Beli 2 Bonus 1

Karena ada yang bilang dipoles. Akhirnya saya poles deh. Padahal aslinya tidak mau saya poles biar ada yang nanya. Tapi karena sudah ada yang tanya, ya tak apa lah.


Kalau ke minimarket, pasti pernah menemui tulisan beli produk A 2 gratis dapat 1 produk A lagi. Menarik banget buat promosi. Walaupun kadang saya sempat berprasangkan buruk,

Wah, jadi harga asli produk ini ternyata hanya 2/3 harga yang tertera dong kalau begitu.

Balik ke urusan beli 2 dapat 1. Kejadiaanya sewaktu saya mampir ke sebuah minimarket di Ciumbelueit (semoga nulisnya benar), saya kembali membaca tulisan ini. Dalam hati saya: asyik sih, tapi saya cuma butuh 1. Ya sudah lah.

Saya ambil satu botol minuman teh olahan itu dan segera menuju di kasir. Di meja kasir, terjadi pembiacaraan kurang lebih ini:

K1: 5.x00 Mas. Mau beli dua?

Sy: Nggak mba, 1 aja.

Saya pun menyerahkan uang 5x.xxx.

K1: Teh, mau beli nggak? Mau yang mana?

K1: Ada uang 500 mas?

Sy: Nggak ada mba.

K1: Ini kembaliannya Mas, 44.x00

Akhirnya, saya pun memperlambat jalan saya.

K1: Ini, Mirai Cxx, mau yang mana teh? Yang original apa yang apa?

K2: Original aja.

Saya pun pergi meninggalkan mereka. Mesin kasir pun belum menunjukkan tanda-tanda transaksi telah selesai.

Kreatif tapi terang-terangan itu yang saya kesel. Tapi ya sudahlah. State mesin kasir masih dalam status transaksi belum selesai. Mbak kasir menanyakan temannya mau beli teh yang kek mana. Kalau mereka beli 1 lagi kan nanti dapat 1 lagi. Nah, mereka kan tinggal patungan buat beli 1 teh lagi.

Tak ada yang salah beli 2 bonus 1, lebih-lebih kalau ada orang yang hanya beli1 kan tinggal nambah 1 lagi terus dapat bonus 1. Ya kan? 🙂

Iklan

Pelanggan Setia yang Dihianati, Kisah Seorang Paijo

Pelanggan setia yang dihianati.

Kurang lebih itu kalimat yang dapat menggambarkan situasi penumpang kereta api kelas ekonomi.

Mungkin tulisan ini agak telat, tapi semoga saja masih relevan untuk diungkapkan.

Baru-baru ini PT KAI memang memiliki kebijakan baru yang super duper tidak karuan kalau menurut saya. Di tulisan ini saya hanya berkomentar sebagai masyarakat awam yang tidak akan mempertimbangkan kenapa PT KAI mengambil keputusan tersebut.


Katakanlah ada seorang pemuda sekitar 24 tahunan bernama Paijo. Dia bekerja di kota Kembang Bandung. Istrinya tinggal di Kawunganten, Cilacap, Jawa Tengah. Dia baru 1 tahun menikahi Sulmiati. Sulmiati merupakan mantan buruh tekstil di Kota Bandung. Dulu mereka bertemu karena bekerja di satu perusahaan dan akhirnya perkenalan tersebut mengantarkannya hingga pelaminan.

Singkat cerita, beberapa bulan setelah menikah, istri paijo pun hamil dan berhasil melahirkan sekitar seminggu yang lalu. Semenjak hamil pula, Sulmiati tidak lagi bekerja di pabrik tekstil tempat suaminya dulu bekerja. Sulmiati lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya di Kroya demi menjaga calon buah hatinya. Hidup di kampung memang lebih murah dibandingkan harus hidup di kota. Selain itu, di rumahnya sana, ada orang tuannya yang senantiasa menjaga dan membantu Sulmiati. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhannya, dia sendiri tidak perlu membeli beras, karena sawah orang tuanya sudah bisa mencukupi untuk cadangan beras selama setahun.

Paijo sendiri memilih keluar dari tempat kerjanya, karena dirasa sudah tidak mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya. Dia memilih bekerja menjadi kuli bangunan yang dirasa-rasa bisa memberikan bayaran lebih banyak. Terlebih, dia harus menyiapkan kebutuhan persalinan dan kebutuhan setelah si buah hati lahir ke dunia. Kondisi ini pula yang menyebabkan dia rela berpisah jauh dengan istrinya.

Demi mengatasi rasa kangen, paijo selalu menelepon istrinya tiap pagi dan sore. Singkat, hanya bertanya kondisi istrinya dan buah hatinya serta kondisi rumahnya. Kalau sedang tidak punya pulsa, terpaksa dia hanya meng-sms istrinya saja. Walaupun begitu, paijo tetap bahagia dan mendambakan buah hatinya.

