Barang baru di Kampus

Sepeda kampus sudah, tempat merokok juga sudah ada (kapan-kapan deh dibahas).

Berjalan dari depan hingga belakang kampus tak menemui hal-hal yang cukup aneh. Hanya saja, sudah beberapa hari ini kampus dihiasi beberapa benda-benda baru.

Benda pertama adalah sebuah rak buku yang ditempatkan di beberapa tempat strategis di kampus. Rak ini merupakan sumbangan dari alumni ITB 77. Kalau tidak salah, saya baru melihat benda ini awal minggu ini (akhir bulan april 2012). Beberapa tempat yang menjadi titik penempatan rak ini antara lain, selasar labtek V, di depan koperasi pegawai ITB, dan di wilayah TVST (baru tiga tempat yang saya temui). Hampir seluruh tempat penempatan tersebut merupakan tempat yang biasa digunakan oleh mahasiswa untuk berkumpul dan menunggu.

Dari penafsiran saya, tujuan penempatan rak buku tersebut adalah supaya masyarakat di kampus terbiasa untuk membaca.  Yah, secara gampangnya mungkin, agar kita terbiasa membaca terutama saat kita menunggu. Bacaan yang disediakan pun bukan bacaan yang berat, kebanyakan adalah majalah seperti National Geographic, majalah kampus, dan mungkin surat kabar (dilihat dari desain raknya).

Tempat Bacaan Umum

Benda berikutnya adalah petunjuk pemilahan sampah yang diletakkan di sekitar tempat sampah. Yah, di kampus memang sudah dibudayakan untuk memilah sampah. Terbukti, saat kita berada di kampus, pasti kita akan melihat dua jenis tempat sampah. Cukup mudah memang untuk memilah sampah yang akan kita buang hanya dengan dua kriteria yaitu sampah yang dapat membusuk dan tidak dapat membusuk.

Dua jenis tempat sampah di Kampus

Walaupun hanya memilah sampah dalam dua jenis, kadang masih saja ditemui sampah yang salah masuk tong (walaupun tidak sering). Nah, sekarang, hampir di samping tong-tong tersebut diberikan papan informasi yang intinya mengajak kita untuk memilah sampah ketika hendak membuangnya.

Menurut saya cukup bagus penempatan benda tersebut. Tapi bagi orang seperti saya, hal tersebut akan menambahkan proses berfikir yang cukup lama ketika hendak membuang sampah. Alasanya adalah, penempatan kiri dan kanan tulisah sukar terurai dan terurai. Rata-rata tong sampah yang menampung sampah yang dapat membusuk ditempatkan di sebelah kiri, sedangkan yang tidak dapat membusuk di sebelah kanan. Pada papan, keterangan sukar terurai di sebelah kiri dan yang terurai sebelah kanan. Kontradiktif bukan? Ya, saya tahu walaupun hal tersebut hanya merupakan papan ajakan, tapi karena penempatannya di samping atau di belakang tong-tong tersebut, secara otomatis seolah-olah menunjukkan bahwa sebelah kiri untuk sukar terurai dan sebelah kanan untuk yang mudah terurai.

Papan petunjuk pemilahan

Pada waktu pertama kali hendak membuang sampah, saya sendiri bingung, mana yang harus saya turuti, papan atau keterangan di tong sampah? Tentu yang di tong sampah lah yang harus dituruti – setelah berpikir cukup lama. Selain itu, menurut saya, penggunaan satu istilah dan satu warna itu penting. Bisa dilihat, dalam satu tempat pembuangan saja ada tiga istilah yang digunakan yaitu : terurai dan sukar terurai, yang dapat membusuk dan yang tidak membusuk, dan membusuk dan tidak membusuk. Sedangkan untuk warna ada biru (di papan) dan hitam untuk tong yang memuat sammpah sukar terurai, putih dan hijau untuk tong yang memuat sampah dapat terurai. Mungkin lebih bagus jika satu warna yang menunjuk ke masing-masing tong. Secara tidak sadar, semakin banyak istilah dan tanda, semakin lama orang untuk menentukan sesuatu walaupun seluruh istilah tersebut menunjuk hal yang sama. Jika lain bahasa mungkin tak masalah kalau menurut saya.

Hmm, satu hal terakhir yang cukup menarik adalah ekspresi dari tong sampah. Saya tidak tahu pasti kenapa sukar terurai/tidak dapat membusuk berekspresi 😐 dan terurai/dapat membusuk :). Satu hal yang pasti adalah jika sampah sulit terurai pasti akan menyulitkan untuk diproses dan mencemari bumi, karena itu 😐 sebaliknya dengan sampah yang dapat terurai. Menurut saya pemilihan penambahan hal tersebut cukup bagus dan inovatif.

Oke, saya sendiri sih masih baik-baik saja dengan tong sampah seperti itu, tapi mungkin dari hal tersebut saya hanya ingin berbagi pemikiran dan pelajaran yang saya alami. Analogi mudahnya, saya adalah seperti orang yang menggunakan aplikasi, dan saya mengungkapkan pengalaman saya ketika menggunakannya.

Terakhir, pertama kali melihat benda yang dicontohkan mana yang terurai dan sukar terurai, mungkin jika tanda tersebut di sekitar wilayah mahasiswa informatika (labtek V), mungkin akan banyak orang yang membuang komputer apple-nya yang sudah tidak dipakai ditempat sampah yang terurai. Berbeda mungkin jika di sekitar mahasiswa biologi atau mikrobiologi, pasti yang dibuang pasti lah buah apel yang sesungguhnya. Mungkin lho :p

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s