Bergulir secara alami atau standar?

Apanya sih yang bergulir? Gulir kaya guling-guling yak? Benda yang bergulir yang saya maksud kali ini adalah mouse/tetikus. Bagi yang pernah menggunakan komputer dengan sistem operasi OSX (Lion OS ++) dan Windows/Linux, pasti tahu yang saya maksud.

Menurut sejarahnya (sumber ini), sebelum tahun 2011, cara scrolling/menggulirkan tetikus itu hanya ada satu, yaitu cara standar. Jadi ketika kita menggulirkan roda di tetikus ke bawah, layar pada monitor akan ke bawah. Lalu tahun 2011, Apple mengenalkan cara scrolling yang baru, yaitu apa yang mereka sebut cara alami.

Untuk menggulirkan tetikus dengan cara alami, kita harus menggulirkan roda tetikus ke atas supaya layar dapat bergeser ke bawah. Si Apple nge-les kalau scrolling dengan cara ini akan terasa lebih alami ketika menggunakan layar sentuh. Pada saat menggunakan layar sentuh, yang kita lakukan adalah menggeser “kertas” ke atas untuk membaca bagian yang lebih bawah dari kertas. Coba saja deh! Gara-gara hal ini, semua pesawat dengan OSX menggunakan cara alami.

Situasi seperti yang membuat orang akan merasa kagok setelah menggunakan sistem operasi OSX lalu menggunakan Windows. Prustasi… Oh iya, ada beberapa tetikus yang bisa diatur baik alami atau standar lho. Tapi menurut saya, fitur ini tidak begitu membantu karena touch pad di MacBook masih pakai cara alami.

Saya pribadi nggak begitu peduli mau cara yang mana, walaupun saya lebih memilih cara yang “alami” sesuai dengan alatnya masing-masing. Misalnya, kalau pakai tetikus, ya sesuai dengan alaminya tetikus, begitu pula untuk touch pad, dan touch screen.

Kamu suka cara yang mana?

Jya…

 

 

 

Endangered Languages Project

Belum lama saya mencari informasi terkait bahasa-bahasa yang terancam punah, Google baru-baru ini melunjurkan proyek baru dengan lembaga bahasa dari beberapa universitas untuk mencoba melestarikan bahasa-bahasa yang teracanam punah tersebut.

Ada jutaan bahasa yang digunakan oleh manusia sekarang ini. Bayangkan saja, di Indonesia sendiri saja ada banyak mulai dari Sabang hingga Merauke. Salah satu kisah menarik adalah kepunahan salah satu bahasa di India lebih tepatnya di Kepulauan Andaman. Aka-Bo adalah nama bahasa tersebut. Penutur bahasa terakhirnya adalah Boa Sr. Beliau meninggal pada Januari 2010. Dengan meninggalnya beliau, maka bahasa Aka-bo dapat dikatakan telah punah, dan sudah tidak ada lagi penuturnya di dunia ini. Cerita lengkapnya dapat di baca di sini.

UNESCO membagi status bahasa menjadi empat macam seperti yaitu Vulnerable,  Definitely endangered, Severely enangered, dan Critically endangered.

Berikut penjelasan untuk masing-masing status :

1. Vulnerable : Anak-anak masih menuturkan bahasa tersebut tapi dalam wilayah terbatas (contohnya : hanya di lingkungan rumah).

2. Definitely endangered : Anak-anak tidak lagi menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa ibu di rumah.

3. Severely endangered : Bahasa tersebut hanya dituturkan oleh generasi tua. Orang tua mungkin tahu, tapi tidak menuturkannya dan menggunakannya untuk berkomunikasi dengan anak-anak atau dengan sesamanya.

4. Critically endangered : Penuturnya hanya generasi tua dan itupun jarang digunakan.

Baca lebih lanjut

Microsoft Surface

Akhirnya Microsoft mengumumkan tablet terbarunya yang diberi nama Surface. Menarik, dan saya lihat banyak inovasi terdapat dalam gadget ini, salah satunya adalah tutupnya yang dapat digunakan sebagai keyboard.

Baca lebih lanjut

Google World Wonders Project : Belajar Keajaiban Dunia Modern dan Kuno

Google’s mission is to organize the world’s information and make it universally accessible and useful. With this project we want to make the world heritage sites available to everyone and to digitally preserve them for future generations. We believe that the World Wonders Project can be especially useful for students, scholars and teachers to engage in an innovative and interactive way of learning.

Google Cultural Institute yang memiliki misi : helps preserve and promote culture online, setelah sebelumnya membuat Google Art Project, baru-baru ini membuat World Wonders Project yang diluncurkan pada Kamis 31 Mei 2012. Petikan di atas merupakan tujuan utama pembuatan Google World Wonders Projects. Singkat cerita Google ingin melestarikan situs-situs warisan dunia secara digital dan membuat situs tersebut dapat dijangkau oleh khalayak umum.

