Bersabar Dalam Menerima Informasi

Hidup di era digital seperti sekarang ini mengesankan jarak secara fisik bukan merupakan suatu persoalan. Informasi dari ujung dunia manapun dapat segera kita peroleh dengan mudahnya, misalnya orang yang tinggal di Indonesia dapat segera tahu dalam hitungan detik bencana tsunami yang terjadi di Sendai, Jepang. Akan tetapi, agaknya arus informasi yang semakin deras ini membuat orang semakin mudah menyebarkan informasi tersebut. Padahal, kebenaran informasi tersebut belum lah benar adanya.

Menyebarkan informasi yang benar memang lah bermanfaat, terlebih ketika berita tersebut secara tepat diterima oleh orang yang membutuhkan. Tetapi, saat informasi yang disebarkan itu tidak benar, justru akan merugikan orang yang menjadi objek informasi itu.

Menurut saya, ada dua hal yang memotivasi orang untuk langsung menyebarkan informasi dengan cepat. Alasan pertama adalah orang yang menyebarkan merasa bahwa informasi tersebut sangat penting sehingga semakin banyak orang yang tahu, akan semakin baik. Kedua, ketika orang menyebarkan informasi baru secara cepat, akan menimbulkan citra bahwa sang penyebar tersebut lebih tahu dibanding orang sekitarnya, ibarat seorang ilmuan yang menemukan suatu penemuan baru, eureka!

Lalu, bagaimana kah sikap kita seharusnya supaya kita dapat menyebarkan informasi yang benar dan cepat?

Pertama, coba kita evaluasi, menilai kebenaran informasi tersebut dahulu, atau menyebarkan dahulu. Pasti nalar kita akan menjawab, menilai kebenenaran terlebih dahulu, baru menyebarkan. Itu artinya kebenaran suatu informasi itu adalah hal yang paling utama, baru setelah itu penyebarannya. Bagi orang yang beragama islam, tempatkan diri anda seperti seorang imam dalam menerima informasi (baca: hadis). Ideanya karena anda seorang imam, maka anda akan mengecek kebenaran informasinya dengan mengecek rawinya (periwayatnya). Ketika informasi tersebut benar, baru lah anda mendakwahkannya.

Kedua, kita harus selalu mengingat efek buruk dari penyebaran informasi yang tidak benar ini. Selain merugikan orang yang menjadi sasaran informasi yang salah ini, anda juga turut membantu orang yang membuat informasi ini. Itu artinya anda menjadi orang yang dimanfaatkan oleh orang lain, apesnya lagi dimanfaatkan untuk melakukan hal yang kurang baik, ditambah lagi anda melakukan sendiri secara suka rela. Terakhir, citra anda pun bisa ikut tercoreng ketika anda menyebarkan informasi yang salah, karena orang pun akan berasumsi bahwa informasi yang anda miliki itu kebanyakan salah. Oleh karena itu, pada dasar intinya, ketika ada menyebarkan berita yang salah, anda juga akan terkena imbasnya, meskipun anda meminta maaf di waktu kemudian.

Untuk lebih jelas efek negatif dari menyebarkan informasi yang salah ini, saya coba membandingkan aktivitas ini dengan fenomena “papa minta pulsa” atau saya singkat sebagai PMP. Semua orang pasti familiar dengan PMP ini. PMP dan informasi salah ini sebelas dua belas, mirip! Si pembuat informasi yang salah ini biasanya memiliki tujuan untuk mengambil manfaat dari situasi yang timbul saat sasaran informasi itu terkena imbas informasi tersebut. Seperti juga pembuat PMP, dia juga memiliki tujuan untuk mengeruk uang dari situasi kepanikan yang terjadi saat orang yang jadi sasaranya menerima PMP. Kemudian, posisi kita sendiri berada di tengah-tengah ini. Ketika kita dengan mudahnya menyebarkan informasi yang salah ini ke semua orang, secara langsung, kita seperti membantu dalang PMP ini. Pasti kita semua setuju kalau dalang PMP itu tidak baik, bukan?

