Permulaan (1)

Hari hujan, duduk di pinggir jendela kamar, memandang ke halaman yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Ada pohon entah apa namanya, tapi orang sini sering menyebutnya momiji. Saat musim gugur, daunya akan berwarna-warni, begitu cantik, dan orang akan berbondong-bondong duduk di sekitarnya. Itu lah momiji. Cuaca tak begitu panas, tak begitu dingin pula, mirip dengan hawa di kampung yang terletak ribuan kilometer.

Sedikit bosan, sedikit tertarik. Tiba-tiba, pikiran ini terperosok ke ingatan tentang kejadian yang terjadi puluhan tahun silam. Agaknya manusia memang selalu menyimpan beberapa ingatan yang dirasa menyenangkan dan menyedihkan. Untuk diingat dan dipelajari lagi mungkin, atau barangkali sebagai kenang-kenangan kejadian lampau. Seperti halnya kerajaan meninggalkan prasasti, setiap manusia meninggalkan potongan peristiwa di pikirannya masing-masing. Bak arkeologis, manusia itu sendiri yang akan menggali-gali di saat-saat tertentu.

Aku ingat, itu adalah waktu yang paling membosankan di SMP. Tahukah kau peristiwa yang aku maksud itu? Itu adalah saat perlombaan antar-kelas setelah ujian akhir semester. Saat guru-guru sibuk menilai hasil ujian para siswa dan tak ada ilmu yang perlu disampaikan kepada para murid, maka sekolah pun mengadakan lomba antar kelas. Lombanya sederhana, lomba sepak bola.

Aku tak tertarik dengan sepak bola. Sepak bola sendiri hanya butuh 11 orang, itu artinya mayoritas siswa dalam satu kelas tidak memiliki kegiatan apapun selain menonton pertandingan itu sendiri. Bosan bukan? Aslinya, banyak orang yang ingin libur, apa daya, kalau ini dilakukan berarti kami membolos sekolah. Membolos tidak baik. Toh berangkat tidak terlalu buruk, jam 11 kami pun sudah bubar pulang ke rumah masing-masing.

Aku sudah tak ingat lagi, siapa yang juara, apa kelasku juara atau tidak. Waktu aku kelas dua dan kelas di bagi lima, sekolah memberi label dari A-E. Penentuan kelas ditentukan berdasarkan kemampuan akademik murid-murid di sekolah. Kabarnya kelas paling top itu adalah kelas E. Dari kelas 1 sampai kelas 3, kelas E merupakan kelas yang paling mencolok. Mereka menempati bangunan baru, lantai keramik putih mengkilat, dan di depan berjajar pot bunga yang lurus berbaris. Sedang apes kali yah, zamanku, kelas 1 E justru menempati laboratorium biologi yang tak pernah digunakan lagi. Bangunannya tua, mengelilingi gedung terdapat wastafel untuk mencuci tangan, tapi sayang sudah rusak semua. Rusak karena mungkin tidak pernah digunakan. Seumur-umur aku sekolah di sana, tak pernah ada praktikum sedikit pun. Kelas 1 E harus menenpati bangunan itu karena ruang kelas mereka tengah direnovasi.

Sekolahku terletak di desa yang cukup tenang, tak banyak kendaraan lalu-lalang dan di kelilingi pekarangan yang dimiliki oleh penduduk sekitar. Salah satu peristiwa yang menyengkan bersekolah di sana adalah di waktu pagi akan banyak siswa-siswa yang berjalan ke sekolah. Umumnya para murid akan berjalan sekitar 2-3 kilo meter untuk menjangkau sekolah itu. SPP sekolah pun tak begitu mahal kala itu, kurang dari 20 ribu rupiah, rasanya.

Di kala lomba begini, selain lapangan yang ramai, warung-warung di sekitar sekolah juga ramai. Kala itu ada 5 warung di sekitar sekolah, tapi aku hanya pernah mengunjungi dua di antara mereka. Alasannya sederhana, jauh dari kelas. Perpustakaan juga akan ramai, tapi sepertinya tak pernah ada buku baru yang datang, kecuali majalah berbahasa jawa. Majalah itu kerap digunakan untuk mengajar oleh pak guru bahasa Jawa karena banyak mengandung tulisan dengan bahasa Jawa baik dengan alfabet atau tulisan jawa.

