengalami kekeringan karena kekurangan pasokan air. Hampir 90% airnya kini telah menghilang. Dahulu, di sekitar Laut Aral, industri andalannya adalah nelayan, sekitar 60.000 orang bergantung pada industri itu yang berada di kota Muynak, Uzbekistan dan Aralsk, Kazakhstan. Pada tahun 1960, produksi ikan sekitar 45 ribu ton dipanen. Tapi hasil panen ikan terus menurun dari tahun ketahun seiring berkurangnya air di Laut Aral.

AralSea1989 2014.jpg

Laut Aral (Kiri 1960, Kanan 2014) (Wikipedia CC Commons creative)

Aral Sea.gif

“Aral Sea” by NordNordWest – Own work using: NASA images Wikipedia Commons

Sungguh sedih melihat Laut ini mengering. Mengering laut tidak hanya mematikan industri perikanan yang ada tapi juga menimbulkan masalah kesehatan pula karena laut yang dulu berisi air sekarang berisi pasir dengan garam. Akibatnya tidak sedikit penduduk sekitar yang memiliki permasalahan dengan pernafasan.

Pertanyaan berikutnya adalah, apa penyebab bencana dari mengeringnya laut ini? Apakah karena kekeringan atau karena hal lain. Jawabannya adalah manusia sendiri dengan motif ekonominya.

Keberadaan Laut Aral sangat tergantung dari dua buah sungai yaitu Amu Darya dan Syr Darya (darya adalah sungai dari bahasa Turkmen). Sumber air daripada kedua sungai tersebut berasal dari Pegunungan Pamir dan Tien Shan dari gletser yang mencair. Amu Darya terbentang menyeberangi beberapa negara di Asia Tengah sana yaitu Afganistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Sedangkan Syr Darya mulai dari Kyrgyzstan, Uzbekistan, Tajikistan, kemudian mengalir melalui Kazakhstan.

Aral map.png

Amu Darya dan Syr Darya

Ceritanya, pada masa Soviet dulu, sekitar tahun 1960 membangun Kanal Qarakarum. Kanal ini merupakan salah satu kanal utama di Turkmenistan. Sektor pertanian di negara tersebut sangat bergantung pada kanal ini terutama industri kapas. Dengan dibangunnya kanal ini, otomatis mengurangi aliran air yang mengalir di Amu Darya. Dengan mengurangnya pasokan air, secara otomatis mengakibatkan mengeringnya Laut Aral hingga saat ini.

Jika kita lihat sekarang, kedua sungai tersebut merupakan salah satu persoalan politis yang harus diselesaikan secara bersama oleh keenam negara. Kerakusan salah satu negara saja, bisa menjadi bencana bagi negara yang lain. Selain itu, banyak PLTA yang bergantung dari aliran sungai tersebut. Walaupun Soviet saat itu telah tahu dampak dari pembangunan kanal tersebut, tapi mereka tetap membangunnya kala itu. Sungguh pengorbanan yang begitu besar melihat dampak yang terjadi sekarang ini.

Saat ini, Laut Aral telah terbagi menjadi dua bagian, yaitu Laut Aral Utara dan Laut Aral Selatan. Pemerintah Kazakhstan dan PBB saat ini sedang berusaha menghidupkan kembali Laut Aral Utara. Sejauh ini, proyek tersebut berjalan dan menghasilkan hasil yang signifikan ditunjukkan dengan menambahnya air laut dan menurunnya tingkat keasinannya. Selain itu, industri perikanan pun mulai bergairah kembali di sekitar Laut Aral Utara. Usaha ini berhasil karena aliran sungai dari Syr Darya dialirkan khusus ke Laut Aral Utara saja. Untuk menyukseskan usaha tersebut, pemerintah Kazakhstan telah membangun sebuah bendungan yang memisahkan kedua laut tersebut.

Oh iya, isunya, eksplorasi minyak bumi pun akan dilaksanakan di daerah tersebut karena kabarnya terdapat cadangan minyak di daerah tersebut. Kabar tersebut terdengar dari Uzbekistan. Sekitar 500 ribu gas alam berhasil diambil. (Lihat: Aral Sea Gas)

Hingga saat ini, Uzbekistan belum terlihat tertarik untuk menambahkan air pada aliran sungai Amu Darya (Lihat: Uzbekistan dan Laut Aral). Semoga saja, di masa mendatang, keinginan tersebut muncul meskipun ada kabar terkait pengaliran air dari sungai lain yaitu Sungai Volga, Ob, dan Irtysh (sebelumnya sungai ini tidak mengalir sedikit pun ke Laut Aral). Meskipun terlihat mustahil untuk kembali ke kondisi awal, semoga saja suatu saat itu terjadi.

Entahlah, saya hanya berdoa, semoga Laut Aral Selatan dapat diselamatkan kembali. Mari kita tunggu kabar berikutnya. Pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian ini adalah seimbang. Sudah semestinya manusia harus bijak memanfaatkan sumber daya yang ada air salah satunya. Penggunaan besar-besaran, bisa berdampak yang besar terhadap lingkungan. Di ranah politik, sudah semestinya negara-negara bekerja sama dan mengedepankan kelestarian lingkungan (ini sepertinya sulit sekali). Pastinya, sustainability atau keberlanjutan.

Fakta: dulu Laut Aral merupakan danau terluas di dunia keempat. (walaupun dalam klasifikasi termasuk ke danau, akan tetapi karena air yang terdapat disana adalah air asin maka disebut juga laut. Danau karena kenyataanya air tersebut tidak terhubung dengan laut yang lainnya).

North Aral Sea 2000 and 2011.gif

Proses pengembalian Laut Aral Utara


Isu Laut Aral merupakan salah satu isu yang saya ikuti hingga saat ini. Saya mengikuti isu ini semenjak tahun 2009. Ada beberapa dokumentari yang cukup bagus melaporkan isu ini, antara lain:

[Kronologi mengeringnya Laut Aral]

[Liputan dari Study Group Turki dilengkapi dengan wawancara kepada komunitas lokal]

[Laporan BBC terkait hidupunya kembali aktivitas nelayan di sekitar Laut Aral dan upaya konservasinya]

[Liputan Aljazeera]


Want to visit:

merupakan sebuah kumpulan tulisan yang mendokumentasikan daftar tempat-tempat menarik yang ingin saya kunjungi suatu saat nanti.