Jadi bagaimana kita harus menyikapinya? Kuncinya adalah sabar. Sabar dalam konteks ini adalah menahan diri untuk tidak secara gampang membagikan informasi yang tidak jelas kebenarannya, dan bersabar dalam mengecek kebenaran informasi itu sendiri. Dan ketika kita ragu-ragu akan kebenaran informasi itu, lebih baik kita tidak menyebarkannya. Segenting apapun situasi yang ada dalam bayangan kita saat kita menerima informasi, kita harus bersabar dalam hal ini. Meskipun panik itu manusiawi, kebanyakan panik itu sia-sia dan mengakibatkan kekeruhan suasana.

Hati-Hati Memilih Konferensi

Untuk keperluan riset saya kali ini, saya memakai banyak paper dari sebuah direktori jurnal open akses untuk jadi dataset. Saat membaca paper-paper ini, saya temukan beberapa keanehan. Dalam arti, ada paper yang panjang, ada yang super pendek, format yang itu begono, yang satu begini, yang saya pikir, itu aneh. Ditambah lagi, ada beberapa paper yang punya daftar referensi tetapi tidak mengutip satu pun. Aktivitas seperti ini cukup janggal untuk sebuah paper menurut saya, kok bisa lolos review. Kalau “referensi” yang mestinya ada kutipannya, kecuali kalau bilang itu bibliografi…

Poinnya adalah klaim publisher kalau itu peer-reviewed paper tapi kenyataanya tidak seperti itu, dan bisa jadi kontenya benar juga. Lalu saya cek di direktori jurnal tersebut, ohh, sepertinya sudah dihapus indeks paper-paper dari penerbit/organisasi ini.

Kemudian saya coba cari tahu web konferensi/organisasinya, dan pada saat googling saya menemukan beberapa tautan berikut, konferensinya abal, konferensinya palsu, dan konferensinya skam (nggak sebut nama konferensinya, karena banyak, tapi organisasinya itu WASET).

Ringkasan dari tautan-tautan itu kurang lebih begini, konferensi yang diadakan oleh organisasi tersebut (maaf) kurang berkualitas. Orang (pengirim paper) dari berbagai bidang berkumpul jadi satu, dan presentasi. Rasanya situasi seperti ini kurang cocok untuk konferensi. Banyak yang kecewa. Ada beberapa yang punya pengalaman kalau pada menit-menit terkahir hotelnya ganti, atau bahkan hotel sendiri tidak tahu kalau ada konferensi tersebut. Di salah satu tautan itu ada pula yang iseng-iseng mengirimkan draft pendek yang ngasal, dan dalam waktu 1 jam sudah dibalas, dan diterima. Kondisi yang mustahil untuk konferensi yang menggunakan peer-review.

Ini mengingatkan pada mahasiswa dari MIT yang membuat software untuk paper generator di bidang komputer sains, namanya Scigen. Lalu, mereka menggunakan paper yang di-generate otomatis (nggak make sense pastinya si paper), untuk dikirim ke beberapa konferensi. Daaann, ada yang accepted coba! Mereka pun ke sana konferensi. Tujuan dari mereka mengirimkan paper untuk mengetes apakah konferensi itu bagus atau tidak.

Lalu tujuannya apa dong itu organisasi? UANG. Ada beberapa orang yang udah kadung ngirim paper, diterima, dan bayar. Lumayan lho itu, kalau dari web-nya sekitar 36-50 ribu yen (4-6 juta rupiah kali) untuk tiap orang yang akan presentasi.

Jadi berhati-hati kalau hendak mengirimkan paper untuk konferensi, terlebih untuk konferensi seperti di atas.

PS: saya juga coba cek beberapa komite dari konferensi tersebut, tapi alhasil tidak ada satupun yang saya tahu, khususnya yang di bidang komputer sains.

Berempati, Berlimati, Bertujuhi…

Akhir-akhir ini ada banyak peristiwa besar yang terjadi di negeri kita tercinta, seperti bencana alam, penggusuran, isu toleransi, pembangunan pabrik, dsb. Dari tiap peristiwa tersebut, ada banyak sekali respon yang diberikan oleh orang-orang, terlebih dengan adanya media sosial, respon-respon tersebut mudah didengar di khalayak. Lalu sekarang ini, polarisasi respon-respon tersebut semakin terasa, karena adanya gesekan-gesekan dengan unsur politik. Meskipun gesekan tidak menjadi syarat mutlak polarisasi, tetapi tampaknya situasi ini menjadikan laju polarisasi semakin cepat. Polarisasi yang saya maksud adalah adanya dukungan terhadap kejadian tersebut atau sebaliknya.

