Katanya Kaum Intelektual

Saya hanya akan menyinggung salah satu bagian dari kelompok intelektual sebut saja mahasiswa. Kenapa dengan mahasiswa? Akhir-akhir ini, saya sering melihat segerombolan sekelompok mahasiswa yang berdiri di trotroar tengah jalan untuk mengamen. Hmm, mahasiswa kok ya ngamen, katanya mengaku bagian kaum intelektual kok ya, nggak intelek. Kurang lebih itu komentar saya dalam hati. Ada yang salah, saya mohon maaf, dan silakan berikan saya masukan.

Sangat disayangkan memang jikalau ada mahasiswa yang mengamen. Mahasiswa, tapi tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Memang ada yang bilang, kalau jadi mahasiswa semua wajar, dan salah juga wajar. Tapi tentu hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk mengamen. Entah apapun keperluan uang mengamen tersebut dan segudang alasan yang melatarbelakanginya. Tapi intinya tetap, mahasiswa tak sepantasnya mengamen untuk mendapatkan hal tersebut. Baik itu untuk kegiatan sosial ataupun untuk kegiatan lainnya. Menurut pendapat saya pribadi, seorang mahasiswa yang mengamen itu, sama saja dengan merendahkan dirinya (maaf kalau kasar).

Seorang mahasiswa harusnya bersyukur karena bisa mendapatkan fasilitas pendidikan yang lebih. Ada jutaan pemuda di Indonesia yang karena keterbatasannya tidak bisa mengakses pendidikan di Perguruan Tinggi. Belum lagi, ada berapa anggaran negara yang dialokasikan untuk perguruan tinggi (walaupun mungkin masih banyak anggaran negara yang dikorupsi :p). Dan kalau mahasiswa mengamen itu, mungkin lebih buruk dari pada yang dilakukan oleh pengamen biasa. Dan pertujukannya pun, tidak lebih bagus dari pengamen aslinya. Malah kadang justru lebih minimalis (suara minimalis dan alat musik minimalis). Tampaknya, kalau disuruh mengamen sendiri-sendiri, belum tentu mereka mau. Karena itu, kalau mengamen pasti bergerombol. Itulah fenomena yang kerap ditemui di Kota Bandung, yah saya berharap tidak terjadi di kota lain.

Ah, lupa, kenapa saya sebut tidak intelek, ya karena cara yang dipilih adalah mengamen. Benarkah sudah tidak ada jalan lain selain itu? Hmm, mbok ya o, kalau jadi mahasiswa kita bisa main cantik (meminjam istilah “main cantik” dari Pak Chairil). Padahal mungkin, kalau mereka diminta mengeluarkan HP, minal sepertinya yang akan keluar beberapa smartphone atau blackberry. Kalau saya pribadi, mungkin lebih enak nge-danus jualan HP atau baju bekas. Hahaha, dan rasanya itu lebih main cantik lho :p. Kalaupun dana tersebut untuk kegiatan sosial, rasanya nggak banget, mosok dana sosial hasil ngamen. Lebih parah lagi kalau dana tersebut digunakan untuk keperluan makrab. Arghhhh, tolong dong! Lagi-lagi untuk keperluan perut.

Mari kita gunakan pikiran dan otak kita ketika ingin mencapai sesuatu!

Begitulah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. 🙂

Iklan

One thought on “Katanya Kaum Intelektual

  1. intelek kok masih buang sampah seenaknya, intelek kok suka hura-hura, intelek kok ogah dengerin pesan moral dari manusia biasa, dsb. tentang intelek tapi itu cuma segelintir saja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s