Kreatif, ide, dan kompromi

Kompromi dengan sebuah ide

Selesai sudah kegiatan perkuliahan di semester ini, ini berarti semakin berkurang alokasi waktu hidup untuk di Kampus. Semester ini ternyata merupakan semester puncak kalau boleh dianalogikan dengan sebuah kurva persamaan kuadrat, tingkat tiga akhir adalah titik puncak maksimum. Tentu setelah titik ini sisanya akan berupa jalan yang cukup landai semestinya (*walaupun hal ini bukan jaminan mutlak) tapi paling tidak, kondisinya tidak akan setinggi ini.

Tidak banyak hal yang bisa diingat dari penutupan setiap mata kuliah, karena hampir setiap mata kuliah, seolah-olah tidak ditutup atau dengan kata lain tidak ada yang mengatakan say “good bay”. Tapi ada satu hal yang masih terngiang-ngiang di kepala hingga saat ini. Mungkin ini adalah satu-satunya kuliah yang seperti ada perpisahannya walaupun tidak secara eksplisit disampaikan oleh pak dosen karena yang beliau sampaikan merupakan seperti wejangan saat hendak melepaskan mahasiswa yang baru saja menuntut ilmu. Beliau menyampaikan sesuatu hal yang provokatif dan anak muda banget tentu tetap dengan bumbu-bumbu cinta Indonesia.

Beliau bercerita tentang kaum kreatif atau sebutan modernnya “komunitas kreatif”. Komunitas kreatif menurut beliau saat ini adalah komunitas yang paling tinggi diantara komunitas yang lain di era modern ini. Hmm, ini dalam konteks globalisasi bukan agama, semoga tidak salah paham karena tentu dalam agama memang orang dilihat dari keimanannya. Beliau menggambarkan kalau ditempatkan dalam piramida, orang-orang kreatif akan menempati urutan paling atas. Tentu sesuai dengan piramida, yang paling tinggi memang jumlahnya sedikit. Ya, orang kreatif jumlahnya lebih sedikit dibandingkan orang selain itu dan cenderung orang-orang jenis ini berkumpul dengan sesamanya. Mungkin analogi yang mirip adalah orang kreatif itu seperti bakteri. Bakteri kalau hidup akan berkoloni dan mengembangkan diri dalam koloni tersebut.

Katanya nieh, tempat-tempat kek kampus merupakan salah satu tempat-tempat yang isinya orang kreatif, beliau melanjutkan penjelasan. Pasti seneng kan jadi bagian orang-orang kreatif yang tergolong langka di dunia. Tapi ternyata orang-orang kreatif ini memiliki tingkat stress yang cukup tinggi ternyata lho. Beliau mencontohkan seseorang tapi aku lupa nama orangnya, tapi yang jelas beliau adalah penulis. Menjadi seorang penulis, katanya setelah mengeluarkan buku yang bagus, untuk mengeluarkan buku selanjutnya akan cukup stress. Hal ini karena kualitas buku yang dihasilkan tidak sebagus dengan sebelumnya atau idenya tidak semenarik ide sebelumnya. Mungkin kalau kaya analogi di kriptografi, seperti one time cipher, yaitu teknik kriptografi yang hanya sekali pake. Jadi mungkin suatu saat ciphernya akan menghasilkan suatu kata yang manusiawi untuk dibaca tapi untuk mungkin kemunculan tersebut hanya sekali doang.

Nah, saking berharganya ide, maka jangan pernah berhenti untuk mencetuskan ide-ide. Tapi sayangnya ide ini kadang kalau keluar tidak tahu tempat. Misal, sedang asyik nonton atau main game ternyata si ide datang. Karena mungkin keasyikan, akhirnya ditinggalkan sejenak ide itu, eh setelah main selesai lupa tadi ide yang keluar apa. Untuk hal ini beliau memberikan saran berupa negosiasi atau lakukan kompromi dengan ide yang baru keluar jika ide tersebut keluar sembarangan. begitu pula sebaliknya ketika sudah bersiap untuk melakukan hal produktif tapi ternyata tidak ada ide yang keluar, kompromi dengan ide supaya ide tersebut mau keluar. Jadi nanti kalau misalkan di jalan ternyata ide itu muncul, cukup bilang saja “ide kalau masih jodoh, habis jalan saja nanti bakal aku tangani.” Insya Allah mungkin ide tersebut akan menurut untuk sementara waktu. Sebaliknya jika udah siap nulis tapi kagak dapat ide-ide mungkin bisa mengatakan “diriku sudah siap menampung mu, wahai ide”. Ngefek atau nggak silakan dicoba sendiri. ;D
Jadi kalau dianalogikan lagi, ide itu seperti fungsi random yang kapan saja bisa mengeluarkan angka 42. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s