Sekelumit Pengalaman Mudik: Bandung – Gombong dengan Bus (1)

“Permisi Pak, mau tanya, kalau bus ke Gombong, berapa Pak?” – tanya saya ke penjual tiket.

“Langsung ya, Dek? 190 ribu Dek. Ini masih bus yang reguler Dek, bukan yang lebaran jadi masih murah. Itu bus sebelah saja sudah 250 ribu Dek.” – jawab bapak penjual tiket.

“Oh, kalau….” – belum selesai saya ngomong, bapak penjual tiket sudah mengisikan tiket untuk saya. Padahal saya hendak menanyakan harga tiket ke Purwokerto karena bisa saja naik bus disambung lebih murah. Oke. That’s fine, coba langsung!

“Namanya siapa Dek?” – tanya beliau.

“Sidik, Pak.” – jawab saya.

“190 ya Dek, busnya jam 5 Dek. Itu mbak-mbak yang disana juga mau ke Gombong.” – jawab penjual tiket sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah mbak-mbak yang dimaksud.

Sebelumnya saya sempat berpikir untuk pergi saat pagi hari, tapi apa daya, merapihkan kamar sebelum ditinggal cukup untuk mengurungkan niatan saya tersebut. Alhasil, saya harus mengatur ulang rencana saya dan kurang lebih begini rencana yang ada di kepala saya:

1. Berangkat menjelang sholat Ashar dan sholat di terminal.

2. Langsung segera dapat bus setelah Ashar (16.00 berangkat).

3. Buka di jalan dengan mengandalkan roti sobek yang saya beli kemarin.

4. Sampai di rumah jam 2 pagi (asumsi perjalanan 10 jam).

Sore itu, rasa malas kembali menghampiri diri saya. Kebiasaan ini memang kerap terjadi ketika saya harus bepergian sendiri. Bukan apa-apa, kadang perasaan berat meninggalkan sesuatu menjadikan saya malas untuk pergi. Tapi jam sudah menunjukkan 14.45 dan saya sudah berjanji pulang ke rumah, dan mau tak mau saya harus pergi agar rencana saya di atas berjalan mulus. Tanpa banyak beralasan lagi, saya segera menuju ke Simpang Dago dan mencari angkot Cicaheum – Ciroyom. Alhamdulillah, seketika saya menjejakan kaki di Caheum, adzan pun berkumandang. Dengan antusias, saya pun masuk ke terminal dan mencari mushola untuk sholat. Seusai sholat, saya bergegas mengunjungi loket penjualan tiket. Saya pun sampai ke loket penjualan tiket bus Budiman (kabarnya cukup laris – jadi peluang bus segera berangkat tinggi). Di depan loket, sudah berdiri sesosok bapak-bapak penjual tiket yang sedang memeriksa daftar penumpang pada sebendel kertas dan terjadilah percakapan antara saya dan beliau seperti di atas.

Waw, meleset dong rencana saya karena bus berangkat jam 5 sore. Sekarang masih jam 4 sore, masih ada 1 jam ternyata. Ngapain ya? Ah, saya lupa kalau sedang menulis pesan singkat yang ditujukan ke teman saya. Ringkasanya, pesan tersebut berisi pesan pamitan dan sedikit deskripsi kondisi saya karena saya tidak bisa berpamitan secara lisan ke teman saya tersebut. Selama menunggu bus, saya hanya mengamati terminal Cicaheum dan ekosistemnya.

Terminal Cicaheum dan Ekosistemnya

Jujur, saya kurang begitu akrab dengan yang namanya terminal. Mungkin karena saya lebih sering menggunakan kereta api dibandingkan bus. Terminal Cicaheum tak begitu besar seperti bayangan saya. Bayangan saya, karena terminal tersebut merupakan salah satu terminal utama di Jawa Barat, terminal tersebut mungkin sebesar terminal Jogja yang pernah saya kunjungi.

Benar sekali, terminal tersebut tak begitu luas, mungkin sama luasnya dengan terminal Kebumen. Tak banyak kursi yang tersedia untuk penumpang saat menunggu busnya. Di beberapa sudut terminal tampak beberapa pos lebaran yang disediakan oleh perusahaan telekomunikasi. Sesekali terdengar suara dari petugas pemberangkatan bus mengumumkan bus yang datang dan pergi. Dan sesekali terdengar panggilan untuk beberapa penumpang yang masih belum masuk ke bus. Mereka dipanggil karena bus yang mereka tumpaki hendak diberangkatkan. Tak jarang pula terdengar suara obrolan dari petugas tersebut dengan beberapa calon penumpang yang menanyakan kapan bus datang.

