Senja Pelipur Peluh

“Jangan kau pandang lama-lama, nanti kau cepat bosan”, seru pak Tua di bandar. Ah, lagi-lagi pak tua itu, tak bosan-bosannya dia menjahiliku. Pak Kasim namanya. Dia tinggal sebatang kara di pulau ini. Tiap hari Pak Kasim bekerja sebagai kuli panggul di bandar. Dia tinggal di bedeng di samping surau dekat kampung nelayan tak jauh dari bandar. Orang-orang pun tak ada yang tahu dimana keluarga Pak Kasim. Yang kami tahu hanyalah pak kasim berasal dari pulau seberang.

Di kala senja, bandar tampak begitu menawan. Di saat sang mentari perlahan-lahan meninggalkan singgasana di langit biru, langit pun merekah dan berubah menjadi berwarna merah. Banyak bahtera yang mulai lamat-lamat kelihatan dari Bandar. Burung-burung berteriak-teriak mungkin mengabarkan berita ke saudaranya bahwa hari sudah senja. Betapa sibuknya burung-burung itu terbang lalu lalang di depanku. Sedangkan aku berdiri mematung melihat ke arah sang mentari. Mentari pergi bak didampingi oleh patih yang berdiri gagah disisinya. Itulah Pulau Alang dan Pulau Alit. Pak Kasim berasal dari Pulau Alang dan aku berasal dari Pulau Alit.

Bagiku, langit senja itu menjadi bayaranku setelah seharian memeras peluh di warung. Semenjak aku tiba di bandar ini, hanya senja itulah yang membuat hati ini tenang dan sentosa. Lenyap semua perkara yang ada di kepala. Aku sendiri tak pernah bolos menghantar kepergian sang mentari setiap hari. Aku kadang membayangkan mentari itu seperti bapakku. Dan patihnya itu seperti aku dan adiku. Dulu, aku dan adikku sering menanti pulangnya bapak di ujung jalan pada waktu senja dan kami pun berjalan bersama ke rumah. Senja selalu mengingatkan aku akan orang yang aku kasihi di ujung pulau sana.

Tiba-tiba Pak Kasim mendekat, “Tahu kah kau Nak, saat kau bahagia menanti matahari tenggelam, aku merasa sedih.” seru Pak Kasim. Lantas aku pun bertanya keheranan, “Kenapa?”. Bagiku, hampir semua orang senang melihat senja terlebih senja di laut. “Senja itu selalu mengingatkan diriku ini. Ibarat hari, aku ini masuk waktu senja. Senja itu pasti pendek dan habis senja tibalah malam panjang. Aku takut bekalku tak cukup untuk menghadap Yang Kuasa. Dulu, aku sering menunda untuk urusan perbekalan itu, dan aku lebih memilih mengurusi perutku yang sampai sekarang tak kunjung beres. Padahal kini aku sudah di masa senja. Rasanya tak banyak waktu tersisa lagi dan satu hal yang aku syukuri bahwa aku masih memiliki waktu senja ini.” cerita Pak Kasim.

Rampung Pak Kasim bicara, aku pun segera bergegas mengambil tas di warung lalu pulang ke kamar sewaan di kampung nelayan. Meskipun warung ramai, aku sudah boleh pulang karena jatah kerjaku untuk hari itu sudah beres.

Iklan

One thought on “Senja Pelipur Peluh

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s