Berempati, Berlimati, Bertujuhi…

Akhir-akhir ini ada banyak peristiwa besar yang terjadi di negeri kita tercinta, seperti bencana alam, penggusuran, isu toleransi, pembangunan pabrik, dsb. Dari tiap peristiwa tersebut, ada banyak sekali respon yang diberikan oleh orang-orang, terlebih dengan adanya media sosial, respon-respon tersebut mudah didengar di khalayak. Lalu sekarang ini, polarisasi respon-respon tersebut semakin terasa, karena adanya gesekan-gesekan dengan unsur politik. Meskipun gesekan tidak menjadi syarat mutlak polarisasi, tetapi tampaknya situasi ini menjadikan laju polarisasi semakin cepat. Polarisasi yang saya maksud adalah adanya dukungan terhadap kejadian tersebut atau sebaliknya.

Apakah polarisasi ini baik? Menurut saya, tak ada ada yang salah akan hal ini. Orang dijamin kebebasannya untuk berpendapat, bahkan mungkin ini menjadi indikasi yang cukup baik. Hanya saja menurut saya, ada sedikit pertimbangan yang perlu kita perhatikan atau ambil sebelum melemparkan pendapat terkait peristiwa tersebut. Hal ini karena sering kali ada banyak komentar-komentar yang seolah-olah dilontarkan dengan menutup mata dan spontan. Kalau pun harus membuat pendapat dengan menutup mata, maka tak ada salahnya untuk meraba-raba. Tentu, pendapat akan lebih baik kalau dilontarkan setelah membuka mata dan melihat suatu peristiwa dari berbagai macam sudut.

Bagaimana kita meraba-raba? atau apa yang harus kita lihat ketika kita membuka mata? Empati bisa jadi salah satu jawabannya.

Apa itu empati? Berdasarkan kamus kbbi itu berarti “keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain”.

Poin utamanya adalah merasakan apa yang orang rasakan dengan menempatkan diri kita pada posisi orang tersebut. Hal ini berarti, kita melihat apa yang terjadi dari kacamata orang tersebut.

Dengan melakukan hal ini, berarti kita melengkapi pandangan kita tidak hanya dari pandangan kita sendiri. Seringkali apa yang kita lihat dengan mata kita berbeda dengan apa yang mereka lihat. Kondisi ini sebenarnya mirip seperti cerita orang-orang buat yang diminta menjelaskan apa itu gajah. Masing-masing orang akan memegang gajah, akan tetapi bagian yang dipegang itu berbeda-beda tiap orang. Lalu, tiap orang hanya memegang bagiannya itu, tidak meraba bagian yang dipegang oleh orang lain. Setelah itu mereka diminta mendeskripsikan apa itu gajah. Karena tiap orang bertumpu pada bagian yang berbeda, maka gajah pun dideskripsikan macam-macam. Misalnya, gajah itu panjang kecil menurut orang yang memegang ekor, atau gajah itu lebar menurut orang yang memegang telinga, dsb.

Apakah pendapat orang buta tersebut salah? Tentu benar sebab mereka mendeskripsikan bagian-bagian dari gajah, tetapi ketika orang buta tadi tersebut meraba seluruh bagian gajah, pada akhirnya orang tersebut akan bisa tahu deskripsi gajah yang paling mewakili gajah itu, misal: gajah adalah binatang yang memiliki belalai (tentu ada karakteristik lain selain ini).

Akan tetapi, ketika orang buta sudah memegang teguh apa yang dipegang dia dan tidak berusaha menempatkan diri pada posisi orang buta yang lain, bisa jadi orang tersebut melewatkan sesuatu yang lebih utama dibandingkan dengan apa yang ia pengang tersebut. Situasi ini, mungkin akan menjadi semakin parah ketika tiap-tiap orang buta tersebut mengedepankan pendapatnya masing-masing. Maka yang terjadi adalah habis tenaga untuk membela sesuatu yang tidak terlalu utama.

Kembali ke contoh kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Saya cukup sering melihat komentar-komentar yang diutarakan dalam surat kabar online atau media sosial. Kadang kala, ketika membaca komentar ini, sering muncul rasa keheranan dan penasaran. Ambil contoh, ada berita tentang demo warga yang menolak pendirian suatu pabrik yang mungkin keberadaanya kelak menganggu keseimbangan alam. Ada beberapa komentar yang menganggap sinis demo tersebut, dan dengan mudahnya mengatakan kurang lebih: bagaimana mau maju, pabrik aja ditolak, berkorban dong demi kemajuan (paraphrase saya).

Keheranan dan penasaran saya adalah apakah orang yang berkomentar ini telah berusaha memahami apa yang mereka khawatirkan? Berkorban untuk kemajuan, itu berarti berkorban untuk orang yang berkomentar. Apakah orang yang melontarkan komentar tersebut mau berkorban untuk orang yang telah berkorban tersebut? Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi dari komentar tersebut adalah, berkorban dalam konteks ini bisa jadi mengorbankan masa depan orang yang demo tersebut untuk sebuah kemajuan. Bukankah ini adalah hal yang besar dan berat? Lebih-lebih, orang yang berdemo tersebut tidaklah melanggar hukum apapun, salahkah mereka?

Hal ini pula yang saya dapati ketika ada penggusuran di ibukota. Perlukah kita berempati pada orang yang digusur? Saya kira hal ini sangat diperlukan dan rasanya berempati tidak menjadikan seseorang membenarkan akan sesuatu. Ambil contoh, kalau orang tersebut digusur karena ilegal, ya tindakannya tetap salah. Nah, justru dengan berempati membuat kita semakin berhati-hati dalam menyikapi persoalan ini. Dan pada akhirnya kita bisa paham bahwa gajah itu memiliki belalai (ingat cerita di atas). Hanya penasaran di akhir, mungkin kita berbuat yang sama kalau di posisi mereka? Ntah lah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s