Terminal nampak tak rapih, banyak kendaraan pengantar penumpang yang masuk ke wilayah terminal dimana bus berjajar diparkirkan. Kebanyakan sepeda motor. Telihat pengantar-pengantar tersebut tampak betah menemani penumpang yang diantarkannya. Jelas-jelas keberadaan sepeda motor mereka di sekitaran jalur bus tersebut sangat menganggu aktivitas bus yang lalu lalang. Tak jarang pula, petugas terminal pun mengingatkan para pengantar tersebut. Selain kendaraan pengantar, areal terminal juga dipadati oleh penumpang yang menunggu busnya yang tak kunjung datang. Tak jarang para penumpang dan barang bawaan memadati tempat yang mestinya digunakan untuk parkir bus. Wajar saja sih, karena memang fasilitas ruang tunggu terminal yang tidak memadai sehingga seolah-olah banyak penumpan yang terlantar.

Selain itu, jalur-jalur bus yang menunjukkan tujuan bus juga tampak tidak lagi sesuai dengan tulisan yang tertera di papan keterangan. Parahnya lagi, ada dua papan keterangan jalur yang berbeda padahal jalur yang ditunjukkan sama. Sangat membingungkan. Oke… mungkin lebih baik tidak perlu diperhatikan itu papan. Jalur paling kanan tampak beberapa bus yang ngetem mencari penumpang. Jalur paling kiri dan tengah merupakan jalur yang cukup sering pergantian busnya dibandingkan jalur sebelah kanan.

Satu pemandangan yang cukup menarik bagi saya. Ada seorang bapak-bapak (tampaknya seperti porter-tapi bukan) yang rajin menyambangi penumpang hanya untuk menanyakan tujuan dan bus yang digunakan untuk kemudian beliau antarkan. Mungkin itu petugas terminal, tapi dari pakaian yang digunakan tampak bukan seperti petugas. Kalau pun beliau seorang petugas, kenapa hanya beliau yang tampak paling bersemangat sedangkan petugas lainnya hanya berdiri mengawasi penumpan dan sesekali memandu supir memarkir bus. Kalau pun itu bapak-bapak yang menawarkan jasa (porter), tapi tak tampak oleh saya bapak tersebut menerima bayaran. Ah… siapapun beliau, semoga amal baik beliau membantu penumpang dapat dibalas oleh Allah.

Semakin sore, penumpang semakin banyak. Dan sekarang giliran petugas polisi mensosialisasikan beberapa tindakan penting agar pemudik dapat mudik dengan aman. Himbauan tersebut antara lain seperti larangan menerima makanan dari orang yang tidak dikenal, saran untuk membalik tas angklek serta peringatan agar barang bawaannya tidak tercecer dan tetap berada di sekitar pemilik. Selain petugas polisi, hal tersebut juga dihimbau oleh petugas terminal. Petugas polisi kemudian berjalan memeriksa penumpang dan sesekali membenarkan cara menggunakan tas angklek yang tidak dipakai sesuai anjuran polisi tersebut disertai dengan menyampaikan beberapa nasihat (umumnya ibu-ibu yang dibenarkan, lho).

Kedatangan Bus

Alhamdulillah, jam 5 sudah. Tapi sayang bus pun belum kunjung datang. Well, mungkin macet dijalan. Tak lama kemudian serombongan bus Budiman pun datang. Tapi sayang sekali, tak satupun dari bus yang datang merupakan bus yang saya tunggu. Oke sabar-sabar. Jam 5 pun lewat….

Jam 5 lewat 15 menit pun lewat… dan bus pun tak kunjung datang. Sempat kepikiran juga, mungkin saja bus sudah datang, tapi saya tidak tahu. Akhirnya, saya kembali berputar mengelilingi terminal mencari bus yang memiliki nomor seperti yang tertera pada tiket saya. Yah, memang belum datang ternyata. Baiklah, mari bersabar menunggu. Akhirnya pukul 5 lewat 30 menit, bus yang saya tunggu akhirnya datang. “yes!” dalam hati saya berteriak. Saya langsung menuju bus tersebut, dan tak lama bus itupun penuh. Tinggal beberapa kursi yang tampak kosong karena tidak ada penumpangnya, termasuk kursi di sebelah saya. Tak beberapa lama, kursi yang kosong itupun penuh. Dan jam sudah menunjukkan waktu pukul 6 sore. Wah, alhamdulillah sudah buka puasa ternyata.

Saya pun segera memakan roti sobek yang saya beli kemarin. Walaupun saya tidak terlalu bersahabat dengan roti, tapi saya tidak memiliki banyak pilihan agar saya bisa berbuka dan sahur dengan praktis selama perjalanan selain memakan roti. Sobek demi sobek roti itupun memenuhi mulut saya. Kadang perut saya menolak, tapi saya coba berdamai dengan meminum teh dalam botol. Syukur, saya masih dapat berdamai dengan perut saya dan roti-roti tersebut pun berhasil masuk ke dalam perut saya.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya bus pun berangkat tepat pukul 18.30. So far, saya masih bermimpi sampai di rumah sekitar jam 4 pagi.

Sekian dulu, sekelumit cerita/pengalaman mudik bagian ini. Nantikan bagian 2 (final) yang lebih seru dan emosional serta menguras perhatian. Antara rencana, impian, dan kenyataan. Terima kasih. Dor!

Iklan

2 thoughts on “Sekelumit Pengalaman Mudik: Bandung – Gombong dengan Bus (1)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s