Di dunia ini, ada banyak situs peninggalan dan museum-museum. Ada banyak buku yang menjelaskan situs-situs atau tempat-tempat tersebut. Namun, informasi tersebut masih terpisah-pisah. Tentu kondisi ini sulit untuk dapat diakses oleh khalayak umum. Salah satu hal tersebut lah yang melatar belakangi pengembangan World Wonders Project. Untuk merealisasikan hal ini, Google bekerja sama dengan beberapa lembaga yang terkait situs-situs tersebut, salah satu diantaranya adalah UNESCO.

Berikut sekilas video yang menampilkan fitur-fitur yang dimiliki dari Google World Wonders Project.

Baca lebih lanjut

Ramaya.na : How Google Introduces Its Products and Tells The Ramayana Story

A few month ago, Google just opened its new office in Jakarta. The last, I heard, it is marketing office in Indonesia. We know the Indonesia has prospective Internet market.

Last night, I found something interesting in Google Chrome Experiment. Google has created an web for telling Ramyana Epic Story in Indonesia Language. You could find in here : www.ramaya.na. Here is the site description :

Ramayan a adalah cerita epik tradisional yang kini dibuat interaktif oleh Google Chrome. Nikmati cerita kuno ini dengan cara baru melalui browser Chrome terkini.

Ramayana is epic story, I still remember when I was child, my father told me the story about it when we were together watching puppet show. I also usually watched with my grand mother the story about it by watching puppet (wayang kulit). That was nostalgic. I think I should not put the story plot over here, you could experience it by opening that site or visit it. It also remains me that when I was in senior high school, I together with my friend had ever played Ramayana in English Language Class. If I am not wrong, we played like Wayang Orang with English script.

Google gives another experience when you open that site. That site is similar to children story book (book that when we open it, we will have our book page flipped and suddenly, the castle or the person appear standing). I think that was the basic Idea on interactive story. So, what are the differences? Google uses browser for telling this story and uses the technologies behind it and full music always. Google has elegantly collaborated HTML 5 and pop-up window as the main part of the show. Those are amazing. Stunned.

For the music, It is used traditional music Gamelan. I think three kinds of Gamelan used. They are Javanese, Sundanese , and Balinese. The more interesting is : user also actively interacts in the story. For example, when Rama wants to shot Rahwana or Deer using his arrow, the user should shot in the right target. If the target is shot successfully, the story continues.

In the story, Google shows all its products. Start from Google Chat, Google Map, Google Search, Google Search Products, Google Mail, Blogger, Google Search for Weather, and Google Chrome. I like when Google use Incognito page when shows Rahwana and his sister are incognito-disguised as-hermit and deer. Also, Use Jim’s Dead Page when Rahwana Brother died.

The other interesting thing is :  when user interact to help Rama building a bridge for Hanoman’s soldiers (Troops of Monkeys). User should arrange the pop up windows into bridge. What the interesting. If you look at the bridge background, it will changes the background. Also the arrangement and animation of pop up windows are interesting since it plays well and smoothly. Perhaps, the locations of pop up windows on Monitor are saved.

I have played this story twice and it is still amazed me. Here are some screen shots. All the scripts are in Indonesia.

Opening Screen (captured from ramaya.na)

Baca lebih lanjut

Distance and Time

“I was in Los Angeles America and you was in Ankara Turkey yesterday. Now, I am in Ankara Turkey, and you are in Los Angeles America. We’re separated over 3060.32 km. “

Time and distance sometimes are said to be limitation of human activity. If we are not in same place, it will be difficult on us for working together or collaborating. Distance separation like we could be in same time, but we are in different location. If we have different time zone, we also have difficulty on it. From the first sentence, I am in Los Angeles and at the same time you are in Ankara. Both of us separated 3060.32 km, that is very long distance. Time separation, it could be time zone distance, the differences of holiday, or others. But what are the hardest separation today?

If we lived in years of1600 or 1000, I believed that both of them had great impact on human being. At that time, the world still unexplored. The theory of the earth was still developing or in other words people was exploring the earth. It was impossible for human being to work and collaborate together. The information shared slowly and limited. For simple example : supposed to be me and my friend at that year. Suddenly my friend moved to other city. So, at the end, we were separated by distance. In this condition, it was difficult to communicate and the most possible communication was letter. Communication only using letter would take long time. It the effect, the respond also would take long time too. The information could be invalid when the letter came since the longest journey that took.

To overcome this problem, people started to developing the device that can help sending the message in instant time. In 1900, telegraph was found. In that era, people could send the message in short time but the information in that message was limited. Technology is continued its development. So telephone was born, then continued to mobile phone, and the last, internet was born.

