Film Serbuan Maut

Serbuan Maut , mungkin hampir seluruh penikmat film, tahu akan film ini. Kebetulan beberapa hari yang lalu, tepatnya hari senin, saya dan teman-teman berkesempatan menonton film ini. Waktu itu, kami putuskan untuk menonton film ini, malam hari jam 20.45 (berhubung siang adalah jadwal deadline pendaftaran seminar TA). Kami menonton film ini di XXI Ciwalk Bandung.

Bagi saya, menonton film ini cukup menguji mental. Maklum saja, saya memang kurang atau tidak suka menonton film yang pemainnya banyak terluka karena senjata, bisa itu pisau atau senapan, dan mungkin senjata lainnya. Tapi kalau boleh dibilang juga, saya tidak suka melihat sesuatu yang berdarah-darah dan lukannya diperlihatkan. Karena jika saya berkesempatan untuk melihat hal tersebut, hal tersebut akan terlintas terus dan tersimpan cukup lama di kepala saya. Tapi bukan berarti saya juga senang dengan film yang bercakap-cakap atau memiliki dialog panjang juga – mungkin.

Hmm, nggak asik kan, masa ngoding browsing, tiba-tiba terganggu dengan banyangan orang berdarah-darah karena luka senjata.

Tapi kali ini, tak ada salahnya saya mencoba menonton film ini. Toh, ini film Indonesia dan rasanya saya juga ingin menemui hal-hal yang saya baca dari beberapa tulisan yang mengulas film ini.

Tutturu….

Buat yang hobi nonton film thriller, tentu sangat menyenangi film ini. Tapi mungkin film ini kurang membuat senang, orang-orang yang lebih mementingkan suatu pemaknaan tertentu yang biasanya ditandai dengan adegan obrolan panjang.

Courtesy Wikipedia

Sebelumnya maaf kalau spoiler (saya sudah memperingatkan, jangan salahkan saya jika anda terus membacanya), rasanya tak asik kalau mengulas tidak disertai dengan kebebasan. Heheh. Baiklah, mari kita mulai…

Di awal film, penonton akan disuguhkan dengan adegan sholat (sholat subuh – karena terlihat pagi hari). Selain itu, ada pula adegan orang sedang berlatih pemanasan untuk bela diri – sepertinya. Sampai di sini, saya masih ok-ok saja, melihatnya. Adegan berganti dengan pemuda tersebut berpamitan dengan istrinya untuk pergi bekerja (dia polisi ternyata, tim khusus). Yup, adegan berpindah ke sebuah mobil yang mengangkut orang pertama tadi. Tentu lengkap dengan persenjataanya (lah, namanya kan serbuan maut, pasti lengkap dengan perlengkapan penyerbuan).

Adegan berikutnya, tak lain dan tidak bukan adalah berkelahi hingga film ini berakhir. Bisa dibayangkan, hampir 1,5 jam penonton dinaik turunkan adrenainnya. Tak salah jika banyak orang yang mengatakan hal yang sama pada film ini. Pertarungan tidak hanya menggunakan senjata saja, tapi juga menggunakan bela diri (tangan kosong – istilah untuk tanpa senjata). Hmm, menurut saya kombinasinya pas, untuk ukuran film yang menyajikan aksi pertarungan. Rasanya film ini adalah film bertarung terlama yang pernah saya tonton selain film dragon ball.

Pergerakan film ini begitu cepat. Artinya, ganti setting tempatnya cepat (namanya juga film aksi), tembakan pelurunya juga cepat (kan pakai pistol), dan yang tak kalau seru efeknya juga keren. Gampangnya, kalau ketembak, langsung terlihat efek luka tembak dan keluar darah (tampak nyata – seru tidak menyenangkan sekali).

