Sikap menghargai: oh, begini toh orang Jepang

“Ada yang suka makanan Jepang?”, tiba-tiba guru Bahasa Jepang saya bertanya ke kelas. Kami pun menjawab satu per satu pertanya guru kami tersebut. Ada yang suka, ada juga yang kurang suka. Saya sendiri tidak memiliki masalah dengan masakan jepang asalkan itu halal dan bukan natto. Dari pertanyaan tersebut, kami pun berdiskusi terkait filosofi makanan jepang secara umum. Guru kami bercerita pada umumnya makanan jepang tidak memiliki rasa yang begitu kuat, sehingga hampir tidak ditemui makanan jepang yang pedas atau manis sekali. Lihat saja sushi, sashimi, tempura, dan lainnya. Orang jepang ingin menikmati rasa alami dari bahan makanan yang digunakan. Akibatnya, ada banyak variasi rasa yang bisa dikombinasikan dalam makanan. Bagi saya pribadi, menikmati makanan mengikuti pandangan orang Jepang adalah hal yang baru bagi saya. Menurut orang Jepang, dengan menikmati rasa alami dari bahan makanan tersebut merupakan perwujudan sikap apresiasi atau penghargaan terhadap alam (bukan nama orang).

Berbekal cerita di atas, kali ini saya ingin membahas orang Jepang dengan sikap apresiasinya. Secara harfiah apresiasi dan menghargai berarti:

apresiasi/ap·re·si·a·si/ /aprésiasi/ n 1 kesadaran terhadap nilai seni dan budaya; 2 penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; 3 kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah; (http://kbbi.web.id/apresiasi)

menghargai/meng·har·gai/ v 1 memberi (menentukan, membubuhi) harga: dia terlalu tinggi ~ barang-barang dagangannya; 2 menaksir harganya; menilaikan: ia ~ barang itu terlalu rendah karena tidak tahu kegunaannya; 3 menghormati; mengindahkan: setiap orang harus ~ dan memuliakan orang tuanya; 4 memandang penting (bermanfaat, berguna, dan sebagainya): kami dapat ~ saran Saudara;(http://kbbi.web.id/harga)

Menurut saya, makna nomor 3 dan 4 adalah yang paling sesuai untuk konteks cerita di atas. Oleh karena itu, sikap menghargai tersebut dapat diartikan sebagai

sikap memandang penting atau menghormati dan mengindahkan sesuatu hal karena akibat baik dari keberadaannya.

Berdasarkan definisi yang saya tuliskan di atas, saya jadi teringat tentang konsep bersyukur bahwa bersyukur tidak hanya diucapkan secara lisan, tetapi juga dibuktikan dengan perbuatan. Misalnya, orang mendapatkan rezeki, sebagai perwujudan rasa syukurnya orang tersebut akan membagikan sebagian rezekinya untuk orang lain, membelanjakan rezeki tersebut untuk hal-hal yang baik. Contoh lainnya, ketika orang tua mendapatkan titipan berupa anak, normalnya orang tua tersebut akan merawat dan memberikan hal-hal yang terbaik bagi anak. Kesimpulannya adalah sikap menghargai yang dilakukan oleh orang jepang merupakan salah satu perwujudan rasa syukur. Jadi begitu toh, cara orang Jepang bersyukur.

Setelah saya amati lebih jauh, ternyata sikap menghargai tersebut tidak hanya mendarah daging di urusan makanan saja, tetapi juga menyebar ke berbagai sisi kehidupan orang Jepang. Kita bisa lihat bagaimana pedagang di Jepang menghargai pembelinya karena bisnis mereka tergantung dari pembeli. Sampai-sampai istilah pembeli adalah dewa (お客様は神様です。おきゃくさまはかみさまです). Di Indonesia ada juga istilah serupa, yakni pembeli adalah raja. Levelnya jauh berbeda untuk pembeli di Indonesia dan Jepang. Di Jepang lebih wow.

Meskipun kita memiliki istilah pembeli adalah raja, sepertinya hal ini tidak diterapkan dengan baik atau bahkan tidak banyak pelaku bisnis yang sadar akan hal ini di Indonesia. Pernyataan tersebut hasil generalisasi setelah melihat beberapa penjaga toko Indo dan alfa bulan sebelum april sewaktu pulang ke Indonesia dulu. Kondisinya sangat berbeda di Jepang di mana pembeli dan pelanggan dilayani dengan ramah, sekalipun ada orang komplen sambil marah-marah, orang yang komplen jarang dimarahi balik. Itulah pengalaman saya selama tinggal di sini.

Selain itu, saya juga dapati bahwa dengan sikap menghargai ini, banyak sekali implikasinya, seperti sikap melayani, merawat, menjaga, kerja keras, dsb. Karena itu, di Jepang jarang di dapati ada puncak gunung yang kotor karena sampah, orang hampir tidak memetik bunga atau ranting di taman, dan masih banyak lainnya.

Contoh terakhir yang baru baru ini saya rasakan adalah meningkatnya jumlah tempat ibadah di tempat umum dan makanan halal untuk umat Islam. Orang Jepang sadar betul betapa pentignya orang Islam yang datang ke Jepang baik untuk berwisata, bisnis, atau kegiatan lain bagi ekonomi jepang, atau hal lainnya. Oleh karena itu, orang jepang menghargai orang Islam dengan memberikan pelayanan sebaik mungkin di Jepang ini.

Hmm, setelah diamati pola-pola orang Jepang dalam menghargai sesuatu, saya jadi berhipotesis kalau level tertinggi orang Jepang dalam menghargai sesuatu adalah dengan menjadikan sesuatu yang dihargai tersebut kamisama (神さま) atau dewa. Di Jepang, ada beberapa Jinja yang didedikasikan kepada orang yang pernah hidup. Mereka didewakan karena apa yang dilakukan selama hidup bermanfaat, hebat, atau berkuasa semasa hidupnya, atau sesuatu yang buruk setelah kematiannya.