Apakah polarisasi ini baik? Menurut saya, tak ada ada yang salah akan hal ini. Orang dijamin kebebasannya untuk berpendapat, bahkan mungkin ini menjadi indikasi yang cukup baik. Hanya saja menurut saya, ada sedikit pertimbangan yang perlu kita perhatikan atau ambil sebelum melemparkan pendapat terkait peristiwa tersebut. Hal ini karena sering kali ada banyak komentar-komentar yang seolah-olah dilontarkan dengan menutup mata dan spontan. Kalau pun harus membuat pendapat dengan menutup mata, maka tak ada salahnya untuk meraba-raba. Tentu, pendapat akan lebih baik kalau dilontarkan setelah membuka mata dan melihat suatu peristiwa dari berbagai macam sudut.

Bagaimana kita meraba-raba? atau apa yang harus kita lihat ketika kita membuka mata? Empati bisa jadi salah satu jawabannya.

Apa itu empati? Berdasarkan kamus kbbi itu berarti “keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain”.

Poin utamanya adalah merasakan apa yang orang rasakan dengan menempatkan diri kita pada posisi orang tersebut. Hal ini berarti, kita melihat apa yang terjadi dari kacamata orang tersebut.

Dengan melakukan hal ini, berarti kita melengkapi pandangan kita tidak hanya dari pandangan kita sendiri. Seringkali apa yang kita lihat dengan mata kita berbeda dengan apa yang mereka lihat. Kondisi ini sebenarnya mirip seperti cerita orang-orang buat yang diminta menjelaskan apa itu gajah. Masing-masing orang akan memegang gajah, akan tetapi bagian yang dipegang itu berbeda-beda tiap orang. Lalu, tiap orang hanya memegang bagiannya itu, tidak meraba bagian yang dipegang oleh orang lain. Setelah itu mereka diminta mendeskripsikan apa itu gajah. Karena tiap orang bertumpu pada bagian yang berbeda, maka gajah pun dideskripsikan macam-macam. Misalnya, gajah itu panjang kecil menurut orang yang memegang ekor, atau gajah itu lebar menurut orang yang memegang telinga, dsb.

Apakah pendapat orang buta tersebut salah? Tentu benar sebab mereka mendeskripsikan bagian-bagian dari gajah, tetapi ketika orang buta tadi tersebut meraba seluruh bagian gajah, pada akhirnya orang tersebut akan bisa tahu deskripsi gajah yang paling mewakili gajah itu, misal: gajah adalah binatang yang memiliki belalai (tentu ada karakteristik lain selain ini).

Akan tetapi, ketika orang buta sudah memegang teguh apa yang dipegang dia dan tidak berusaha menempatkan diri pada posisi orang buta yang lain, bisa jadi orang tersebut melewatkan sesuatu yang lebih utama dibandingkan dengan apa yang ia pengang tersebut. Situasi ini, mungkin akan menjadi semakin parah ketika tiap-tiap orang buta tersebut mengedepankan pendapatnya masing-masing. Maka yang terjadi adalah habis tenaga untuk membela sesuatu yang tidak terlalu utama.

Kembali ke contoh kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Saya cukup sering melihat komentar-komentar yang diutarakan dalam surat kabar online atau media sosial. Kadang kala, ketika membaca komentar ini, sering muncul rasa keheranan dan penasaran. Ambil contoh, ada berita tentang demo warga yang menolak pendirian suatu pabrik yang mungkin keberadaanya kelak menganggu keseimbangan alam. Ada beberapa komentar yang menganggap sinis demo tersebut, dan dengan mudahnya mengatakan kurang lebih: bagaimana mau maju, pabrik aja ditolak, berkorban dong demi kemajuan (paraphrase saya).

Keheranan dan penasaran saya adalah apakah orang yang berkomentar ini telah berusaha memahami apa yang mereka khawatirkan? Berkorban untuk kemajuan, itu berarti berkorban untuk orang yang berkomentar. Apakah orang yang melontarkan komentar tersebut mau berkorban untuk orang yang telah berkorban tersebut? Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi dari komentar tersebut adalah, berkorban dalam konteks ini bisa jadi mengorbankan masa depan orang yang demo tersebut untuk sebuah kemajuan. Bukankah ini adalah hal yang besar dan berat? Lebih-lebih, orang yang berdemo tersebut tidaklah melanggar hukum apapun, salahkah mereka?