Oh iya, perpus juga menjadi tempat kami meminjam buku paket pelajar. Jadi boleh dibilang orang tua kami mengeluarkan seperser rupiah pun untuk buku paket, kecuali kalau menghilangkan buku itu. Kami pun tidak menggunakan LKS, semua latihan soal kami peroleh dari buku paket, atau sesekali ada guru yang memberikan fotokopian latihan soal dari buku koleksi beliau.

Saat lomba itu, aku lebih memilih duduk di sekitar perpustakaan. Angin sepoi-sepoi menipu tubuh, ngantuk rasanya. Aku pun bilang, aku ingin belajar ke negeri J. Dalam perjalanan mencapai keinginan itu, tentu ada beberapa capaian kecil. Di salah satu capaian kecil itu aku pun akan bertemu dengan seseorang yang mengatakan ingin pergi ke negeri J untuk belajar. Dia pun sudah bermimpi sejak lama. Aku pun kelak akan bersahabat dengannya.

Betapa bebasnya anak-anak bermimpi!!!

Iklan

Senja Pelipur Peluh

“Jangan kau pandang lama-lama, nanti kau cepat bosan”, seru pak Tua di bandar. Ah, lagi-lagi pak tua itu, tak bosan-bosannya dia menjahiliku. Pak Kasim namanya. Dia tinggal sebatang kara di pulau ini. Tiap hari Pak Kasim bekerja sebagai kuli panggul di bandar. Dia tinggal di bedeng di samping surau dekat kampung nelayan tak jauh dari bandar. Orang-orang pun tak ada yang tahu dimana keluarga Pak Kasim. Yang kami tahu hanyalah pak kasim berasal dari pulau seberang.

Di kala senja, bandar tampak begitu menawan. Di saat sang mentari perlahan-lahan meninggalkan singgasana di langit biru, langit pun merekah dan berubah menjadi berwarna merah. Banyak bahtera yang mulai lamat-lamat kelihatan dari Bandar. Burung-burung berteriak-teriak mungkin mengabarkan berita ke saudaranya bahwa hari sudah senja. Betapa sibuknya burung-burung itu terbang lalu lalang di depanku. Sedangkan aku berdiri mematung melihat ke arah sang mentari. Mentari pergi bak didampingi oleh patih yang berdiri gagah disisinya. Itulah Pulau Alang dan Pulau Alit. Pak Kasim berasal dari Pulau Alang dan aku berasal dari Pulau Alit.

Bagiku, langit senja itu menjadi bayaranku setelah seharian memeras peluh di warung. Semenjak aku tiba di bandar ini, hanya senja itulah yang membuat hati ini tenang dan sentosa. Lenyap semua perkara yang ada di kepala. Aku sendiri tak pernah bolos menghantar kepergian sang mentari setiap hari. Aku kadang membayangkan mentari itu seperti bapakku. Dan patihnya itu seperti aku dan adiku. Dulu, aku dan adikku sering menanti pulangnya bapak di ujung jalan pada waktu senja dan kami pun berjalan bersama ke rumah. Senja selalu mengingatkan aku akan orang yang aku kasihi di ujung pulau sana.

Tiba-tiba Pak Kasim mendekat, “Tahu kah kau Nak, saat kau bahagia menanti matahari tenggelam, aku merasa sedih.” seru Pak Kasim. Lantas aku pun bertanya keheranan, “Kenapa?”. Bagiku, hampir semua orang senang melihat senja terlebih senja di laut. “Senja itu selalu mengingatkan diriku ini. Ibarat hari, aku ini masuk waktu senja. Senja itu pasti pendek dan habis senja tibalah malam panjang. Aku takut bekalku tak cukup untuk menghadap Yang Kuasa. Dulu, aku sering menunda untuk urusan perbekalan itu, dan aku lebih memilih mengurusi perutku yang sampai sekarang tak kunjung beres. Padahal kini aku sudah di masa senja. Rasanya tak banyak waktu tersisa lagi dan satu hal yang aku syukuri bahwa aku masih memiliki waktu senja ini.” cerita Pak Kasim.

Rampung Pak Kasim bicara, aku pun segera bergegas mengambil tas di warung lalu pulang ke kamar sewaan di kampung nelayan. Meskipun warung ramai, aku sudah boleh pulang karena jatah kerjaku untuk hari itu sudah beres.