Aku atau Saya?

Wew, enak make aku apa saya hayooo.

Beberapa hari yang lalu, aku (nanti tahu kenapa mulai dari artikel ini kata “saya” berganti “aku”), jumatan di Masjid Salman (alhamdullillah nggak ngantuk, emang kalau ada khutbah harus fokus biar nggak ngantuk), dan waktu itu khotib-nya berceramah tentang hari pahlawa or something related to independent.

Inti dari khutbah tersebut adalah membahas pertanyaan “apakah bangsa kita sudah merdeka?”. Yup pertanyaan yang sering kita dengar. Yah, tanpa diragukan lagi, jawabanya adalah kita belum merdeka. Tapi bukan hal itu yang akan menjadi pembahasan di sini. Terus apa dong? yang dibahas di sini adalah karakter bangsa indonesia.

Aku sendiri pas pertama kali dengar, wah, kaya apa ya karakter bangsa indonesia, kan aku juga masuk bagian dari bangsa ini. Pertama yang kepikiran, bangsa indonesia orang timur, wah katanya ramah, baik, welcome, dan kawan-kawanya. Tapi, beda lho, ini dan kayaknya yang beliau sebutkan itu memang terjadi di sini. Kurang lebih, saat itu disampaikan ada sekitar 10 sifat terkait dengan bangsa indonesia. Tapi karena agak lupa, yang aku sebutin nggak banyak, beberapa diantaranya adalah  ini:

Malas. Yuh, orang indonesia malas katanya. Jujur dalam hati, yah sifat ini aku punyai juga ya. Dan agaknya sifat ini yang beberapa kali mengalahkan sifat yang lain. Aku sendiri aja bingung kenapa ya?

Mental Budak. Wah, yang ini nggak suka buanget untuk disebut tapi mau gimana lagi emang begitu. Sadar atau kagak, kita masih jadi budak. Beberapa sektor dikehidupan masih tergantung dari yang lain.

Rendah diri. Ya katanya orang indonesia rendah diri, percaya atau tidak emang kayaknya yang saya amati dan saya perhatikan serta saya rasakan emang gitu deh. Banyak beberapa contohnya, salah satunya adalah yang Iran itu dulu di PBB, yang paling tidak emang ada beberapa orang dan bangsa tersebut kecewa terhadap indonesia. Katanya teman tapi kok? Kamu tahu jawabanya sendiri.

Untuk sifat lanjutanya aku lupa, mungkin kalah dengan kengerianya dari ketiga sifat diatas. Kalau nggak salah yang lain tu kaya orang indonesia tu orang sosial, dll.

Nah, terus apa dong keterkaitan dengan “saya” dan “aku”?

Keterkaitanya adalah, katanya hanya ada dua kata di bahasa kita yang benar-benar tidak merendah, yaitu “aku” dan “kamu”. Sedangkan yang lain, bisa dilihat, “saya”, “sahaya”, dan “hamba”. Begitu kata beliau, walaupun saat itu tidak diterangkan entimologi kata-kata di atas. Dan sampai sekarang ini, aku belum menemukan entimologi nya juga, tapi aku percaya karena kan bahasa indonesia, biasa asal-usulnya pasti nggak beda-beda banget dengan kata turunannya.

Emang kayaknya biasa aja, tapi setelah dirasa-rasa, kata “hamba”, itu keknya gimana, kamu bisa terjemahkan sendiri. Nah, kenapa ini bisa terjadi? tahu nggak, keknya karena zaman dulu kan kita negara kerajaan(sotoy mode on). Nah untuk menghormati raja biasanya menggunakan kata itu, tapi kek merendah gimana ya, hmmm . Ternyata hal itu terbawa juga sampai sekarang ini.

Tapi kalau ditinjau dari sopan dan tidak, di Indonesia kata “saya” lebih sopan dibanding kan “aku” begitu juga “kamu”, dibandingkan “beliau”. Ya niatnya kan menghormati orang lain, mungkin si gitu. So, nggak ada salah yang masih menggunakanya, toh aku menggunakan kata “aku” hanya ditujukan dalam blog ini dan ke sebagian teman saya(teman yang mengerti hal ini). Untuk secara umum, wah masih belum berani, ya dari pada membuat konflik individu, mending membangun jalinan persahabatan, jadinya ya terpaksa katanya masih dipakai. He, yang aneh adalah aku jarang mengkombinasikan kata “aku” dengan bahasa indonesia(biasa diikuti jawa).

Kayaknya mengganti kata “saya” jadi “aku” sama beratnya untuk berjuang menghilangkan semua sifat yang di atas di sebutkan, butuh persiapan mental dan tenaga.

Lah, sekarang kita bandingkan dengan bahasa yang lain(kebiasaan manusia suka membandingkan), contoh bahasa inggris deh, bisa dilihat, untuk kata ganti tunggalnya saja hanya menggunakan “i” dan “you”, siapapun menggunakanya, baik presiden, tukang becak, anak kecil, bapak, ibu, anak, dll. Indahkan, semua setara… 😀  (UUD : semua orang sama di mata hukum).

Karena itu, untuk bahasa disini, biar lebih enak, akhirnya kata “aku” lah yang digunakan. Paling tidak langkah awal untuk bebas(*baca : belajar untuk mendapatkan esensi “i” dan “you”).

Dan tips nya adalah, gunakan bahasa sesuai dengan tempatnya, agar semua senang aman dan tentram.

 

Iklan

4 thoughts on “Aku atau Saya?

      • kayaknya sidik lebih tua, hahaha..
        untuk kasus sidik, kayaknya udah kebiasaan.. hehehe.. tapi meskipun begitu kita akrab-akrab aja kan dik, hehehe..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s