Main-Main Salju

Salju. Hampir setiap orang yang di tempat asalnya nggak ada salju bisa dipastikan akan sangat menunggu-nunggu datangnya hujan salju saat orang tersebut berada di negara dengan empat musim. Tak terkecuali saya. Saya sendiri sebenarnya sudah tidak terlalu berharap setelah mendengar kabar bahwa di Tokyo/Yokohama jarang sekali turun salju. Lagi pula, saya sudah pernah melihat salju dan bermain salju di tempat lain (masih di Jepang). Terlebih setelah beberapa hari ini cuaca menjadi hangat. Kawan saya bercerita kalau fenomena sebentar hangat dan sebentar dingin itu adalah tanda akan masuk musim semi. Saya sendiri pun sudah menyangsikan ramalan di AccuWeather sedari awal.  

Saya melihat hujan salju dan menyentuh salju untuk pertama kali ketika saya berpetualang ke Kyoto, dkk. Sedangkan pertama kali main olahraga dengan salju, ya saat main ski dengan teman-teman PPI Tokodai. Hehehe. Maaf ceritanya saya lewati, nanti ada tulisan tersendiri mungkin.

Singkat cerita, dari tadi pagi sampai malam nanti, sebagian wilayah jepang akan diguyur hujan salju. Tapi sayang, tempat dimana kawan saya tinggal di Jepang tidak ikut kebagian diguyur salju. Mungkin lain kali. Saat melihat dari jendela kamar, terlihat hamparan putih salju yang sangat memikat, saya pun akhirnya tergoda untuk keluar dan main-main sebentar.

Sebelum kecerita main-mainnya, kalau menurutmu, apa hal yang pertama kali terlintas saat mendengar kata salju? Kalau saya amati, pertama mereka akan penasaran seperti apa itu hujan salju dan yang kedua bisa nggak buat es campur dengan salju. Salju yang turun itu berukuran kecil (mungkin masih berukuran dalam milimeter) tidak keras seperti es batu. Mungkin seperti es serut tapi berukuran lebih lembut lagi.

Es campur, iya, es campur. Di beberapa percapakan antara orang indonesia dengan orang Indonesia mengenai salju, kebanyakan dari mereka akan menyarankan untuk membuat es serut atau campur dengan disiram sirup khas Indonesia. Ya, saran itu hanya buat bercanda saja pastinya.

Lanjut ke cerita main, pagi ini saya berjalan menyusuri jalan sekitar asrama. Di depan asrama saya ada sebuah bukit dan di belakang bukit ada taman kecil. Taman itu lah tujuan saya. Jalan di atas salju kadang juga perlu berhati-hati, karena kalau saljunya tipis atau bagian bawah salju sudah keras seperti es, kita bisa terpeleset. Oh iya, bukit yang saya bilang tadi terlihat begitu menggoda untuk perosotan, lebih-lebih kalau saljunya tebal.

Halaman depan asrama

Jalan di sekitar asrama

 

Tidak ada banyak orang yang ada di taman waktu saya main kesana. Hanya ada saya, teman asrama saya, seorang anak jepang, Ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengajak anjingnya bermain-main.

Walaupun saljunya waktu itu masih belum banyak, tapi saya rasa cukup untuk membuat boneka salju, saya pun mencoba membuatnya. Ternyata susah euy membuat bulatan yang besar untuk badan si boneka. Kalau di TV kelihatannya kan tinggal nggelundungin salju yang kecil, nanti jadi gedhe. Kenyataanya susah lho. Kalau saljunya tidak dikepal-kepal dengan baik, bolanya akan mudah pecah. Terus digelundungkan saja juga tidak membuat bulatan bola kita cepat besar.




Taman Depan Asrama


Mencoba membuat boneka salju

Akhirnya boneka salju pertama saya berhasil. Karena kasihan si pak saljunya sendirian saya buatin satu lagi untuk Ibu salju. hahaha. Oh iya, kalau sudah punya bola-bolanya, buat bonekanya mah gampang.


Pak Salju dan Bu Salju :p



Halo-halo, suit-suit

Pesan:

Salju bentuk lain dari hujan. Dan hujan merupakan rezeki yang diturunkan oleh Sang Maha Pencipta. Saat turun hujan adalah salah satu waktu yang baik untuk berdoa. Mari banyak-banyak berdoa saat turun hujan. Semoga menjadi berkah untuk kita semua. 😀

Iklan

2 thoughts on “Main-Main Salju

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s