Awal: Berpetualang di Jepang

Waktu itu ada pameran buku di Masjid Salman. Saya dan Albadr, sepulang dari IRO (international office ITB) – les jepang bersama Kimura Sensei, mencoba melihat-lihat buku yang ada. Sampai kami di stand buku di samping tempat tunggu akhwat, kami menemukan buku yang ditulis oleh mahasiswa Osaka. Seperti biasa kami pun ngobrol basa-basi, dan pada akhirnya saya membeli buku tersebut (maaf saya lupa judul bukunya).

Singkat cerita, buku tersebut membahas bagaimana kehidupan mahasiswa di Jepang. Kebanyakan membahas hal-hal trivial tapi penting seperti bagaimana punya SIM, bagaimana punya mobil, bagaimana apato, sampai bagaimana berpetualan di Jepang dengan cukup murah. Bisa ditebak, kami tertarik dengan pembahasa bagaimana keliling jepang dengan cukup murah. Oh jadi di Jepang ada yang namanya Seishun 18 Kippu. Dengan tiket seharga 11.500 yen, kita sudah bisa keliling jepang selama 5 hari dengan menggunakan jaringan kereta JR. Oke, menarik! Waktu itu, kami pun membayangkan bisa melakukan hal yang sama dengan mas tersebut lakukan. Jadi mas-mas penulis buku tersebut menjelajah jepang dari selatan hingga utara. Padahal kami sendiri masih di Bandung dan kami tidak tahu kapan kami bisa seperti itu. Ya, namanya juga mimpi dan gratis pula. Ya nggak masalah.

Seiring berjalannya waktu, Allah menunjukkan rencana masing-masing untuk kami. Saya terlempar ke Tokyo dan Sahabat saya terhempas ke Toyohashi. Jarak Tokyo-Toyohashi sekitar 214 KM (mirip jarak Kebumen-Bandung). Bagi saya rencana ini luar biasa meskipun kami berada pada kota yang berbeda. Karena (1) kami mendapat kesempatan untuk belajar di Jepang dan (2) dari kami berdua tidak ada yang tertinggal, bisa dikatakan berangkat pada waktu yang sama serta (3) jarak Tokyo – Toyohashi yang bagi kami ideal untuk berpetualang ternyata. Karena itu, ketika ada kesempatan untuk membeli 18 kippu, kami langsung mengeksekusi rencana ini.

Langsung masuk ke bagian utama, 28 Januari 2013 saya mulai perjalanan saya dari Tokyo ke Toyohashi. Niatan awal kami adalah kami langsung menuju ke Osaka. Rencana berubah setelah karena saya berangkat agak siang dari Tokyo sekitar jam 10 pagi. Perjalanan dimulai dari stasiun Aobadai -> Chuorinkan -> Fujisawa. Di Fujisawa saya membeli tiket 18 kippu tersebut. Berangkat dari Fujisawa menuju Atami -> Hamamatsu -> Toyohashi (Jam 4 sore).

Tak banyak hal baru yang saya temui disini kecuali mungkin seperti kereta tingkat dan sinkansen berseliweran. Kereta dari Atami ke Hamamatsu ternyata hanya 3 gerbong saja (nanti dapat tambahan gerbong lagi di Shizuoka), padahal penumpangnya cukup banyak, mungkin karena liburan aja kali. Saya juga bisa melihat Gunung tertinggi di Jepang, Gunung Fuji. Sebelum sampai di Atami, saya melihat laut seperti laut pada umumnya biru dan ada kapal mengapung-ngapung. Terowongan yang cukup panjang di Atami juga dilewati.

Stasiun Atami

Stasiun Atami

Gunung Fuji

Dari Toyohashi, kami melanjutkan perjalanan menuju Kyoto, Osaka, Nara dan Kobe. Untuk pengantar, malam tahun baru kami berada di Osaka dan tahun baru kami ada di Kyoto. Tak ada yang spesial dengan tahun barunya, tapi cuma jadi alat bantu penanda runutan waktu kami berpetualan. 29 Januari kami di Kyoto, 30 Januari kami ke Nara. Bersyukur posisi Osaka yang strategis di tengah-tengah sehingga kami jadikan Osaka sebagai tempat singgah kami.

Kereta Tingkat (reserved seat)

Cerita lengkapnya, nanti lagi yah..

Oh lupa, kalau mau baca versi bagusnya, bisa dibaca ditulisan Albadr.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s