Di Saat-saat Bulan Purnama

Dua hari yang lalu, Bulan menunjukkan purnamanya. Langit pun begitu cerah. Rasanya hampir 5 tahun aku tinggal di Bandung, baru melihat bulan purnama di sini, seterang dan rasanya begitu dekat. Padahal sore harinya, Bandung sendiri diguyur hujan.

Kalau bulan purnama, aku teringat dua hal: main dan wayang.

Waktu kecil dulu (zaman lampu masih minim), aku dan teman-teman sering main di luar rumah kalau purnama. Karena bulan purnama di rumah sana, semakin malam justru semakin terang. Kalau dibayangkan mungkin terangnya seperti sore hari menjelang maghrib. Kami dulu suka main petak umpet (bancakan- bukan kenduri), gobak sodor (walaupun aku sendiri hanya melihatnya untuk yang ini), dan yang terakhir adalah jonjang (aduh, nggak tahu istilah Indonesianya, tapi intinya kalau dikenai masang – tapi variasinya buanyak buanget). Kami baru berhenti main kalau kami sudah dipanggil oleh orang tua masing-masing. Hahaha. 🙂

Yang kedua adalah nonton wayang kulit. Bapak selalu mengajakku nonton wayang setiap ada pertunjukan wayang (rutinnya 1 tahun sekali). Hmm, rasanya lama banget. Dan terakhir nonton wayang bareng lagi itu, tahun lalu (setelah sekian tahun nggak nonton bareng). Waktu dulu, kalau nonton wayang, bapak dan aku biasanya berangkat sekitar jam 2-an (pagi).

Dengan gaya khas bapak setiap kali membangunkan anaknya, disenggol-senggol/dipegang-pegang pipi anaknya. Hehe. Kalau sudah agak bangun terus dibilangin dengan suara rendahnya (tepat di kuping), “leh arep nonton wayang ora?”. Rasanya selalu, saya mengiyakan ajakan Bapak kala itu. Waktu dulu, aku sendiri seneng banget kalau diajak nonton wayang sama Bapak, karena pasti ditawari mau jajan apa dan dibelikan jajan begitu sampai ditempat pertunjukkan.

Tontonan wayang saat dini hari itu memang biasanya sepi. Yang biasanya ada banyak orang-orang tua. Katanya tuh, kalau semakin larut, cerita wayang-nya semakin seru. Walaupun aku sendiri, nggak terlalu tahu ceritanya :p, tapi bapakku kalau ditanya dengan senang hati menceritakannya. Paling senang dulu, aku dibelikan jajan pistol-pistolan yang biasa bunyi jter dan sebungkus permen davos. Hahaha. Soalnya seneng, saat permennya habis, terus minum air, ada sensasi Mint di mulut.

Ah, aku juga masih punya wayang lho walaupun dari kertas (yang agak tebal, kalau dari kulit mahal). Ceritanya dulu, mungkin waktu itu, kali pertama diajak nonton wayang, aku minta dibelikan wayang. Nah, pas bapak mau beli wayang, si penjual wayang bilang nggak boleh beli cuma 2, jadi kalau mau minimal 1 kodi. Akhirnya, mau tidak mau-demi anaknya, bapak beli wayang 1 kodi (20 lembar). Senang bukan kepalang waktu itu punya wayang sebanyak itu. Akhirnya, aku  memainkan wayang tersebut layaknya seorang dalang (tapi pakai cerita imajinasi sendiri) di ruang tamu rumah di dinding sebelah kanan (entah berapa lama kebiasaan itu dilakukan, mungkin sampe sekolah di sd kelas 3 keknya). Aku sendiri lupa siapa aja yang sering dimainin, tapi yang jelas krisna dan gatot kaca masuk di daftar itu. Oh iya, waktu itu bapakku belinya beberapa hari setelah pertunjukan wayang, karena ditempat pertunjukan wayang nggak ada yang jualan. Akhirnya bapakku menjanjikannya esok harinya :p.

Karena masih kecil, aku biasanya dipangku di dalam sarung sewaktu nonton. Sebelum subuh, biasanya kami pulang. Saat pulang biasanya saya dipanggul di atas pundak. Nah, kalau lihat ke atas, biasanya ada bulan (walaupun nggak selalu purnama, tapi seringnya iya, kan wayang nampil diitung pakai kalendar jawa-biasanya mepet2 tanggal 15-an atau pas jumat kliwon).

Wah, Bapakku hebat, terima kasih 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s