Ada dua adegan dalam film ini yang masih saya ingat hingga sekarang. Adegan pertama adalah ketika mad dog (bukan nama aktor aslinya) menolak untuk berkelahi dengan senjata. Dia mengatakan lebih asyik jika tangan kosong. Hmm, waktu itu, yang terlintas di kepala saya cuma satu : “Orang kek gini, ini langka banget”. Bayangin saja, kalau orang sekarang pasti bakal yang dicari pertama senjata kalau sedang bertarung. Entah itu, gunting, batu, sandal, atau tusuk gigi jika mungkin. Rasanya itu poin yang membuat saya tertarik. 😀

Yang kedua, walaupun ceritanya sederhana, bahkan beberapa pengulas mengatakan kalau film ini plot ceritanya kurang berbobot atau tidak ada ceritnya tapi di akhir film ada hal yang cukup menarik. Bagi saya kata-kata

Salah saya apa pak polisi?

Cukup menyampaikan pesan dari film ini dan cukup memperjelas alurnya. Walaupun tentu menurut saya, plot ceritanya kurang berbobot. Tapi mungkin wajar saja, karena yang ingin ditonjolkan dalam film ini adalah aksi bertarung yang membuat penonton terhibur bukan ke ceritanya. Tak salah, jika saya pernah melihat ulasan yang mengatakan kalau film aksi yang lain hanya snack.

Hmm, beruntung, rate-nya bukan BO (Bimbingan Orang tua), artinya film ini untuk dewasa bukan seperti beberapa film di layar TV, walaupun itu dewasa, semua terlihat sah-sah saja dengan label BO. Semoga jika nanti tayang di TV juga tetap D. Tak banyak percakapan yang terjadi di film ini, paling percakapan rencana sesuatu atau percakapan yang mendebatkan hal mana yang lebih penting. Yah, jujur saya merasa terganggu dengan umpatan yang diucapkan di film ini yaitu A*****. Kecewa lagi, karena aktor yang diadegan awal ini juga ketularan mengumpat hal itu juga.

Itu kurang lebih ulasan saya sebagai penonton. Ada ulasan film ini pula yang menurut saya cukup menarik. Beliau melihat dari sudut pandang, film ini sebagai wakil budaya Indonesia karena film ini dari Indonesia. Baca saja di review film the raid ini. Namanya juga film, tentu akan ada plus dan minusnya dan tentu hal tersebut akan semakin lengkap jika kita melihat hal tersebut dari berbagai sudut padang.

Tadinya saya tidak berniat menonton film tersebut, tapi karena ajakan seseorang dan rasanya tidak ada salahnya membuktikan beberapa ulasan film ini yang telah saya baca. Yah, walaupun efek film ini masih kadang terasa juga, hehe. Ditambah lagi, kemarin saya palah menyalin film Battle Royal dari teman. Dan ternyata, film itu sejenis juga. Tapi tetap untuk sekarang ini, film 告白 atau Confession (2010) masih belum tersingkir dari film favorit jenis ini (plot cerita dan pengambilan gambarnya keren).

Satu hal yang masih menjadi pertanyaan di kepala saya hingga saat ini. Setelah menonton film ini, ada aktor yang tertembak – gara-gara itu jadi tidak berperan banyak. Sampai sekarang motif yang mungkin, kenapa pembuat film tersebut mempertahankan aktor tersebut hanya satu, yaitu tidak meninggalkan rekan di medan perang.

Kalau dilihat-lihat, mungkin ini film Indonesia satu-satunya yang tembus hingga mancanegara kalau tidak salah. Ya, seumur-umur baru menemukan film ini. Semoga saja, kedepannya banyak film-film lain dan tentu tidak sejenis juga, menghiasi layar kaca mancanegara. Semoga juga tidak dibuat versi sinetronnya. 😀

Paling tidak, dengan film ini, orang-orang tahu, jika ada negara dan masyarakat Indonesia. Tidak seperti beberapa artis dari negara mana, setelah puas mengeruk uang dari masyarakat dari negara ini, pada akhirnya menyebut negara ini dengan antah berantah (baca di berita kemarin malam).

Terima kasih sudah menyempatkan membaca kata-kata hati saya (karena saat menulis ini, saya hanya mengucapkan dalam hati).

When there is nowhere left to run or hide… you fight or die

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s