Polah Manusia di “Bumi Manusia”- Bekas-Bekas di Otak

IMG_0971IMG_0972Mengobrak-abrik, ya, mengobrak-abrik. Jika membaca roman ini, tentu hati manusia mana yang tidak terobak-abrik. Pram tidak hanya menyajikan kisah asmara dua merpati, ia juga menyajikan cerita humanis, perjuangan, konflik sosial, dan ketidakberdayaan.

Membaca buku ini, terasa diri ini dilempar ke sebuah ruangan dan kita dihadapkan pada sebuah jendela. Dari jendela itu, kita bisa melihat sepotong demi sepotong peristiwa yang mungkin terjadi satu abad yang lalu. Suata masa yang sangat jauh dan kita hanya bisa temui relik-reliknya saat ini.

Dikisahkan seorang minke. Ia aristokrat, bangsawan, anak pejabat, turunan satria, seorang jawa, dan anak seorang Ibu yang penuh kasih. Ia juga seorang terpelajar yang kaya akan ilmu pengetahuan, putra bangsa, luas pergaulannya baik dengan pribumi maupun dengan Belanda, pandai berbahasa Melayu, Jawa, Belanda, Inggris, dan Prancis. Ia orang Jawa yang memakai sepatu, berpakaian seperti belanda karena ia menuntut ilmu di sekolah Belanda. Serta yang tidak kalah pentingnya adalah ia seorang pemuda, yang bunga asmara mulai mekar. Ia seorang manusia yang menjadi bagian cerita di bumi manusia karena ia hidup di dalamnya.

Melalui penggambaran di buku ini, saya pun merasa berkenalan dengan orang Jawa, yang jauh, jauh hidup sebelum saya. Orang Jawa yang masih menyembah rajanya, belum bersepatu, masih banyak yang buta aksara, menggunakan aksara Jawa dan banyak berbicara dengan Jawa. Tak banyak dari mereka yang bisa bercakap Melayu apalagi Inggris. Dan Minke seperti sosok peralihan dengan masa sekarang. Pada dirinya bertubrukan nilai Eropa dan nilai Jawa. Sewaktu membaca roman ini, saya pun mengandai-andai, apa yang hendak ia katakan ketika ia bertemu dengan orang dari jenisnya sekarang. Sekarang, orang Jawa tak lagi buta huruf, berbahasa Melayu, menulispun sering dengan Melayu, dan banyak pula yang bersepatu. Tak sedikit orang Jawa yang bersekolah, bahkan hingga universitas, tetapi memang tak banyak pula yang bisa menulis dan membaca dengan aksara Jawa. Apakah dia tersenyum atau justru memprotes? Saya tidak tahu. Saya pun membayangkan balik, apa yang terjadi jika saya hidup di zaman itu. Huh, mungkin saya hanya jadi bagian dari orang-orang yang tidak diundang saat pelantikan ayahanda Minke. Saya bisa mengatakan ini, karena tak ada rasanya tak ada leluhur saya yang tinggal di Residen B. Hehehe.

Minke adalah manusia biasa. Sewajarnya manusia biasa, ia berbuat khilaf. Tapi Ia berjuang untuk belaku adil baik dalam pikiran maupun dalam perbuatan, karena ia sadar ia memiliki ilmu. Berilmu itu bukan menjadikan seseorang sombong atau congkak antar sesamanya, melainkan harus berusaha seadil mungkin dalam menghadapi segala sesuatu. Saya begitu terinspirasi dengan menilai diri sendiri dari orang pertama, kedua, dan ketiga. Menilai pribadi sebagai perencana, penerima perintah, dan persoalan.

Dari penggambaran dalam kisah ini, saya pun dapat membayangkan betapa terinjak-injaknya orang pribumi kala itu. Ia diinjak oleh yang berkuasa, yang masih dari golongannya sendiri, lalu yang menginjak pun masih diinjak oleh orang asing yang datang dari negeri yang bertanah rendah. Meskipun begitu, tak semua orang dari negeri tanah rendah itu bersikap kurang ajar, ada diantara mereka pula yang memiliki nurani dan dapat menimbah-nimbang dengan cukup bijaksana. Kalau tidak, mana pula terjadi pergulatan sehingga lahirlah politik etis. Begitu pula pada pribumi, tak semua pemimpin pribumi menginjak yang dipimpin. Kalau tidak, mana pula kita mendengar raja-raja yang arif bijaksana. Begitulah kirana dalam sebuah bangsa, ada yang kurang bijak dan adil dalam bersikap, ada pula yang sebaliknya. Dan semestinya, antar bangsa pun berdiri sama tinggi dan duduk pun sama rendah. Sebagian orang dulu berpikir begitu, Minke salah satunya, bagaimana dengan sekarang, sudah kah kita merasa demikian? Dan benar, pada akhirnya, hanya dengan ilmu pengetahuan itu sebuah bangsa akan kuat dan bertahan. Lihatlah, Amerika, Eropa, dan banyak lagi. Sebuah suguhan konflik yang seru dari Pram.

