Pelanggan Setia yang Dihianati, Kisah Seorang Paijo

Pelanggan setia yang dihianati.

Kurang lebih itu kalimat yang dapat menggambarkan situasi penumpang kereta api kelas ekonomi.

Mungkin tulisan ini agak telat, tapi semoga saja masih relevan untuk diungkapkan.

Baru-baru ini PT KAI memang memiliki kebijakan baru yang super duper tidak karuan kalau menurut saya. Di tulisan ini saya hanya berkomentar sebagai masyarakat awam yang tidak akan mempertimbangkan kenapa PT KAI mengambil keputusan tersebut.


Katakanlah ada seorang pemuda sekitar 24 tahunan bernama Paijo. Dia bekerja di kota Kembang Bandung. Istrinya tinggal di Kawunganten, Cilacap, Jawa Tengah. Dia baru 1 tahun menikahi Sulmiati. Sulmiati merupakan mantan buruh tekstil di Kota Bandung. Dulu mereka bertemu karena bekerja di satu perusahaan dan akhirnya perkenalan tersebut mengantarkannya hingga pelaminan.

Singkat cerita, beberapa bulan setelah menikah, istri paijo pun hamil dan berhasil melahirkan sekitar seminggu yang lalu. Semenjak hamil pula, Sulmiati tidak lagi bekerja di pabrik tekstil tempat suaminya dulu bekerja. Sulmiati lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya di Kroya demi menjaga calon buah hatinya. Hidup di kampung memang lebih murah dibandingkan harus hidup di kota. Selain itu, di rumahnya sana, ada orang tuannya yang senantiasa menjaga dan membantu Sulmiati. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhannya, dia sendiri tidak perlu membeli beras, karena sawah orang tuanya sudah bisa mencukupi untuk cadangan beras selama setahun.

Paijo sendiri memilih keluar dari tempat kerjanya, karena dirasa sudah tidak mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya. Dia memilih bekerja menjadi kuli bangunan yang dirasa-rasa bisa memberikan bayaran lebih banyak. Terlebih, dia harus menyiapkan kebutuhan persalinan dan kebutuhan setelah si buah hati lahir ke dunia. Kondisi ini pula yang menyebabkan dia rela berpisah jauh dengan istrinya.

Demi mengatasi rasa kangen, paijo selalu menelepon istrinya tiap pagi dan sore. Singkat, hanya bertanya kondisi istrinya dan buah hatinya serta kondisi rumahnya. Kalau sedang tidak punya pulsa, terpaksa dia hanya meng-sms istrinya saja. Walaupun begitu, paijo tetap bahagia dan mendambakan buah hatinya.

Selain itu, paijo juga selalu rajin pulang kerumah 2 minggu sekali. Beruntung, pulang kerumah masih cukup murah, hanya 20 ribu. Paijo selalu menggunakan kereta api untuk pulang kerumah. Selain karena murah juga cepat sampai rumah. Paijo tidak peduli dengan kondisi nyaman atau tidak disana. Yang penting dia bisa sampai rumah.

Banyak pengalaman yang tidak enak menggunakan kereta api. Dulu dia sering berdiri dari Bandung hingga kroya atau bahkan dia harus berdiri di dalam toilet kereta. Tapi dia bersyukur, kondisi itu tidak lagi ditemui. Sekarang dia selalu duduk di kereta api. Dia sendiri tidak terlalu keberatan dengan prosedur pemesanan kereta api yang harus dilakukan jauh-jauh hari.

Tapi sayang seribu sayang. Kereta api baru saja mengumumkan akan mengganti kereta eknomi menjadi Ekonomi AC. Harganya pun naik hingga 5 kali lipat. Iya, 5 kali lipat, dari 20 ribu menjadi 100 ribu. Selain itu, duit pembatalan tiket juga baru dibayarkan setelah 30 hari pembatalan (padahal dia sendiri kadang membatalkan tiket, karena tidak jarang ada panggilan lembur dari proyek yang sedang dikerjakan, sehingga tiket yang dibeli mesti dibatalkan). Belum lagi ada beberapa kereta yang tidak lagi berhenti di stasiunnya. Sehingga pilihan kereta untuk pulang pun tidak sebanyak lagi seperti dulu.

Paijo pun akhirnya mengurungkan niat pulang 2 minggu sekali untuk melihat sang buah hati yang semakin hari semakin lucu. Dia memutuskan pulang setiap sebulan sekali. Itu pun sudah memotong jatang uang untuk istri tercintanya dan susu anaknya.

Tak apalah, yang penting masih bisa ketemu si buah hati – gumamnya dalam hati.

Singkat cerita, setiap pagi, ia selalu menelpon istri dan buah hatinya. Paijo sendiri enggan untuk berganti ke moda lain, mengingat ia sudah begitu percaya dan cinta menggunakan kereta api, apapun kebijakannya. Ia pun masih akan rutin untuk pulang seminggu sekali.


Cerita di atas hanyalah fiktif belaka. Saya gunakan untuk menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan. Walaupun begitu, tak dapat dipungkiri, ada banyak orang seperti Paijo yang terkena imbas dari kebijakan baru tersebut.

Iklan

One thought on “Pelanggan Setia yang Dihianati, Kisah Seorang Paijo

  1. Ping-balik: Reformasi Birokrasi Pemerintah dan Pembayaran Pajak Motor Tahunanku | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s