Balada Lapangan

“Lari! lari! lari!” – teriakku dalam hati, menyemangati diri.

“Ah, apa pula kau berlari, tak ada gunanya boy!” – bisik lain dalam hatiku. Baru beberapa langkah saja aku berlari, rasanya diriku sudah tak karu-karuan dibuatnya.

“Selamat pagi!” – sapa diriku dengan lembut. Dan dia pun menjawab dengan jawaban yang sama dengan perkataanku.

Seperti pekan-pekan berikutnya, dia selalu menanyakan hal yang sama saat aku berlari “Kenapa kau berlari? Menyusahkan dirimu saja, tak ada gunanya pula. Toh walaupun kau tetap melakukannya, dirimu juga tetap akan tertinggal dan ditinggalkan di belakang.” – tanyanya.

Setiap kali aku mendengar hal tersebut, aku pun geram, dengan segera aku menjawab : “Tahu apa kau soal lari? Kau itu pengecut, berani mu selalu di dalam. Tak pernah kau berani menunjukkan dirimu”.

“Aku tahu, walaupun aku berlari mungkin aku tidak mampu mengejar orang-orang yang telah lari di depanku, tapi bukan berarti aku diam begitu saja. Diam berarti pasrah tak ada ikhtiar. Bodohnya diriku jika aku melakukan hal itu” – tandas diriku.

Lari dan lari, hal itulah yang aku bisa sekarang. Walaupun lariku tak sekencang yang lain tapi aku ingin bisa berlari kencang. Aku tak ingin dapat melampaui banyak orang saat aku berlari, karena mungkin aku belum sanggup melakukanya.

Tapi tahukah kau, kenapa aku memilih berlari?

Aku bukan ingin menjadi yang terhebat, aku bukan ingin menjadi yang tercepat. Dengan berlari, aku ingin bisa melatih diriku agar bisa berlari seirama dengan orang-orang yang bersedia menunggu langkahku.

“Ah, mana ada orang yang mau menunggu dirimu yang lemah itu boy! Bodohnya dirimu jika kau percaya hal itu! mana orangnya coba? ” – ujarnya.

“Aku tak tahu, tapi aku masih percaya hal itu.” – jawabku.

“BUKTINYA MANA!!!!!” -teriaknya keras pada diriku, sampai telingaku mendengar efek “ngungg” yang panjang.

“Berisik sekali kau rupanya! Bisakah kau diam sementara waktu, pengecut!” – teriakku.

Lama kian lama, ternyata langkahku semakin berat. Rasanya ingin aku menyerah begitu saja. Tapi jauh di dalam diriku berkata : “Bersabarlah! Percayalah, ada orang yang bersedia menunggumu. Kau akan bertemu dengan orang yang kau cari selama bertahun-tahun ini. Kau tak sendiri, ada kawan yang bersedia menunggumu! Percayalah!”

Walaupun terdengar sayup-sayup di telingaku, tapi teriakknya masih cukup jelas terdengar. Kemudian, aku mengulangi kata-kata tersebut untuk dia yang telah berteriak padaku.

Kali ini pun dia diam seribu bahasa. Atau mungkin dia belum menemukan kata-kata yang tepat untuk mengejekku lagi. Tak terasa, satu putaran pun sudah hampir aku lalui.

Akhirnya, satu putaran aku berhasil lalui, dan aku pun berkata :

Berlari itu ibarat miniatur kehidupan. Ada orang yang sangat cepat ada pula orang yang sangat lambat dalam mencapai cita-citanya. Tapi bagiku yang paling utama adalah orang yang mau berlari seirama dengan yang lain. Aku pun akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa berlari dengan orang tersebut. Yah, yang saya perlu lakukan adalah satu yaitu berlari.

Aku pun tahu, tak dengan semua orang aku bisa berlari seirama. Seperti halnya di dunia, tak dengan semua orang aku bisa bercerita dengan bebas.

Aku hanya berharap bisa berdamai dengan dirinya suatu saat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s