Hal ini pula yang saya dapati ketika ada penggusuran di ibukota. Perlukah kita berempati pada orang yang digusur? Saya kira hal ini sangat diperlukan dan rasanya berempati tidak menjadikan seseorang membenarkan akan sesuatu. Ambil contoh, kalau orang tersebut digusur karena ilegal, ya tindakannya tetap salah. Nah, justru dengan berempati membuat kita semakin berhati-hati dalam menyikapi persoalan ini. Dan pada akhirnya kita bisa paham bahwa gajah itu memiliki belalai (ingat cerita di atas). Hanya penasaran di akhir, mungkin kita berbuat yang sama kalau di posisi mereka? Ntah lah…

Kurang Tertatanya Gua Jatijajar

Musim panas tahun lalu (2015) saya berkesempatan untuk pulang ke Indonesia. Rumah orang tua saya berada di Kebumen. Kebumen merupakan kabupaten yang terletak di sebelah selatan pulau Jawa. Waktu tempuh dari Jogjakarta sekitar 3-4 jam dengan menggunakan bus/mobil.

Seperti halnya wilayah kabupaten lain di Indonesia, Kebumen juga memiliki beberapa wisata andalan. Salah satu objek wisata yang cukup berbeda dengan kabupaten lain adalah Gua. Hal ini karena wilaya Kebumen yang memiliki pegunungan kapur (karst). Sekarang ini, wilayah pegunungan karst ini telah masuk kedalam wilayah yang dilindungi oleh Negara. Salah satu dari banyak Gua yang menjadi andalan wisata adalah Gua Jatijajar.

Terakhir kali saya berkunjung ke Jatijajar sekitar tahun 2004-2005 (10 tahun lalu). Saat itu, sekolah saya masih sering mengadakan hiking rutin ke Gua tersebut. Kala itu kami akan memulai perjalanan dari sekolah ke Gua tersebut dengan jarak sekitar 11 kilometer. Perjalanan pulang dilakukan dengan menyewa truk.

Pada waktu itu, Jatijajar itu tempatnya asri, bersih, dan banyak pohon. Di dalam objek wisata hanya terdapat 1 pasar yang menjual pernak-pernik oleh-oleh. Gua Jatijajar memiliki 3 buah gua yang saya lupa namanya (salah satunya jelas Gua Jatijajar). Saat masuk ke Gua Jatijajar, sudah terlihat beberapa tulisan pada dinding gua dengan menggunakan spidol. Di dalam pintu masuk, terdapat patung lutung kasarung yang merupakan legenda terkait dengan Gua ini. Jalur masuk ke gua, tidak ada yang dicor jadi tidak rata. Di dalamnya terasa dingin, dan ada dua sumber mata air lengkap dengan mitos-mitosnya. Di sekitar gua, terdapat bangunan yang seperti tobong kabur dari bata merah. Untuk toilet, standar toilet Indonesia kala itu. Rumput juga tumbuh di sekitar gua, sehingga enak untuk duduk-duduk makan siang. Baguslah saat itu.

Nah, karena sudah 10 tahun tidak berkunjung ke sana, maka saya putuskan untuk berkunjung ke tempat tersebut. Waktu itu saya masih merasa exited saat di dalam mobil. Tetapi semua itu berubah setelah di depan loket pintu masuk. Yah… Ternyata jadi begini.

IMG_4671

Pintu masuk Gua

IMG_4732

Tenda para penjual

IMG_4748

Beberapa penjual menggelar lesehan

IMG_4704

IMG_4705 Penjual lagi

 

Begini seperti apa. Ya bayangkan, ada banyak penjual makanan begitu banyak. Ruang terbuka yang dulu penuh tumbuhan, sekarang isinya tenda-tenda lesehan orang berjualan (bukan lesehan orang piknik). Belum lagi, sampah-sampah yang berserakan. Alhasil, saya merasa berkunjung ke pasar bukan ke objek wisata. Belum lagi para penjual yang ramai menawarkan dagangannya. Oh tidak. Saya merasa masuk ke tempat yang salah. Di beberapa titik saya juga menjumpai sampah yang dibakar. Hal ini yang menjadikan saya terheran-heran. Ini kan objek wisata. Kenapa ada sampah dibakar di dalam objek tersebut. Apakah ini bagian dari kebijakan manajemen?