Selain itu, paijo juga selalu rajin pulang kerumah 2 minggu sekali. Beruntung, pulang kerumah masih cukup murah, hanya 20 ribu. Paijo selalu menggunakan kereta api untuk pulang kerumah. Selain karena murah juga cepat sampai rumah. Paijo tidak peduli dengan kondisi nyaman atau tidak disana. Yang penting dia bisa sampai rumah.

Banyak pengalaman yang tidak enak menggunakan kereta api. Dulu dia sering berdiri dari Bandung hingga kroya atau bahkan dia harus berdiri di dalam toilet kereta. Tapi dia bersyukur, kondisi itu tidak lagi ditemui. Sekarang dia selalu duduk di kereta api. Dia sendiri tidak terlalu keberatan dengan prosedur pemesanan kereta api yang harus dilakukan jauh-jauh hari.

Tapi sayang seribu sayang. Kereta api baru saja mengumumkan akan mengganti kereta eknomi menjadi Ekonomi AC. Harganya pun naik hingga 5 kali lipat. Iya, 5 kali lipat, dari 20 ribu menjadi 100 ribu. Selain itu, duit pembatalan tiket juga baru dibayarkan setelah 30 hari pembatalan (padahal dia sendiri kadang membatalkan tiket, karena tidak jarang ada panggilan lembur dari proyek yang sedang dikerjakan, sehingga tiket yang dibeli mesti dibatalkan). Belum lagi ada beberapa kereta yang tidak lagi berhenti di stasiunnya. Sehingga pilihan kereta untuk pulang pun tidak sebanyak lagi seperti dulu.

Paijo pun akhirnya mengurungkan niat pulang 2 minggu sekali untuk melihat sang buah hati yang semakin hari semakin lucu. Dia memutuskan pulang setiap sebulan sekali. Itu pun sudah memotong jatang uang untuk istri tercintanya dan susu anaknya.

Tak apalah, yang penting masih bisa ketemu si buah hati – gumamnya dalam hati.

Singkat cerita, setiap pagi, ia selalu menelpon istri dan buah hatinya. Paijo sendiri enggan untuk berganti ke moda lain, mengingat ia sudah begitu percaya dan cinta menggunakan kereta api, apapun kebijakannya. Ia pun masih akan rutin untuk pulang seminggu sekali.


Cerita di atas hanyalah fiktif belaka. Saya gunakan untuk menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan. Walaupun begitu, tak dapat dipungkiri, ada banyak orang seperti Paijo yang terkena imbas dari kebijakan baru tersebut.

Pengecut yang Ingin Kenalan

Mungkin hampir setiap orang yang memiliki HP pernah mengalami hal ini.

Kenalan?

Iya, kenalan.

Pernah ditelepon orang ketika hendak diangkat kemudian diputus?

Atau miscall beberapa kali?

Ada orang tiba-tiba mengirim pesan “cp ya?” padahal kita sendiri baru mengenal nomor tersebut?

Ujung-ujungnya dia bertanya “boleh kenalan tidak?”, “ini cowo atau cewe?”

Kesal bukan? Dan memang tidak ada untungnya melayani orang seperti ini.

Belum lama, saya mengalami peristiwa ini. Urutan kejadian persis seperti di atas. Tapi sedikit berbeda.

Singkatnya, si pengagum (baca: pelaku/orang yang ingin kenalan) menelepon saya pagi hari. Seperti biasa saya angkat, tapi putus tiba-tiba (saya masih berprasangka baik, kalau saya telat menekan tombol). Ah, saya lihat, ternyata dia sudah menelepon saya dua kali, jadi telepon tersebut adalah kali ketiga dia menelpon. Karena tampak penting saya telepon itu orang, eh, dia memutus sambungan telepon saya (masih berprasangka baik, mungkin dia sibuk saat itu).

Eh, tiba-tiba ada sms masuk. bunyinya “cp y?”. Sontak saya pun sedikit kesal, dan saya balas dengan bahasa yang super formal sekali. Akhirnya dia mengaku dapat nomor saya dari sebuah sms undian, katanya kalau menang diminta menghubungi nomor saya. Diakhir sms, dia menanyakan saya cewe atau cowo. Saya membalas dan meminta dia meneruskan pesan tersebut ke HP saya berikut nomor pengirimnya. Saya juga memberikan info tambahan, tolong jangan dipercaya sms tersebut.

Akhirnya sms balasan pun tiba, dia memberikan nomor pengirim, tapi sayang sms-nya sudah dihapus. Di akhir pesan, dia menanyakan boleh kenalan tidak, ini cowo atau cewe.


