Menaklukan Tangkuban Perahu Part 2

Setelah melewati hutan perkebunan yang relatif menanjak, sekarang giliran melewati hutan pinus.
Jalur yang datar dan rimbun. Setelah cukup beristirahat, kami bergegas melanjutkan perjalanan.
Pada jalur ini, ada banyak sekali jalan “tikus” sehingga harus berhati-hati ketika mengambil jalur, jangan sampai salah jalur.
Setahu saya, jalur yang kami ambil kemarin semua adalah jalur yang belok ke kiri.
Akhirnya kamipun sampai pada puncak, dan cukuplah bagi kami untuk melihat keindahan kota Bandung dari atas gunung.

Kami juga menemukan ada beberapa orang yang sedang membereskan kemahnya.
Jalur ini tidak panjang sampai pada akhirnya kami harus meneruskan pada jalur mendaki.

Jalan untuk mendaki kali ini, hanya jalan setapak, dan nampak bekas roda sepeda atau sepeda motor.
Jalan percabangan masih banyak kami temukan di sini.
Yang saya ingat lagi, setiap ada percabangan kami selalu belok ke kiri.
Rombongan kami, disini terpecah menjadi dua. Rombongan pertama ada 28 orang menggunakan jalur yang tidak bertemu dengan jalan beraspal.
Sedangkan sisanya 6 orang memilih lewat jalan beraspal(*berarti harus bayar lagi kurang lebih Rp. 13000).

Salah seorang yang pernah mendaki lewat jalur ini ketika ditanya, kapan kita akan sampai?
Dia selalu menjawab sekitar setengah jam lagi. Ketika dikonfirmasi, kenapa jawabanya setengah jam lagi? Dia menjawab, jam saya mati sehingga belum ada setengah jam lagi(*cukup menghibur).

Jalur disini tak ada jalur yang datar, semuanya menanjak dengan sudut elevasi yang beragam.
Semakin ke atas, kami semakin ragu kalau jalur yang kami lewati adalah jalur sepeda motor(*motor cross) dan kami mulai menebak kalau jalur ini adalah jalur yang sengaja dibuat agar air dapat mengalir tidak menyebar.

Tapi jalan tersebut nyatanya memang jalan motor karena kami mendapati ada sepasang bapak dan ibu yang menuruni gunung menggunakan motor cross.
Saya sempat menggeleng-gelengkan kepala, tapi mereka tampak kompak.
Setelah motor lewat, giliran para pesepeda gunung yang menuruni jalan ini.

Yang lebih mengesankan lagi, akhir jalur ini adalah tiang/ tower penelitian petir milik Teknik Elektro ITB.
Maaf, walaupun STEI saya baru tahu kalau ITB memiliki tempat penelitian di ketinggian seperti ini.
Nampaknya tidak terlalu terkenal seperti Boscha, walaupun sama-sama tempat penelitian.

Disamping tower ada warung yang sibuk dengan aktivitas jual beli, walapun saya yakin harganya selangit.
Ini merupakan titik tertinggi di tangkuban perahu(saya rasa) .

Selanjutnya, tujuan kami adalah kawah di gunung Tangkuban Perahu.
Saat sampai di spot tersebut, jam di HP saya menampilkan angka +/- 13.00 WIB.

Salah satu dokumentasi dalam perjalanan 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s