Balada Lapangan

“Kenapa kau diam?- tanyaku.

“Aku hanya memikirkan kata-katamu barusan, tak lebih dan tak kurang” – jawabnya.

“Ada yang aneh?”-tanyanya.

“Tentu lah, rasanya kau sudah menyerah akan hal tersebut sudah lama, dan aku tentu tahu hal tersebut. Tapi kenapa kau memulainya lagi? Bodohnya dirimu, pasti nantinya pun akan berakhir sama seperti dulu lagi. Toh ini sudah diakhir-akhir waktumu juga kan?” -jawabnya.

Ah, betapa bosannya orang yang membaca tulisan ini, dari awal sampai akhir isinya hanya begini.

“Ya benar. Tapi entah kenapa rasanya ada dorongan yang mendorong saya untuk tetap melakukan hal tersebut. Ya mungkin ada resonansi” – pikirku atau alasanku.

“Ah, sudahlah jangan bahas itu, mari kita berganti topik saja kali ini”-usulku.

“Oiya, sebenarnya saya sudah bosan lho” – ungkapnya.

“Bosan?” – kataku.

“Ya, kadang saya berpikir untuk pergi begitu saja tanpa. Melupakan yang sudah terjadi. Dan tentu, berharap untuk tidak kembali lagi. Rasanya mungkin itu yang terbaik” -tambanya.

“Ah, bodoh, walaupun saya terlihat sudah menyerah, tapi saya masih ingin melakukannya. Manusia tidak lepas dari waktu dulu dan berharap untuk hari esok. Kalau kau pergi, mungkin itu namanya lari.”- kataku.

“Sama aja lebih buruk dirimu lah, melakukannya setengah hati, tapi berharap, mana bisa!” – dia berkata kemudian tertawa lepas.

“Wah, saya jadi teringat tulisanmu di friendster dulu, yang menulis bagian deskripsi dengan tulisan People that I want to meet.” -katanya lagi.

“Haha, masih ingat juga dengan hal itu, saya cuma penasaran, kira-kira ada orang yang menuliskan hal seperti itu juga nggak ya?”-ujarku.

“Ndak tahu, sayang friendster yang dulu juga sudah dihilang, sudah nggak tahu lagi jejaknya. Kabarnya si jadi surga untuk Gaming”- komennya.

“Ah, sudah jangan bicara hal itu lagi. Toh bedanya sendiri sudah tidak ada. Sekarang udah zamannya menggunakan facebook. Noh, lihat, orang ke toilet aja, pasti banyak yang sambil buka facebook. Benarkan?” -tanyaku.

“Mana ada surveynya, saya ndak percaya. Toh, sekali saya mendapatkan orang yang di toilet tidak membuka facebook, pasti sudah tidak valid lagi pernyataanmu, ya kan?” – katanya.

“Haha, benar juga dirimu. Nih, kau tahu apa yang di kepala orang sebelah kita?”-tanyaku.

“Ah, mana aku tahu, aku sendiri kan tidak bisa membaca isi kepala orang secara gamblang. Palah, saya lebih percaya tidak ada orang yang bisa melakukannya. Cuma ada satu hal, kalau orang bisa melakukan hal tersebut pasti dia akan stress. Coba bayangkan, kamu ke Mall, karena bisa membaca isi kepala orang, baru masuk angkot mungkin dirimu sudah menjadi perbincangan hangat di kepala orang lain. Bisa karena mukanya, bisa karena bajunya atau yang lain. Lanjut nih, turun dari angkot, masuk Mall, mungkin akan ada banyak orang lagi yang membicarakan tentang dirimu, bisa pak satpam, ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang belanja, mbak/mas penjaga toko, banyak lagi. Mungkin ada yang berkomentar wah bajunya bagus, wah sepatunya oke, sayang ndak ganteng, wah mukanya bukan muka kota, atau ada yang berusaha mengancam seperti kok saya ingin membunuh orang ini ya, sudah menawar tapi tidak jadi beli. Bisa-bisa kalau punya hal itu, nggak mau keluar rumah sama sekali. Ya kan? “-jelasnya.

“Terus bagaimana dengan orang yang saya lihat bisa melakukan hal ini.” – tanyaku.

“Tak lain dan tak bukan adalah prediksi. Kalau sudah berbicara prediksi, pasti ada resiko untuk benar dan salah. Karena itu, kadang sebagian orang enggan untuk mengungkapkannya karena takut salah. Seacak apapun seseorang, pasti nantinya akan berpola. Hal itulah yang aku percayai selama ini. Dan kau tahu, saya paling senang dengan sesuatu yang berpola. Dan untuk mengetahui pola seseorang, menurut saya tidak sembarang ornag bisa. Biasanya hanya sahabat dekatnya yang tahu ini, kalau orang tersebut super acak. “-tambahnya lagi.

“Waw, kek detektif, seacak apapun orang pasti akan berpola. Eh, ada anime bagus musim ini, tapi syaratnya jangan kasih tahu yang lain.” -ucapku.

“Apa?” -tanyanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s