Balada Lapangan

“Ah, akhirnya diam juga dia” – ujarku lirih.

Tak terasa sudah dua putaran aku berhasil lakukan. Haha, rasanya kaki ini semakin berat laksana berada di lautan lumpur. Pernah kah kau lari di sawah pada waktu musim hujan dan tanahnya baru selesai dibajak? Ya, kalau kau lari di sawah tersebut, aku jamin, hanya dalam beberapa meter saja, sudah dapat dipastikan kau akan berhenti mengangkat kakimu saat kau berlari. Semakin lama, semakin berat tuk diangkat.

Tapi tahukah kau, ada waktu yang sangat aku sukai saat aku berlari. Waktu dimana aku mampu menyelesaikan tiga perempat putaran. Pada saat itu, hanya ada satu hal yang ingin aku lakukan yaitu berlari sekencang mungkin agar aku bisa mencapai tujuan yaitu garis finish. Tapi tak jarang, aku menghalangi diriku untuk melakukan hal itu, karena ku ingin bisa berlari lebih kencang di putaran terakhir target putaranku.

Ya, itu artinya aku harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksi tersebut. Karena aku tahu, waktu yang seperti itu lebih memuaskan dibandingkan dengan berlari kencang pada seperempat putaran. Saat itu, kau akan merasakan letih tapi terbayarkan dengan kepuasan yang kau dapat.

Begitu terkadang manusia, tak sabar akan keinginannya. Ingin sekali puas dengan segera. Tak jarang aku mendengar orang berbicara, “Indah pada waktunya”. Ya, betul sekali, segala sesuatu akan indah pada waktunya. Tapi kadang orang lupa dengan usahanya sehingga saat waktu itu tiba, ia tidak mampu merasakan keindahan yang ia harapkan.

Tak jarang pula, aku melihat ada orang yang sangat bersemangat di awal hingga ia berhasil berlari mendahului yang lainnya. Tapi sayang semangat tersebut adalah semangat yang menggebu-gebu. Ia kadang lupa, berapa jauh ia harus belari. Aku tahu, ia sangat puas melewati pelari yang lainnya, tapi bukankah memenangkan lomba lari tersebut adalah lebih puas lagi?

Yah, kadang manusia terbuai dengan kepuasan sesaat, padahal dibalik kesabarannya terdapat kepuasan yang hakiki? Namun, kadang manusia lupa. Begitu pula, aku sering melihat, banyak orang sangat menggebu-gebu meraih yang diinginkan, tapi pada akhirnya ia melempem. Menggebu memang baik, tapi kalau disertai ketidaksabaran akan menjadi tidak baik.

“Ah… betapa besar mulutnya diriku. Berkata banyak tentang manusia, tanpa menyadari sebenarnya aku masuk golongan yang mana. Yah, aku tahu, aku masuk golongan tersebut!”- kataku.

“Hai, kau!” – sapaku kembali padanya yang telah diam seribu bahasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s