Lanjutan tentang mudik lebaran

Menyambung artikel yang ada di bawah ini, terutama mengenai perjalanan pulang ke rumah saya.
Ya, Sesuai dengan yang saya tulis sebelumnya, saya pulang dengan kereta api kelas ekonomi.
Saya yakin, pasti semuanya telah membayangkan kondisi kepulangan saya dengan kereta api sesuai dengan apa yang saya tuliskan.
Atau bahkan membayangkan, saya tidak dapat tempat duduk, terpaksa harus berdiri, berdiri di dalam toilet kereta, atau lebih parah lagi saya tidak bisa naik dalam kereta api dan akhrinya tidak jadi pulang atau saya terinjak-injak dalam kereta api.
Untunglah, semua itu tidak terjadi. Palahan yang terjadi adalah sebaliknya.

Percaya atau tidak, saya pulang dengan kereta api kelas ekonomi, membeli tiket langsung di tempat, saya duduk dari stasiun kiara condong sampai gombong, pokoknya nyaman dah.
Apapun itu, mudik kali ini adalah mudik paling nyaman sepanjang sejarah saya naik kereta ekonomi. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini bisa terjadi, antara lain:

1. Banyak orang menunda kepulangan menjadi esok paginya karena hujan gerimis yang melanda bandung
2. Sebagian pekerja di Bandung baru libur hari sabtu atau selasa, dan kebanyakan pulang hari senin atau rabu

Itu, hal yang saya dapatkan dari beberapa orang yang sempat ngobrol sebelum dan saat di perjalanan.
Mudik kali ini ada yang berbeda, untuk kereta api dari bandung disediakan 4 kereta api yang beroperasi pada malam hari sedangkan untuk pagi hari saya tidak tahu berapa kereta api yang beroperasi.
Sedangkan untuk keberlakuan tiket, tiket berlaku untuk semua kereta api kelas ekonomi manapun, dari keempat tersebut bahkan kalau tidak bisa naik bisa digunakan untuk pagi harinya walaupun tanggalnya sudah berbeda.
Kali ini disediakan gerbong khusus untuk Lansia dan Ibu hamil. Jumlah gerbong tiap kereta yaitu 6 s.d. 8 gerbong.

Tapi ada beberapa hal yang sangat disayangkan, terkait sikap beberapa penumpang yang mulai berubah.
Ada beberapa orang yang berdiri di depan pintu masuk gerbong sehingga seolah-olah gerbong penuh padahal di bagian tengah gerbong masih kosong.
Berdiri disamping pintu termasuk hal yang berbahaya terutama ketika kereta berjalan. Ini terkait jika terjadi kecelakaan, karena yang mendapat kerusakan parah adalah sambungan gerbong. Jadi buat teman-teman jangan pernah mencoba hal ini jika naik kereta, apapun keretanya.
Sikap lainya adalah ada orang yang mengatakan kalau sudah ada penumpang yang duduk di kursi yang masih kosong dan kenyataanya memang masih kosong.
Sikap yang kedua inilah yang sangat mengganggu, selain menjadi pertanda bahwa beberapa orang mulai berubah egosi dan tidak peduli dengan lingkungan juga kasihan mengorbankan saudaranya berdiri. Padahal semua yang membeli tiket memiliki hak yang sama untuk duduk karena tiket semuanya dijual berdiri alias tanpa tempat duduk. Jadi siapa cepat dia dapat.

Dan sikap berbohong yang nampaknya mulai dianggap menjadi hal yang lumrah, karena ketika hal itu terjadi tidak ada yang menegur malahan mengiyakan alias ikut-ikutan mendukung orang yang berbuat itu. Untunglah masih ada pak polisi dan beberapa orang yang baik, yang membantu mencarikan tempat duduk.”Terima kasih pak!”
Ini saya temui saat saya menanyakan tempat duduk yang masih kosong.

Kereta kelas ekonomi nampaknya lebih ramai dibandingkan dengan kelas lainya. Semua orang pasti akan mengobrol tidak peduli latar belakangnya dan semua merasa melebur menjadi satu.
Tidak peduli pada obrolan tentang pekerjaan, pemerintah, bahkan asmara(*pernah ada yang konsultasi cinta lho, saya aja heran). Kalau saya biasanya cenderung untuk semi pasif dan lebih mendengarkan cerita dari orang-orang sekitar tempat duduk saya.
Satu cerita yang cukup menarik dan membuat saya tertawa ngakak dalam hati.

REM KERETA MAHAL

Ceritanya tentang kereta kelas bisnis dan eksektutif, berikut ini saya coba gambarkan obrolannya.
Dalam obrolan ini yang terlibat adalah seorang pengatar ibu-ibu(IP), adik si ibu pengantar(AIP), dan seorang ibu yang akan turun si stasiun sumpiuh(IS).
IS  : “e, nanti kereta ini berhenti di stasiun sumpiuh nggak ya?”
AIP : “oh, iya ibu, nanti berhenti.”
IP  : “nah, kalau kereta bisnis dan eksekutif baru nggak berhenti di sana ibu.”
AIP : “ya, berhentinya hanya di beberapa stasiun.”
IP  : “lah, kan rem keretanya sudah dijatah, nggak bisa sembarangan berhenti distasiun.”
AIP : “oo, kalau mau turun minimal berapa orang ya?”
IP  : “kata pak a**s rumah sebelah, minimal 10 orang, kan biaya rem mendadaknya mahal, sekali rem aja mungkin bisa harganya 800rb sampai 1 juta.”
AIP : “ya, kalau 10 orang berarti sekitar 80rb sampai 100rb”
IP  : “bayangin aja kalau kurang dari sepuluh orang, satu, dua, tiga orang, mahal kan harus bayar segitu.”

hahah, wah kalau gitu, gimana ceritanya kereta ekonomi yang berkali-kali ngerem pasti mahal banget ya.
Satu kali rem 100rb, berarti, wah banyak deh dari bandung sampai kutoarjo, kan ada banyak stasiun tempat kereta api berhenti(*itukan sudah dijatah).
Dan bayangin aja betapa repotnya, dari bandung sampai kutoarjo hanya boleh 10 kali rem.

Mungkin yang dimaksud tarif rem disini adalah biaya untuk berhenti ditengah jalan tidak di stasiun. Wallahu a’lam.  Tapi yang jelas cerita di atas tidaklah benar, saya yakin itu, masa biaya rem kereta api mahal. Tidak ada yang namanya biaya rem untuk berhenti di stasiun. Dan hal-hal seperti minta berhenti ditengah jalan, saya yakin juga sudah tidak ada, cukup bukti pulang pergi dari rumah ke bandung dengan kereta dalam kurun waktu tiga tahun ini.

Hikmah dari perjalanan ini adalah:
1. Jangan pernah menunda apapun, itu termasuk hal yang tidak baik. Bayangkan saja, kalau saya menunda untuk pulang hari senin, pasti saya akan tidak mendapatkan rezeki yang Allah sediakan pada hari ahad.
2. Jangan pernah egois dan tetapi saling membantu dengan sesama
3. Manusia hanya mampu berusaha secara maksimal, namun tetap takdir Allah tidak ada yang bisa dilawan.

Nah, sekian dulu berbagi kali ini. Semoga bisa diambil hikmahnya dan berguna untuk kita semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s