Peribahasa

Bahasa merupakan media yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dengan satu sama lain. Dalam menggunakan bahasa, ada kalanya menggunakan ungkapan yang rumit, seperti peribahasa. Menurut saya, ada banyak hal yang melatarbelakangi manusia menggunakan peribahasa, misalnya untuk memperhalus, atau menambahkan nilai keindahan.

Berdasarkan KBBI, peribahasa dapat diartikan sebagai:

1. kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan);

2. ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku

Hal itu berarti, peribahasa adalah ungkapan yang memiliki susunan tetap yang memiliki kesamaan makna dengan maksud tertentu. Mungkin singkatnya begini, suatu ungkapan memiliki makna “A”. Lalu manusia hendak mengungkapkan maksud “B”. Ketika manusia menggunakan ungkapan tersebut untuk mengungkapkan B, karena A dan B itu mirip, maka A adalah peribahasa. Dengan kata lain, peribahasa umumnya adalah metafora. Oleh karena, menurut saya, peribahasa dapat dibilang sebagai “bahasa yang dikodekan”. Mungkin konstruksi dalam otak manusia seperti ini: “makna” -> ungkapan harfiah -> peribahasa.

Karena peribahasa ini merupakan bahasa yang dikodekan, ketika manusia menggunakannya, ada resiko maknanya tidak tersampaikan secara utuh. Hal ini disebabkan penerima pesan tidak dapat menerjemahkannya.

Selain itu, peribahasa umumnya melibatkan benda/konsep yang ada di sekitar manusia. Oleh sebab itu, peribahasa dapat dikatakan umumnya lokal pada komunitas tertentu. Itu artinya, untuk mengungkapkan satu makna, dua komunitas yang berbeda dapat menggunakan peribahasa yang berbada. Sehingga, ketika dua komunitas ini berkomunikasi dengan peribahasa masing-masing, terdapat resiko untuk tidak saling memahami satu sama lain.

Sebagai contoh, suatu hari saya bercakap-cakap dengan teman dari asia tengah. Waktu itu kami membicarakan hal “mengerjakan pekerjaan sekali, mendapatkan beberapa hasil sekaligus”. Teman saya yang berasal dari asia tengah menanyakan, adakah ungkapan untuk maksud tersebut di Indonesia? Saya pun menjawab ada, dan ternyata begitu pula dengan di negaranya. Hanya saja, peribahasanya berbeda.

Di negara teman saya tersebut menggunakan peribahasa “membunuh dua kelinci dengan satu panah”. Sedangkan di Indonesia, saya mengatakan “sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui”. Berdasarkan peribahasa ini, kita bisa pahami jika di asia tengah yang notabene zaman dulu penduduk di sana berburu dan non-maden, sangat kental menggunakan istilah berburu dalam peribahasanya. Sedangkan di Indonesia, yang merupakan negara kepulauan, menggunakan istilah yang terkait dengan pulau. Kalau tidak percaya, kita ambil peribahasa yang sepadan yakni “sambil menyelam minum air”.

Jadi apa pelajarannya, dengan bertanya peribahasa di suatu daerah, bisa jadi kita bisa mengetahui kebiasaan masyarakat penduduk di daerah tersebut. Lalu, kira-kira kenapa yah, di bahasa Inggris peribahasa yang sepadan yaitu “membunuh dua burung dengan satu batu?”. Mungkinkah orang Inggris zaman dulu hobi berburu (mengketapel) burung?

 

Iklan