Saya pun paham adanya penjual di dalam objek wisata tersebut. Bagaimana peran gua tersebut dalam kegiatan ekonomi masyarakat sekitar. Tetapi ya, tidak seperti itu juga rasanya.

IMG_4706

Sisa sampah dibakar

Sisa sampah dibakar

Mungkin karena musim kemarau akibat el nino, suasa begitu gersang. Dalam gua terasa sedikit panas. Tak ada lagi tuh, tetesan air melalui stalagmite. Gua Jatijajar masih mendingan situasinya dibandingkan dengan gua-gua lainnya. Saya pun hanya masuk ke satu gua yang lainnya. Dan kondisinya, ada sampah di dalam gua. Oh no…

Itu siapa yang minum obat batuk segitu banyak

Itu siapa yang minum obat batuk segitu banyak

Jujur saya sedih. Belum lagi, ada banyak sekali tulisan di dalam gua. Saya pun tidak habis pikir, itu nulis di gua buat apa, dalam hati “kamu mau tulis apa gitu, saya tetep nggak tahu kamu”. Justru kegiatan seperti itu merusak objek wisata. Nulis seperti itu nggak membuat kamu jadi keren. Emang nggak kasihan kamu sama anak-anakmu nanti, mereka tidak bisa menikmati indahnya gua tersebut seperti kamu sendiri. Ewww… Lihat di foto di bawah ini coba. Sungguh merusak pemandangan.

IMG_4680 IMG_4677

Tulisan di dinding gua

Tulisan di dinding gua

Keluar mencari tobong kapur yang waktu itu terlihat bagus, justru sekarang terlihat tidak terurus dan banyak tulisan-tulisan yang saru (dalam bahasa jawa, artinya: tidak sopan). Sudahlah, saya merasa kesal sekali. Baru kali ini saya berkunjung ke tempat wisata bukannya senang malah agak kesal. Sesekali saya juga melihat ada turis asing yang berkunjung ke sana. Jujur saat itu saya malu sekali, malu kepada turis asing tersebut dengan kondisi gua tersebut.

Eh, tulisan begitu kadang justru yang jadi peninggalan sejarah yah. Hahaha. Bayangkan 3000 tahun di masa depan, saat Gua Jatijajar sudah tertutup tanah. Lalu ada manusia dari zaman sana menggali tanah di sekitar Gua itu. Tiba-tiba dia menemukan Gua. Terus di dalamnya ada tulisan-tulisan manusia seperti itu. Bukakah itu jadi penemuan yang penting. Hahahaha. Ingatkan dengan lukisan yang ada di dalam gua. Cuma mungkin mereka akan kecewa dengan beberapa makna tulisan yang ditemukan. *Bagian ini hanya lelucon saja*

IMG_4709 IMG_4710

Tulisan di tobong kapur

Tulisan di tobong kapur

Saya pikir ada yang salah dengan pihak manajemen objek wisata tersebut. Saya tidak tahu, mau diarahkan kemana objek wisata itu. Itulah kesan saya. Manajemen yang kurang baik, sehingga tidak bisa menanggulangi ledakan penjual dalam gua dan perawatan gua. Saya juga heran, memang tidak pernah ada usaha untuk pembuangan tulisan-tulisan yang nempel banyak di objek wisata (saya penasaran, ada atau tidak teknologi untuk membersihkan hal seperti itu)? Memang dari infrastruktur sekarang lebih baik. Jalan sekarang sudah permanen dan tidak becek saat hujan. Tapi hanya itu kemajuannya. Lainnya justru mengalami kemunduran. Rasanya bukan kombinasi yang bagus menggabungkan penjual makanan di mulut gua.

Jembatan masuk gua sudah bagus

Jembatan masuk gua sudah bagus

Satu lagi yang saya heran adalah tangga dan beberapa dinding bangunan menuju Gua itu berwarna-warni. Begitulah catnya. Rasanya gimana gitu. Daripada mengadakan anggaran untuk pengecatan, lebih baik dananya untuk pemeliharaan Gua. Dengan begini, dana untuk perawatan akan bertambah.

