PKL, Masyarakat, dan Pemerintah, Jadi Siapa?

Belum lama ini sekitar bulan Januari, PKL di sekitar gerbang belakang ITB di razia oleh pemerintah. Sedikit banyak saya mengikuti berita terbaru berkaitan hal tersebut. Posisi mahasiswa memang cukup rumit. Karena tidak mungkin melakukan pembenaraan terhadap PKL, dan tidak bisa melarang pemerintah pula untuk tidak melakukan razia. Hanya sedikit memberikan gambaran, sekarang kios-kios telah berdiri kembali, terlihat cantik berjajar di tepi jalan. Mungkin tak lama lagi,  orang pun akan sedikit demi sedikit lupa akan persoalan tersebut.

Tanpa sengaja, tiba-tiba sore ini saya kepikiran masalah PKL. Saya pun kembali bertanya, memang sepenuhnya PKL itu salah? Kemudian saya pun penasaran, sejak kapan sebenarnya PKL tersebut ada di sana? Apa yang terjadi jika PKL tersebut ditertibkan pada waktu itu (1/2 hari setelah ada di sana). Atau apa yang terjadi jika saat itu kita enggan untuk membelinya? Yup, mungkin orang-orang yang berjualan di sana sekarang sudah memiliki profesi lain. Bisa jadi nasibnya lebih baik dari sekarang atau bahkan selanjutnya. Sayangnya kita tidak mungkin kembali ke masa lalu dan melakukan hal itu.

Tapi mungkin itulah salah satu contoh persoalan yang tidak kunjung diselesaikan atau dicari solusinya. Lama-kelamaan akan semakin membesar dan semakin kompleks. Karena mungkin akan berbeda cerita, ketika pemerintah menertibkan PKL di awal-awal keberdaanya. Kondisi sekarang ini, PKL sudah menjadi zona nyaman para pelakunya dan banyak yang menggantungkan hidupnya di sana. Sehingga saat terjadi penertiban, pemerintah seolah-olah merampas hidup orang-orang tersebut.

Di sisi lain, kita yang menjadi pelangganya, kita menerima manfaat yang tidak sedikit dari keberadaan PKL tersebut. Kita bisa memenuhi kebutuhan perut dan kebutuhan lainnya dengan mudah, tidak perlu mencari ketempat yang jauh. Tapi kita juga sadar bahwa keberadaan mereka di sana sebenarnya menyalahi aturan yang ada. Dan seolah-olah kita lupa akan hal tersebut dan cenderung kita membiarkannya, termasuk diri saya sendiri (rasanya).

Pada akhirnya, PKL tidak sepenuhnya salah ketika usahanya menempati wilayah tersebut, karena banyak pihak yang membairkannya. Masyarakat juga tidak sepenuhnya benar, karena secara langsung menerima manfaat keberadaanya, dan di sisi lain, pemerintah juga tidak dapat dikatakan benar dengan melakukan penertiban beberapa kali saja dan membiarkan persoalan tersebut berulang. Jadi siapa?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s