Tanggapan:

Setelah menerima pesan terakhir dari pengagum, saya pun berkesimpulan, dia hanya ingin berkenalan dengan saya. Dia hanya mengarang cerita bahwa mendapatkan nomor saya dari sms undian. Rasanya memang janggal bukan, kenapa dia harus menelepon nomor saya, kalau bukti undian yang mengatakan bahwa dia menang dihapus. Dia bercerita kalau nomor yang pengirimnya juga sudah tidak bisa dihubungi. Selain itu, kalau itu sms benar terjadi, apa pula motif pengirim sms dengan memberikan nomor saya di sms-nya untuk konfirmasi hadiah kalau memang dia ingin menipu orang.

Dalam angan saya, saya yakin, ini tipe orang yang menelepon ke nomor asal hanya untuk kenalan saja. Seperti biasa kelakuannya, sehabis sms dia miscall, saat angkat atau ditelepon, dia mematikannya. Maunya cuma sms. Kalau nanti dibalas cewe, terus berlanjut ke kenalan  (kalau yang ngirim cowo),  atau sebaliknya. Ah, basi!

Tapi tetap, kalau mau kenalan, ya kenalan saja. Jawab saja jujur maksudnya apa. Kalau dilakukan dengan baik-baik, insyaAllah pasti ditanggapi dengan baik-baik juga. Kalau begini ceritanya, si pelaku sendiri tentu sudah dapat cap pengecut tidak peduli nantinya jadi kenal atau tidak.

Terlepas dari hal tersebut, berhati-hatilah terhadap atribut identitas yang kita miliki. Bisa jadi memang ada orang yang iseng-iseng memasukkan atribut identitas kita disana. Kalau begini ceritanya, kita sendiri kan yang namanya buruk.

 

 

TV-TV di Era Demokrasi

TV, mau diakui atau tidak, merupakan penyebaran media paling efektif yang menjangkau wilayah luas- Nasional lho. Bandingkan dengan radio, yang umumnya lokal wilayah tertentu. Surat kabar memang menasional, tapi tidak semua orang mau membeli koran untuk dibaca. Di desa saya tinggal saja, koran begitu sulit ditemukan. Kalau mau beli, jauh sekali harus ke pasar kecamatan. Di TV, kita bisa mendapatkan hiburan, tapi tidak dengan koran (mungkin paling pol, hiburannya berupa cerita).

Well, zaman memang sudah berubah. Era sebelum 2000-an, merupakan tahun-tahun terakhir orde baru, sedangkan era tahun 2000-an merupakan katanya era demokrasi.

Sedikit saya mencoba mengulas acara TV tahun 90-an (sesuai yang saya ingat). TV saat itu masih cukup mahal, dan di rumah saya sendiri masih menggunakan TV hitam putih. Di era ini, acara TV banyak dipadati acara anak-anak (mulai dari serial TV anak-anak, lagu anak-anak (bukan anak-anak nyanyi lagu dewasa), dan film anak-anak tentunya). Berita juga dapat ditemui, mulai dari berita nasional sampai internasional. Nunggu lagi Garuda Pancasila setiap malam (ikut menyanyi bersama) dan tentunya menjumpai lagu Indonesia Raya saat pagi hari. Sinetron masih belum sebanyak sekarang (masih sekelas Si Doel dan sinetron China). Kalau mau nyari serial yang berbau mistis dan cinta buatan dalam negeri, juga ada (tapi masih 1 -2 lah tidak seperti sekarang ini). Dan satu lagi, sepertinya belum ada TV yang 24 seperti sekarang.

Demokrasi ternyata memang membawa angin kesegaran untuk dunia per-TV-an. Seperti partai yang mulai bermunculan seperti cendawan, Stasiun TV pun mulai bermunculan, mulai dari TV lokal sampai TV nasional. Mulai dari TV analog sampai TV digital. Tak jarang ada beberapa stasiun TV yang dimiliki oleh tokoh pemain dalam dunia politik. Berita-berita pun mulai beragam. Pastilah, kan zaman ini campur tangan pemerintah dalam urusan berita tidak ada lagi. Mulai muncul acara berita dari berita politik, berita artis (gosip artis), olahraga, sampai berita kriminal bahkan ada stasiun TV yang khusus menyiarkan berita saja. Dari hari ke hari berita korupsi semakin merajalela, berita pembunuhan semakin gencar terdengar, dan tak kalah berita pemerkosaan pun semakin banyak bermunculan.

Bagaimana dengan anak-anak? Menurut pribadi saya, acara anak-anak sudah tidak memiliki tempat lagi (sempit). Banyak acara anak-anak disunat atau bahkan dihapuskan. Kadang saya berpikir, jangan-jangan waktu 24 jam sehari tidak cukup untuk acara TV.

