TV-TV di Era Demokrasi

TV, mau diakui atau tidak, merupakan penyebaran media paling efektif yang menjangkau wilayah luas- Nasional lho. Bandingkan dengan radio, yang umumnya lokal wilayah tertentu. Surat kabar memang menasional, tapi tidak semua orang mau membeli koran untuk dibaca. Di desa saya tinggal saja, koran begitu sulit ditemukan. Kalau mau beli, jauh sekali harus ke pasar kecamatan. Di TV, kita bisa mendapatkan hiburan, tapi tidak dengan koran (mungkin paling pol, hiburannya berupa cerita).

Well, zaman memang sudah berubah. Era sebelum 2000-an, merupakan tahun-tahun terakhir orde baru, sedangkan era tahun 2000-an merupakan katanya era demokrasi.

Sedikit saya mencoba mengulas acara TV tahun 90-an (sesuai yang saya ingat). TV saat itu masih cukup mahal, dan di rumah saya sendiri masih menggunakan TV hitam putih. Di era ini, acara TV banyak dipadati acara anak-anak (mulai dari serial TV anak-anak, lagu anak-anak (bukan anak-anak nyanyi lagu dewasa), dan film anak-anak tentunya). Berita juga dapat ditemui, mulai dari berita nasional sampai internasional. Nunggu lagi Garuda Pancasila setiap malam (ikut menyanyi bersama) dan tentunya menjumpai lagu Indonesia Raya saat pagi hari. Sinetron masih belum sebanyak sekarang (masih sekelas Si Doel dan sinetron China). Kalau mau nyari serial yang berbau mistis dan cinta buatan dalam negeri, juga ada (tapi masih 1 -2 lah tidak seperti sekarang ini). Dan satu lagi, sepertinya belum ada TV yang 24 seperti sekarang.

Demokrasi ternyata memang membawa angin kesegaran untuk dunia per-TV-an. Seperti partai yang mulai bermunculan seperti cendawan, Stasiun TV pun mulai bermunculan, mulai dari TV lokal sampai TV nasional. Mulai dari TV analog sampai TV digital. Tak jarang ada beberapa stasiun TV yang dimiliki oleh tokoh pemain dalam dunia politik. Berita-berita pun mulai beragam. Pastilah, kan zaman ini campur tangan pemerintah dalam urusan berita tidak ada lagi. Mulai muncul acara berita dari berita politik, berita artis (gosip artis), olahraga, sampai berita kriminal bahkan ada stasiun TV yang khusus menyiarkan berita saja. Dari hari ke hari berita korupsi semakin merajalela, berita pembunuhan semakin gencar terdengar, dan tak kalah berita pemerkosaan pun semakin banyak bermunculan.

Bagaimana dengan anak-anak? Menurut pribadi saya, acara anak-anak sudah tidak memiliki tempat lagi (sempit). Banyak acara anak-anak disunat atau bahkan dihapuskan. Kadang saya berpikir, jangan-jangan waktu 24 jam sehari tidak cukup untuk acara TV.

Kali ini saya mencoba mengambil contoh rangkaian acara TV di sebuah stasiun. Acara TV dimulai dari jam 0 dini hari. Dini hari dimulai dengan acara sebuah film laga, dilanjutkan berita malam, dan tentu menjelang subuh kita menjumpai acara religi. Setelah acara religi disambung dengan acara berita. Berita usai, berlanjut ke acara gosip, dan diteruskan dengan acara musik. Sintron FTV lagi, gosip lagi, berita lagi, sinetron lagi, gosip lagi, gosip lagi, sinetron lagi, berita malam, dan terakhir sinetron serta variety show hingga tengah malam.

Ringkas tentang komposisi acara TV di zaman ini yaitu: berita, acara musik, gosip, dan sinetron. Mungkin karena kita sekarang sudah mencapai tahap kemandirian industri sinetron jadi produksinya surplus sehingga tiap hari ditayangkan, sinetron masih tetap ada. Begitu pula dengan industri musik di Indonesia yang semakin banyak melahirkan penyanyi-penyanyi dan kelompok penyanyi sampai-sampai saya sendiri tidak bisa menyebutkan satu per satu karena saking banyaknya.

