Kurang Tertatanya Gua Jatijajar

 

Musim panas tahun lalu (2015) saya berkesempatan untuk pulang ke Indonesia. Rumah orang tua saya berada di Kebumen. Kebumen merupakan kabupaten yang terletak di sebelah selatan pulau Jawa. Waktu tempuh dari Jogjakarta sekitar 3-4 jam dengan menggunakan bus/mobil.

Seperti halnya wilayah kabupaten lain di Indonesia, Kebumen juga memiliki beberapa wisata andalan. Salah satu objek wisata yang cukup berbeda dengan kabupaten lain adalah Gua. Hal ini karena wilaya Kebumen yang memiliki pegunungan kapur (karst). Sekarang ini, wilayah pegunungan karst ini telah masuk kedalam wilayah yang dilindungi oleh Negara. Salah satu dari banyak Gua yang menjadi andalan wisata adalah Gua Jatijajar.

Terakhir kali saya berkunjung ke Jatijajar sekitar tahun 2004-2005 (10 tahun lalu). Saat itu, sekolah saya masih sering mengadakan hiking rutin ke Gua tersebut. Kala itu kami akan memulai perjalanan dari sekolah ke Gua tersebut dengan jarak sekitar 11 kilometer. Perjalanan pulang dilakukan dengan menyewa truk.

Pada waktu itu, Jatijajar itu tempatnya asri, bersih, dan banyak pohon. Di dalam objek wisata hanya terdapat 1 pasar yang menjual pernak-pernik oleh-oleh. Gua Jatijajar memiliki 3 buah gua yang saya lupa namanya (salah satunya jelas Gua Jatijajar). Saat masuk ke Gua Jatijajar, sudah terlihat beberapa tulisan pada dinding gua dengan menggunakan spidol. Di dalam pintu masuk, terdapat patung lutung kasarung yang merupakan legenda terkait dengan Gua ini. Jalur masuk ke gua, tidak ada yang dicor jadi tidak rata. Di dalamnya terasa dingin, dan ada dua sumber mata air lengkap dengan mitos-mitosnya. Di sekitar gua, terdapat bangunan yang seperti tobong kabur dari bata merah. Untuk toilet, standar toilet Indonesia kala itu. Rumput juga tumbuh di sekitar gua, sehingga enak untuk duduk-duduk makan siang. Baguslah saat itu.

Nah, karena sudah 10 tahun tidak berkunjung ke sana, maka saya putuskan untuk berkunjung ke tempat tersebut. Waktu itu saya masih merasa exited saat di dalam mobil. Tetapi semua itu berubah setelah di depan loket pintu masuk. Yah… Ternyata jadi begini.

IMG_4671

Pintu masuk gua

IMG_4732

Tenda para penjual

IMG_4704

IMG_4705 Penjual lagi

 

Begini seperti apa. Ya bayangkan, ada banyak penjual makanan begitu banyak. Ruang terbuka yang dulu penuh tumbuhan, sekarang isinya tenda-tenda lesehan orang berjualan (bukan lesehan orang piknik). Belum lagi, sampah-sampah yang berserakan. Alhasil, saya merasa berkunjung ke pasar bukan ke objek wisata. Belum lagi para penjual yang ramai menawarkan dagangannya. Oh tidak. Saya merasa masuk ke tempat yang salah. Di beberapa titik saya juga menjumpai sampah yang dibakar. Hal ini yang menjadikan saya terheran-heran. Ini kan objek wisata. Kenapa ada sampah dibakar di dalam objek tersebut. Apakah ini bagian dari kebijakan manajemen?

Saya pun paham adanya penjual di dalam objek wisata tersebut. Bagaimana peran gua tersebut dalam kegiatan ekonomi masyarakat sekitar. Tetapi ya, tidak seperti itu juga rasanya.

IMG_4706

Sisa sampah dibakar

Sisa sampah dibakar

Mungkin karena musim kemarau akibat el nino, suasa begitu gersang. Dalam gua terasa sedikit panas. Tak ada lagi tuh, tetesan air melalui stalagmite. Gua Jatijajar masih mendingan situasinya dibandingkan dengan gua-gua lainnya. Saya pun hanya masuk ke satu gua yang lainnya. Dan kondisinya, ada sampah di dalam gua. Oh no…

Itu siapa yang minum obat batuk segitu banyak

Itu siapa yang minum obat batuk segitu banyak

Jujur saya sedih. Belum lagi, ada banyak sekali tulisan di dalam gua. Saya pun tidak habis pikir, itu nulis di gua buat apa, dalam hati “kamu mau tulis apa gitu, saya tetep nggak tahu kamu”. Justru kegiatan seperti itu merusak objek wisata. Nulis seperti itu nggak membuat kamu jadi keren. Emang nggak kasihan kamu sama anak-anakmu nanti, mereka tidak bisa menikmati indahnya gua tersebut seperti kamu sendiri. Ewww… Lihat di foto di bawah ini coba. Sungguh merusak pemandangan.