Using the internet, people could do everything. Today, almost people rely on their activity on internet. By internet, the communication ways also were born such as email, instant messenger, voice call, or even video call. If we classify the kind of communication ways in Internet, we could call the first one is synchronous communication such as email and asynchronous communication such as voice call. Because of internet, the communication price is very cheap.

Baca lebih lanjut

Google Drive, SkyDrive, dan Dropbox

24 April 2012, Google mengumumkan produk terbarunya yaitu Google Drive. Seiring dengan berkembangnya dan semakin tenarnya layanan File Hosting, tampaknya Google sendiri tidak mau ketinggalan rupanya.

Layanan seperti ini sudah saya nikmati kurang lebih 1,5 tahun (jika tak salah ingat) yang lalu. Saat itu, salah seorang teman saya menyarankan untuk menggunakan Dropbox. Cukup menarik menggunakan itu, walaupun pada saat itu saya telah menggunakan SkyDrive dari Microsoft. Perbedaanya, saat itu skydrive tidak bisa melakukan remote-upload.

Menurut saya pribadi, ketiga layanan yang dikeluarkan, masing-masing memiliki keunggulan. Tapi tetap pada dasarnya, ada empat hal utama yang ingin disuguhkan untuk pelanggan. Empat hal tersebut yaitu :

1. Online Back-up

2. Kemudahan berbagi File

3. Akses file dari berbagai macam device (alat)

4. Sinkronisasi File dari seluruh alat yang tertaut

Sebenarnya mungkin ada banyak layanan serupa, tapi karena ketiga layanan tersebut yang saya gunakan. Maka saya akan membandingkan ketiga hal tersebut.

Dari empat hal tersebut di atas, kesemuanya dapat ditemui pada ketika layanan File Hosting tersebut. Yup, dengan memanfaatkan File Hosting tersebut, kita tidak perlu lagi khawatir akan kehilangan dokumen karena komputer rusak atau hilang. Secara otomatis, dokumen-dokumen yang dimasukkan dalam folder aplikasi tersebut, akan juga berada pada server layanan tersebut. Jika kita menambahkan alat yang terhubung dengan dokumen kita pada Layanan tersebut, secara otomatis pula, dokumen tersebut akan ditambahkan ke komputer kita.

Masing-masing layanan memberikan cara berbagi file dengan seseorang dengan berbagai macam cara. Jika sebelumnya, kita sering menggunakan Google Docs sebagai alat bantu mengerjakan atau berbagi dokumen, hal tersebut masih dapat ditemui di SkyDrive dan Google Drive. Tentu tidak heran dengan kedua layanan tersebut karena, Microsoft memang miliki editor seperti Microsoft Word dan Google Drive memang seperti menggantikan Google Docs. Jika telah menggunakan Google Drive, secara magic Google Docs kita leyap, dan digantikan dengan Google Drive. Yah, kebetulan, tadi pagi (27 April 2012) baru bisa menggunakan Google Drive. Sayang sekali untuk layanan alat bantu penyuntingan online tidak disediakan oleh Dropbox. Namun, tetap, ketiganya masih memiliki kesamaan dalam berbagi file dan folder yang ingin dibagikan dengan orang lain. Secara otomatis, jika orang yang dibagikan dokumen dengan kita setuju, secara otomatis, orang tersebut akan memiliki dokumen seperti yang kita miliki juga.

Ketiganya menyediakan aplikasi yang siap dipasang diberbagai alat seperti komputer desktop, laptop, atau smartphone, sehingga memungkinkan dokumen tersinkronisasi di seluruh alat yang ingin dokumen kita berada. Jika kita mengubah dokumen pada salah satu alat, secara langsung akan dimutakhirkan ke seluruh alat yang ada. Dengan ini, ketiga layanan tersebut memungkinkan untuk remote-upload. Remote-upload artinya kita dapat mengungah dokumen kita tanpa harus melalui aplikasi yang di websitenya.

Sayang sekali, hanya SkyDrive yang menyediakan versioning gratis untuk dokumen. Sedangkan pada DropBox, kita harus membayar untuk bisa menikmati layanan ini.

Nah, masing-masing ternyata memiliki gayanya sendiri dalam meraih hati pengguna. Dropbox menggunakan istilah referral. Artinya, pengguna Dropbox dapat menikmati bonus layanan dengan mengundang teman-temanya untuk menggunakan Dropbox. Hal inilah yang menyebabkan Dropbox besar dari mulut kemulut. Bonus yang berhasil mengundang adalah Bonus ruang penyimpanan sebesar 500 MB. Dan bonus ini akan terus berlaku selama ruang penyimpanan (untuk layanan gratis) masih di bawah 16 GB.

Shortcut ke Dropbox, Google Drive, dan SkyDrive

Baca lebih lanjut