Eits, kalau sebelumnya banyak sinetron dan gosip, sekarang di suatu stasiun ada banyak acara variety show dan talent show.  Singkatnya ada 3 jenis stasiun TV secara umum di zaman ini yaitu, TV berita, TV sinetron dan gosip, serta TV show (reality, variety, talent, liputan-liputan-kek jalan-jalan).

Satu lagi, di zaman ini, semua acara diberikan label untuk memudahkan pemirsa menonton TV. Komentar saya, setiap kalangan bisa menonton acara ini karena walaupun berlabel Dewasa biasanya akan didampingi label BO (bimbingan orang tua).


Update:

Ternyata klasifikasi itu sudah berubah. Ada SU (semua umur 2 thn+), A (anak-anak, 7-12 thn), R (remaja, 13-17 thn), P (pra sekolah, 2-6 thn), D (dewasa, 18 tahun +). Kali ini, terlihat lebih tegas.


Begitulah alam demokrasi, semua bebas membuat, dan semua kembali ke masyarakat itu sendiri. Tidak hanya pemilihan pemimpin, tapi juga sampai acara TV. Bebas-bebas saya mau buat apa, yang penting saya sudah memberikan peringatan/label. Peringatan tak ubahnya adalah pelemparan tanggung jawab dari pembuat kembali ke masyarakat (yang kadang masyarakat tidak menghiraukannya).  Masyarakat sendiri harus bisa memilah dan mendampingin buah hatinya ketika menonton TV.

Dan kita tentu akan bertanya, betulkah setiap orang tua mendampingin anaknya setiap menonton TV? Pengalaman saya, tidak seideal itu terjadi. Yang ada anak bebas melihat acara TV apapun, baik di dampingi orang tua (orang tua duduk di samping anak) ataupun tidak.

Ingin contoh? Lihatlah kasus anak me-smack down temannya, atau menirukan adegan di film tertentu hingga temannya meninggal.

Lihatlah, banyak anak-anak usia balita menyanyi lagu-lagu dewasa (kebanyakan cenggeng dan berkutat dengan cinta). Lalu bagaimana dengan orang tuanya, orang tuanya tampak biasa-biasa saja. Atau bahkan merekamnya dengan kamera HP. Lihatlah banyak anak-anak berdandan semakin aneh menirukan grup band kesukaanya.

Anak-anak sendiri kekerungan tokoh untuk ditiru, karena yang dimunculkan terus adalah artis dan penyanyi. Padahal di dunia ini ada banyak tokoh yang bisa di tampilkan.

Ah, nyaris lupa. Tahu KPI? KPI sendiri baru menegur suatu acara TV jika ada yang melaporkannya. Jika tidak, ya tidak di laporkan. Itu berarti memang di zaman ini, masyarakat lah yang harus dituntut aktif dalam menilai acara TV yang ditontonnya. Tapi jujur, ada yang disayangkan dari mekanisme ini, yaitu masyarakat harus melihat dulu suatu hal yang tidak bersesuaian baru kemudian melaporkannya. Lebih lagi, masih banyak masyarakat yang belum tahu bagaimana jika ingin melaporkannya. Atau bahkan masih ada masyarakat yang masih belum tahu. Satu hal yang patut diapresiasi, dengan adanya KPI, masyarakat jadi memiliki perpanjangan tangan untuk memberikan aspirasinya ke stasiun TV.

Lihat lah saudara kita, adik-adik kita, dan berikanlah perhatian kepadanya.

Iklan

One thought on “TV-TV di Era Demokrasi

  1. Hahaha ternyata ada toh orang yang pernah merasakan sensasi TV hitam putih dulu xD..kirain udah ga ada..saya juga sempet tuh merasakan punya TV yang hitam putih, udah gitu ditonton orang satu kampung lagi xD..romantis banget kan..

    iya kasian anak-anak, mereka bergaya dewasa tapi belum matang karena memang belum waktunya..merubah lingkungan makro akan sulit, ga ada cara lain kecuali menjaga lingkungan mikronya, alias jadi ortu yang baik..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s