Membuat kata baru

Bahasa selalu mengalami evolusi terus menerus, seiring berjalannya waktu. Kadang suatu bahasa menyerap kata dari bahasa lain, atau munculnya kata baru yang diciptakan oleh pengguna bahasa tersebut.

Kenapa harus ada kata baru? Jawaban sederhananya adalah kebutuhan untuk melabeli suatu makna/konsep baru. Apa maksudnya? Contohnya begini, kata komputer,  yang berarti:

n alat elektronik otomatis yang dapat menghitung atau mengolah data secara cermat menurut yang diinstruksikan, dan memberikan hasil pengolahan, serta dapat menjalankan sistem multimedia (film, musik, televisi, faksimile, dan sebagainya), biasanya terdiri atas unit pemasukan, unit pengeluaran, unit penyimpanan, serta unit pengontrolan;

Dalam bahasa Indonesia, kita tidak memiliki konsep komputer sehingga kita tidak memiliki kata yang sepadan untuk menyebut komputer. Selain itu, komputer sendiri merupakan benda asing yang berasal dari belahan dunia lain. Oleh karena itu, dibutuhkan kata baru dalam bahasa Indonesia untuk menyebut komputer ini. Cara yang paling mudah adalah meng-Indonesikan kata dari bahasa aslinya alias menyerapnya dari bahasa asli. Oleh sebab itu, kata komputer adalah serapan dari bahasa Inggris yaitu computer.

Menurut saya sendiri, kata itu sangat memudahkan dalam berkomunikasi, karena untuk menjelaskan penjelasan yang panjang terdiri dari beberapa kata dapat dilakukan dengan menggunakan satu kata saja. Secara gampangnya kita dapat mengatakan kalau kata ini adalah label dari suatu makna atau konsep. Misalnya, lihat saja penjelasan kata komputer di atas, puanjang bukan? Dan semua itu hanya disingkat dengan kata komputer.

Karena kelebihan kata ini lah, saya kadang iseng-iseng membuat kata baru untuk suatu konsep. Misalnya “gogi” yang berarti gosok gigi di waktu pagi, atau “magi” yang berarti mandi pagi. Jika selama ini kita bertanya, “udah gosok gigi pagi ini dek?”, dengan kata baru ini, kita cukup bertanya, “udah gogi, dek?”. Singkat bukan?

Karena keisengan saya ini, maka saya pun berusaha mendaftar beberapa cara yang dapat digunakan untuk membuat kata baru. Berikut cara yang mungkin dapat digunakan:

1. Singkatan

yaitu kita menggabung beberapa kata untuk membuat satu kata. Bagaimana cara menggabungnya? Bebas. Kita bisa membuatnya menjadi akronim, atau gabung saja seperti kita menghilangkan spasi antar kata. Sebenarnya hal ini sering kita lakukan misalnya, kata ABRI untuk menyebut angkatan bersenjata republik Indonesia.

*Catatan: akronim atau singkatan ini mungkin tidak diakui sebagai kata baku oleh KBBI.

Sering kali singkatan ini mengalami perluasan makna sehingga tidak lagi sesuai dengan makna aslinya. Misalnya, kata kloter[1] yang memiliki kepanjangan kelompok terbang. Sekarang ini, kata kloter sudah mengalami perluasan makna sebagai kelompok dalam urutan, seperti pada kalimat berikut:

“Sholat id diadakan dalam 3 kloter”.

Contoh lain singkatan yang sudah menjadi kata adalah STAN. Kita tahu STAN adalah sekolah tinggi akuntansi negara. Sekarang lembaga tersebut sudah berubah nama menjadi Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN-STAN). Menarik bukan? Jangan dipanjangin STAN-nya yah. Hehehe

Contoh lainnya, seperti kata yang dibuat oleh saya di atas yaitu gogi yang merupakan gabungan dari kata gosok gigi dan pagi.

2. Onomatope

yaitu membuat kata berdasarkan bunyinya. Kita sering menemukan fenomena ini pada anak kecil yang sedang belajar bicara. Misalnya, anak kecil sering menyebut mobil sebagai “mbem-mbem”, atau “ngeng-ngeng” untuk menyebut sepeda motor, atau pun jeblugan dalam bahasa jawa.

Contoh kata yang dibuat dengan onomatope dan sudah menjadi kata baku, misalnya: ngeong, gonggong, dsb.

3. Menyerap dari bahasa asing

Cukup jelas lah cara ini, yah. Intinya kata dari bahasa asing dipakai sebagai kata baru. Misalnya kata komputer tadi, atau kata unduh yang diserap dari bahasa Jawa, digunkan untuk menyebut “download“.

4. Menggunakan kata yang sudah ada untuk konsep baru

Kadang kita bisa mengasosiasikan suatu makna dengan makna yang mirip, sehingga kata dari makna yang mirip digunakan untuk mengungkapkan makna yang ingin kita buat kata barunya tadi. Meskipun pada prinsipnya kata yang sudah ada bisa saja dipakai tanpa harus ada asosiasi. Misalnya, kadang ada orang yang menggunakan kata “curi” untuk menggantikan “korpusi”.  Bahkan bisa jadi di masa depan, makna baru yang ditautkan pada kata tersebut menggantikan makna yang lama.

Memang, cara ini tidak bisa dibilang membuat kata baru, karena katanya sudah ada. Hehehe. Mungkin judulnya yang kurang pas, harusnya bagaimana melabeli atau menamai suatu makna/konsep.

Masih terkait dengan hal ini, ada artikel yang cukup menarik tentang beberapa kata dalam bahasa Inggris yang artinya berbeda dengan makna sebelumnya ini.

Ada usul cara lain untuk buat suatu kata baru? Jangan bilang untuk membuat bunyi random untuk membuat kata yah. Hahaha.

[1] Thanks to Albadr buat contohnya. Saya sendiri awalnya nggak tahu kalau itu adalah singkatan.

Iklan

One thought on “Membuat kata baru

  1. Ping-balik: Collision | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s