Diulik, Barang Biasa Jadi Lebih Bernilai

Bambu, temulawak, gambir, kumis kucing, dan beberapa obat herbal lainya merupakan benda-benda yang biasa kita temui sehari-hari dan kita tahu Indonesia kaya akan semua itu. Walaupun barang-barang tersebut kita anggap sebagai barang yang biasa-biasa tapi jika kita lakukan perlakuan berbeda, kita dapat meningkatkan nilai dari barang tersebut. Nah, tentu perlakukan tersebut dengan menerapkan teknologi yang ada. He, terkesan belibet penjelasannya, sebagai contoh adalah gambir, Gambir Indonesia di ekspor ke berbagai negara salah satunya adalah India. India mengimpor gambir dari Indonesia sekitar 68% dengan harga murah perkilo 5rb sampai dengan 20rb. Nah, yang mencengangkan setelah gambir di olah dan di ekstrak, harga di pasaran mencapai 4-6 kali bahkan lebih. Hmmm.

Nah, itu contoh, dengan perlakuan berbeda, nilai barang tertentu dapat ditingkatkan. Semua pasti sudah familiar dengan teknologi nano. Nah, berikut ini adalah penjelasan seorang ilmuan Indonesia, terkait dengan perspektif teknologi nano.

Contoh lain adalah bambu. Kebanyakan bambu di Indonesia diolah secara tradisional, padahal jika diolah secara modern akan jauh lebih bernilai. Tapi, untuk mengolah secara modern dibutuhkan peralatan yang tidak murah. Oleh karena itu ada metode baru dalam pengolahanya yaitu hybrid. Mengembangkan proses tradisional dan modern. Dan benar saja, hasilnya tak kalah dengan pemrosesan modern.

Semoga, kedua hal tersebut dapat menginspirasi kita. 😀

 

Iklan

2 thoughts on “Diulik, Barang Biasa Jadi Lebih Bernilai

  1. benar dek.. ketika kuliah teteh dikasih banyak fakta mengerikan seperti ini.. kayak gula tradisional kita ketika kadar kemurnian maksimum cuma sampai 87%, tapi ketika diolah lagi di luar dan kemurnian yang nyampe 97% harganya naek. yang lain2 juga gitu: karagenan, ekstrak chitosan, minyak atsiri.. ahh terlalu bnyak buat disebutin.

    dengan fakta seperti ini, jadi bertanya.. kemana2 insyinyur2 indonesia?? keluaran ITB terutama?? argh,,akankah selalu seperti ini?? masalah klasik yang terus berulang

    ayo dik!!! kita buktikan kalo kitalah yang bakal jadi solusi buat masalah2 ini!!!

    • betul teh. mungkin hanya menyikapi pertanyaan teteh yang pada kemana lulusan itu. Saya rasa ada banyak faktor yang terlibat, bisa jadi, dari para lulusan tersebut sudah ingin melakukan hal itu, ada konstrain yang tidak bisa dihindari sehingga masih terkendala. 🙂
      Teteh, udah mulai dengan mengabdi pada pemerintah. hehe

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s