Contoh jinja yang didedikasikan untuk manusia adalah Himuro-Jinja (氷室神社). Lokasinya ada di Nara. Saya pernah bermain ke sana. Pada waktu ibukota Jepang masih di Nara sekitar tahun 500 masehi, ada seorang yang berhasil menemukan teknik untuk menyimpan es sehingga es yang muncul pada musim dingin dapat bertahan hingga musim panas. Saat musim panas inilah, es tersebut dapat dinikmati oleh orang-orang dari kalangan atas pada saat itu. Berkat kemampuan ini dan tentunya mungkin manfaat yang diberikan sehingga orang bisa menikmati es pada musim panas, menjadikan orang Jepang mendewakan orang tersebut. Saya pikir ini adalah salah satu wujud apresiasi orang jepang ke orang tersebut. Jika ingin mengunjungi tempat tersebut, mungkin waktu yang tepat adalah saat bulan agustus atau saat hanami. Kabarnya bunga sakura di sekitar jinja kalau mekar terlihat bagus dan pada bulan Agustus ada festival es serut.

IMG_1521

Himuro jinja tampak dalam

Himuro Jinja

Himuro Jinja

Selain orang hebat, kaisar juga merupakan salah satu kriteria yang akan dibuatkan Jinja walaupun sepertinya tidak semua kaisar, misalnya Himuro-Jinja juga didedikasikan untuk kaisar Nintoku. Begitu kurang lebih hipotesis saya. Kalau salah, ya namanya juga hipotesis dan saya sendiri masih berusaha memahami orang Jepang.

Kembali ketopik utama kita, saya pikir sikap menghargai yang diamalkan orang Jepang ini patut untuk dijadikan teladan bagi kita. Iya, tentunya tidak perlu sampai pada level mendewakan juga. Hehehe.

Karena saya orang Indonesia, di akhir artikel ini saya ingin membandingkan dengan situasi di Indonesia. Beberapa waktu lalu sempat heboh di media sosial ada orang yang mengambil foto di tengah taman bunga sehingga membuat bunga-bunga di sekitarnya menjadi rusak. Karena tindakannya tersebut, banyak orang di media sosial yang pada akhirnya menghakimi dan mengutuk tindakan tersebut. Mari kita coba pahami kejadian tersebut dari sudut pandang pelaku. Pelaku datang ke taman bunga tersebut menujukkan bahwa pelaku suka bunga atau suka keindahan. Saat pelaku mengambil foto pada posisi tersebut, pelaku mungkin berpikir kalau lokasi untuk mengambil foto tersebut adalah lokasi yang paling tepat sehingga foto yang dihasilkan itu bagus dan keren. Ini menguatkan fakta kalau pelaku sangat suka dengan keindahan dan sesuatu yang bagus, akan tetapi dampak dari tindakan tersebut adalah merusak keindahan itu sendiri. Ini menunjukkan kalau level menghargai kita masih pada level individu, belum pada tataran level yang lebih luas seperti di Jepang. Maksud saya adalah level dimana kita menghargai sesuatu yang tidak kita miliki secara langsung dan sesuatu tersebut merupakan sesuatu yang kita bagi dengan orang lain.

Situasi yang sama ketika saya berlibur ke salah satu objek wisata di kabupaten saya. Saya dapati ada banyak tulisan yang semestinya tidak ada di sana dan kadang tulisan-tulisan tersebut bernada kotor. Saya paham, dengan menulis disitu, kita ingin menunjukkan pada dunia kalau kita pernah mengunjungi tempat tersebut. Tindakan ini dapat dipahami sebagai rasa penghargaan kepada diri kita yang telah mencapai tempat tersebut. Akan tetapi kenapa kita lupa menghargai tempat tersebut?

Rasanya fenoma ini dapat pula digeneralisir kepersoalan lainnya. Misalnya saja, hampir semua orang Indonesia pasti membersihkan dan menjaga rumahnya, tetapi membuang sampah hasil bersih-bersih tersebut sembarangan. Rumah yang penting bersih, lingkungan sekitar mau kotor, tidak terlalu peduli. Kita selalu berusaha menjamu tamu dengan baik di rumah, dilayani, dan tentu disambut dengan sopan. Akan tetapi kenapa perilaku ini tidak sampai pada saat kita berhubungan di masyarakat secara umum, misal di tempat kerja, jualan, dsb. Kembali pada contoh kejadian penjaga toko. Kadang kita mendapati penjaga toko yang galak dan tidak ramah. Ini menunjukkan kalau penjaga toko tersebut tidak terlalu menghargai tempat kerjanya meskipun tempat kerjanya mendatangkan manfaat untuknya, karena penjaga toko tersebut tidak memiliki secara langsung toko tersebut. Padahal kalau pikirkan lebih jauh, manfaat yang diterima dari toko tersebut tergantung dari pembeli yang datang.

Bukan kita tidak memiliki rasa menghargai atau mengapresiasi, kita memiliki rasa tersebut, akan tetapi rasa tersebut masih sebatas individu, keluarga, atau rumah. Kita masih kurang memiliki rasa menghargai pada level yang lebih luas lagi yaitu level bermasyarakat secara umum di mana kita dituntuk untuk menghargai sesuatu yang tidak kita miliki secara langung tetapi kita mendapatkan manfaat darinya.

Kesimpulannya apa yang harus kita lakukan? Saya kira hanya satu, refleksikan pada diri kita sendiri, pada level apakah rasa menghargai kita. Jika levelnya masih sebatas individu, mari tingkatkan rasa tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s