IMG_4680 IMG_4677

Tulisan di dinding gua

Tulisan di dinding gua

Keluar mencari tobong kapur yang waktu itu terlihat bagus, justru sekarang terlihat tidak terurus dan banyak tulisan-tulisan yang saru (dalam bahasa jawa, artinya: tidak sopan). Sudahlah, saya merasa kesal sekali. Baru kali ini saya berkunjung ke tempat wisata bukannya senang malah agak kesal. Sesekali saya juga melihat ada turis asing yang berkunjung ke sana. Jujur saat itu saya malu sekali, malu kepada turis asing tersebut dengan kondisi gua tersebut.

Eh, tulisan begitu kadang justru yang jadi peninggalan sejarah yah. Hahaha. Bayangkan 3000 tahun di masa depan, saat Gua Jatijajar sudah tertutup tanah. Lalu ada manusia dari zaman sana menggali tanah di sekitar Gua itu. Tiba-tiba dia menemukan Gua. Terus di dalamnya ada tulisan-tulisan manusia seperti itu. Bukakah itu jadi penemuan yang penting. Hahahaha. Ingatkan dengan lukisan yang ada di dalam gua. Cuma mungkin mereka akan kecewa dengan beberapa makna tulisan yang ditemukan. *Bagian ini hanya lelucon saja*

IMG_4709 IMG_4710

Tulisan di tobong kapur

Tulisan di tobong kapur

Saya pikir ada yang salah dengan pihak manajemen objek wisata tersebut. Saya tidak tahu, mau diarahkan kemana objek wisata itu. Itulah kesan saya. Manajemen yang kurang baik, sehingga tidak bisa menanggulangi ledakan penjual dalam gua dan perawatan gua. Saya juga heran, memang tidak pernah ada usaha untuk pembuangan tulisan-tulisan yang nempel banyak di objek wisata (saya penasaran, ada atau tidak teknologi untuk membersihkan hal seperti itu)? Memang dari infrastruktur sekarang lebih baik. Jalan sekarang sudah permanen dan tidak becek saat hujan. Tapi hanya itu kemajuannya. Lainnya justru mengalami kemunduran. Rasanya bukan kombinasi yang bagus menggabungkan penjual makanan di mulut gua.

Jembatan masuk gua sudah bagus

Jembatan masuk gua sudah bagus

Satu lagi yang saya heran adalah tangga dan beberapa dinding bangunan menuju Gua itu berwarna-warni. Begitulah catnya. Rasanya gimana gitu. Daripada mengadakan anggaran untuk pengecatan, lebih baik dananya untuk pemeliharaan Gua. Dengan begini, dana untuk perawatan akan bertambah.

IMG_4733 IMG_4747

Warna-warni bangunan

Warna-warni bangunan

Rasanya lebih bagus kalau di sekitar gua dibangun museum yang mengenalkan apa itu wilayah karst atau wilayah kebumen lebih detil. Menjelaskan bagaimana gua itu terjadi. Bagaimana peta pengunungan karst itu. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk merawat gua. Bagaimana sejarah gua itu. Syukur-syukur bisa melihat animasi cerita lokal yang terkait dengan Gua itu. Itu lebih mendidik dan lebih informatif. Lalu, pohon-pohon coba diperbanyak. Menurut saya suatu objek wisata tidak hanya mengenalkan apa itu, tapi juga mengenalkan wilayah sekitarnya sehingga orang yang berkunjung ke tempat tersebut pun dapat paham budaya, kebiasaan masyarakat sekitarnya.

Bayangkan ada turis asing yang ingin berkunjung, sudah jauh-jauh dari rumah mereka, dan apa yang mereka dapati tidak sebanding. Rasanya harus ada banyak yang ditata, sebelum memasarkan tempat tersebut sebagai salah satu wisata andalan. Pertimbangan lain saat hendak mengembangkan tempat wisata adalah pesan seperti apa yang ingin disampaikan. Apa yang ingin kita pamerkan. Dan tentunya penambahan wahana lain akan menambah kuat konsep wisata yang ingin disajikan. Oh iya, mungkin ada baiknya ada tulisan apa yang tidak boleh dilakukan dalam objek wisata tersebut. Saya sendiri tidak mendapati adanya larangan tulis-menulis. Bisa jadi ada, tapi tidak ada yang tahu. Anyway, saya juga bukan ahli soal manajemen tempat wisata, jadi kalau ada yang tidak sesuai, abaikan saja.

Kesimpulan saya setelah mengunjungi Gua Jatijajar adalah tidak ada yang berubah dari segi wahana, hanya saja semakin semrawut, justru ada beberapa gua yang sudah sulit diakses. Barangkali pengujung menurun, tapi harusnya nggak begitu juga kondisinya. Entahlah… Berdasarkan sumber ini, gua ini berhasil menyumbang sekitar 2 miliar rupiah APBD. Itu pendapatan paling tinggi dibanding objek lain di wilayah kebumen. Semoga saja di masa depan situasinya lebih baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s