Kali ini saya mencoba mengambil contoh rangkaian acara TV di sebuah stasiun. Acara TV dimulai dari jam 0 dini hari. Dini hari dimulai dengan acara sebuah film laga, dilanjutkan berita malam, dan tentu menjelang subuh kita menjumpai acara religi. Setelah acara religi disambung dengan acara berita. Berita usai, berlanjut ke acara gosip, dan diteruskan dengan acara musik. Sintron FTV lagi, gosip lagi, berita lagi, sinetron lagi, gosip lagi, gosip lagi, sinetron lagi, berita malam, dan terakhir sinetron serta variety show hingga tengah malam.

Ringkas tentang komposisi acara TV di zaman ini yaitu: berita, acara musik, gosip, dan sinetron. Mungkin karena kita sekarang sudah mencapai tahap kemandirian industri sinetron jadi produksinya surplus sehingga tiap hari ditayangkan, sinetron masih tetap ada. Begitu pula dengan industri musik di Indonesia yang semakin banyak melahirkan penyanyi-penyanyi dan kelompok penyanyi sampai-sampai saya sendiri tidak bisa menyebutkan satu per satu karena saking banyaknya.

Eits, kalau sebelumnya banyak sinetron dan gosip, sekarang di suatu stasiun ada banyak acara variety show dan talent show.  Singkatnya ada 3 jenis stasiun TV secara umum di zaman ini yaitu, TV berita, TV sinetron dan gosip, serta TV show (reality, variety, talent, liputan-liputan-kek jalan-jalan).

Satu lagi, di zaman ini, semua acara diberikan label untuk memudahkan pemirsa menonton TV. Komentar saya, setiap kalangan bisa menonton acara ini karena walaupun berlabel Dewasa biasanya akan didampingi label BO (bimbingan orang tua).


Update:

Ternyata klasifikasi itu sudah berubah. Ada SU (semua umur 2 thn+), A (anak-anak, 7-12 thn), R (remaja, 13-17 thn), P (pra sekolah, 2-6 thn), D (dewasa, 18 tahun +). Kali ini, terlihat lebih tegas.


Begitulah alam demokrasi, semua bebas membuat, dan semua kembali ke masyarakat itu sendiri. Tidak hanya pemilihan pemimpin, tapi juga sampai acara TV. Bebas-bebas saya mau buat apa, yang penting saya sudah memberikan peringatan/label. Peringatan tak ubahnya adalah pelemparan tanggung jawab dari pembuat kembali ke masyarakat (yang kadang masyarakat tidak menghiraukannya).  Masyarakat sendiri harus bisa memilah dan mendampingin buah hatinya ketika menonton TV.

Dan kita tentu akan bertanya, betulkah setiap orang tua mendampingin anaknya setiap menonton TV? Pengalaman saya, tidak seideal itu terjadi. Yang ada anak bebas melihat acara TV apapun, baik di dampingi orang tua (orang tua duduk di samping anak) ataupun tidak.

Ingin contoh? Lihatlah kasus anak me-smack down temannya, atau menirukan adegan di film tertentu hingga temannya meninggal.

Lihatlah, banyak anak-anak usia balita menyanyi lagu-lagu dewasa (kebanyakan cenggeng dan berkutat dengan cinta). Lalu bagaimana dengan orang tuanya, orang tuanya tampak biasa-biasa saja. Atau bahkan merekamnya dengan kamera HP. Lihatlah banyak anak-anak berdandan semakin aneh menirukan grup band kesukaanya.

Anak-anak sendiri kekerungan tokoh untuk ditiru, karena yang dimunculkan terus adalah artis dan penyanyi. Padahal di dunia ini ada banyak tokoh yang bisa di tampilkan.

Ah, nyaris lupa. Tahu KPI? KPI sendiri baru menegur suatu acara TV jika ada yang melaporkannya. Jika tidak, ya tidak di laporkan. Itu berarti memang di zaman ini, masyarakat lah yang harus dituntut aktif dalam menilai acara TV yang ditontonnya. Tapi jujur, ada yang disayangkan dari mekanisme ini, yaitu masyarakat harus melihat dulu suatu hal yang tidak bersesuaian baru kemudian melaporkannya. Lebih lagi, masih banyak masyarakat yang belum tahu bagaimana jika ingin melaporkannya. Atau bahkan masih ada masyarakat yang masih belum tahu. Satu hal yang patut diapresiasi, dengan adanya KPI, masyarakat jadi memiliki perpanjangan tangan untuk memberikan aspirasinya ke stasiun TV.

Lihat lah saudara kita, adik-adik kita, dan berikanlah perhatian kepadanya.