Lalu, siapa pula yang tidak tertonjok dengan penggalan kisah dari buku ini, pada bagian Minke berujar tentang sumbangan orang Eropa pada manusia, dilanjutkan dengan Jepang, dan terakhir menanyakan pertanyaan kepada orang digolongannya sendiri. Pertanyaan yang sulit dijawab, dan mungkin kita sendiri tak tahu jawabannya karena yang bisa menilai adalah kelak orang-orang yang hidup setelah kita, orang yang merasakan dampaknya secara langsung. Ibarat kata, apa yang diperbuat oleh orang tua pada anaknya, baik atau buruk perbuatan mereka, ya anaknya lah nanti yang menilai. Ibarat ini juga bisa ketemui pada Nyai atau pun Annelies, yang keduanya juga hanya manusia biasa.

Bapaknya Nyai mungkin menilai tindakannya adalah yang paling bijak dengan menjadikan anaknya sebagai Nyai dari seorang yang ia anggap lebih tinggi derajatnya. Tetapi bagi Nyai, tindakan itu adalah hal yang salah dan kurang ajar. Sampai-sampai, ia menghukumi orang tuanya dengan memutus tali kerabat. Bahkan sang Ibu pun karena tidak berdaya menghentikan keputusan sang ayah, dihukumi sama dengan sang ayah. Seperti buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Nyai pun akan mengalami hal yang sama dengan apa yang ia perbuat kepada orang tuanya. Begitu tragis, atau bisa jadi itu karma atas tindakannya.

Di samping kekurangannya, Nyai merupakan pribadi yang selalu berusaha memperbaiki diri. Ia belajar dari kesalahannya, dan ia mampu menerawang kedepan jauh, menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Ia seorang yang tegas, berani mengambil sikap, dan nahkoda di rumah. Penggambaran perempuan yang jarang ada di masanya saat itu. Begitu pun Annelies, ia mampu menerima keadaan setelah berjuang melawan perasaan bahwa ia telah kehilangan seluruh pengharapannya. Bukan berarti ia menyerah? Saya kira ia tidak menyerah, “menerima” kenyataan merupakan wujud sebuah perjuangan setelah kita berjuang sekuat tenaga untuk mengubah kenyataan. Begitu pula sikap Minke dan Nyai. Pada akhirnya Annelies pun berhasil menentukan sikapnya meskipun -dalam benak saya- ia mencontoh apa yang telah dilakukan oleh pendahulunya.

Bagaimana dengan pasangan Nyai yang seorang totok? Saya pikir, telah terjadi konflik dahsyat dalam dirinya. Ia seorang totok, tapi sayang sekali, apa yang dilakukan tidak menggambarkan nilai-nilai yang dipegang oleh dari golongannya. Merasa jauh dari asalnya, ia berpikir aman bersikap demikian, mungkin. Dia menyesal akan hal ini. Di satu sisi, nuraninya pun tidak tega melihat Nyai dan anak-anaknya. Sehingga kita dapati, ia mau mendidik Nyai dan menjadikan rekan bisnisnya. Tentu dia pun berharap kondisi yang baik sepeninggalnya, mungkin. Setelah kedatangan anak sulungnya, ia menjadi takut. Takut kehilangan atau melukai apa yang dimilikinya dulu, dan yang dimilikinya sekarang. Tapi bukankan ia sudah melukai apa yang dimilikinya dulu? Mungkin dalam pikirannya, kalau yang dimilikinya dulu tidak tahu, maka tindakanya itu bukan lah yang termasuk demikian.

Membaca roman ini, kita tidak dapat menentukan apakah ini kisah ini benar terjadi, atau hanya gubahan si penulis, karena penulis berhasil menuliskan dengan begitu nyata. Nyata, menguliti hati manusia, sifatnya, tindakannya, pikirannya, dan perasaanya. Maka sudah pantas jika kisah ini menjadi salah satu kisah paling berkesan dari beberapa kisah yang pernah saya baca. Tentu saya paham dengan maksud “Sumbangan Indonesia untuk Dunia”.

Saya pun belajar bahwa dengan berilmu sudah sepantasnya kita menjadi semakin bijak dan adil dalam menilai dan bersikap. Semestinya pula kita mendudukkan diri kita tidak lebih tinggi dan tidak pula lebih rendah dengan bangsa lain ataupun dengan orang-orang dari golongan kita. Kita hidup hanya sekali dan pada masa yang begitu pendek, sudah semestinya kita bersikap dan memberikan yang terbaik. Terbaik untuk kita, orang sekitar kita, dan orang setelah kita kelak dan manusia secara umum. Barangkali terbaik itu, kelak suatu saat nanti akan dinamai sebagai sumbangan pada dunia. Tentu haruslah banyak-banyak bersyukur dengan kondisi sekarang ini.

Jika nasib bangsa ditentukan dengan ilmu pengatahuan, dan nasib diri ditentukan oleh keimanan. Bukankah akan lebih baik ketika kita rakus pada keduanya?

Iklan