IMG_4733 IMG_4747

Warna-warni bangunan

Warna-warni bangunan

Rasanya lebih bagus kalau di sekitar gua dibangun museum yang mengenalkan apa itu wilayah karst atau wilayah kebumen lebih detil. Menjelaskan bagaimana gua itu terjadi. Bagaimana peta pengunungan karst itu. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk merawat gua. Bagaimana sejarah gua itu. Syukur-syukur bisa melihat animasi cerita lokal yang terkait dengan Gua itu. Itu lebih mendidik dan lebih informatif. Lalu, pohon-pohon coba diperbanyak. Menurut saya suatu objek wisata tidak hanya mengenalkan apa itu, tapi juga mengenalkan wilayah sekitarnya sehingga orang yang berkunjung ke tempat tersebut pun dapat paham budaya, kebiasaan masyarakat sekitarnya.

Bayangkan ada turis asing yang ingin berkunjung, sudah jauh-jauh dari rumah mereka, dan apa yang mereka dapati tidak sebanding. Rasanya harus ada banyak yang ditata, sebelum memasarkan tempat tersebut sebagai salah satu wisata andalan. Pertimbangan lain saat hendak mengembangkan tempat wisata adalah pesan seperti apa yang ingin disampaikan. Apa yang ingin kita pamerkan. Dan tentunya penambahan wahana lain akan menambah kuat konsep wisata yang ingin disajikan. Oh iya, mungkin ada baiknya ada tulisan apa yang tidak boleh dilakukan dalam objek wisata tersebut. Saya sendiri tidak mendapati adanya larangan tulis-menulis. Bisa jadi ada, tapi tidak ada yang tahu. Anyway, saya juga bukan ahli soal manajemen tempat wisata, jadi kalau ada yang tidak sesuai, abaikan saja.

Kesimpulan saya setelah mengunjungi Gua Jatijajar adalah tidak ada yang berubah dari segi wahana, hanya saja semakin semrawut, justru ada beberapa gua yang sudah sulit diakses. Barangkali pengujung menurun, tapi harusnya nggak begitu juga kondisinya. Entahlah… Berdasarkan sumber ini, gua ini berhasil menyumbang sekitar 2 miliar rupiah APBD. Itu pendapatan paling tinggi dibanding objek lain di wilayah kebumen. Semoga saja di masa depan situasinya lebih baik.

Sein Canggih di Jepang

Kendaraan seperti truk atau bis memang unik. Unik dalam arti, ada saja fitur yang digunakan untuk memberi tahu pengguna jalan lainnya kalau kendaraan badan besar itu akan lewat. Maka tak heran, di Indonesia ramai dengan bermacam-macam klakson. Bahkan ada bunyi klason panjang mirip dengan ringtone hp barang kali. Bagus sih, meskipun kalau boleh jujur, saya lebih sering merasa kaget kalau mendengarnya, terutama saat dulu sering bersepeda di jalan besar. Bagaimana tidak kaget, tiba-tiba ada suara tetot-tetot-tetot keras panjang di pinggir kita. Kendaraan besar umumnya jarang mengeluarkan suara gerungan mesin, kecuali mesinnya jelek.

Berpindah ke jepang, klakson ternyata tidak neko-neko. Yang neko-neko justru adalah sein-nya yang tidak hanya lampu, tapi suara. Jadi ketika kendaraan itu hendak belok, kendaraan itu akan bilang, “mau belok kiri/kanan, tolong berhati-hati”. Kurang lebih itu bunyinya setelah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Jadi saat tidak sempat menengok lampu sein, secara langsung si pengguna jalan lain tahu kemana kendaraan itu akan berbelok. Unik kan yah?

Oh iya, di Jepang juga sepertinya umum, untuk kendaraan biasa mengeluarkan suara-suara tertentu. Suara tertentu ini umumnya suara orang jualan. Perbandingan yang setara mungkin suara penjual tahu bulat atau perkakas rumah tangga yang sering keliling rumah-rumah. Hahaha

Saya pun kepikiran, mungkin ada baiknya kalau ambulan bisa mengadaptasi mobil bersuara. Kalau dilihat-lihat sekarang orang tidak begitu peduli dengan suara sirine ambulan. Ada saja orang yang ngotot tak mau mengalah satu pun. Padahal, kalau ambulan itu lewat, itu artinya ada sesuatu yang kritis terjadi dan butuh segera ditangani. Ini berarti ambulan memiliki prioritas paling tinggi sebagai pengguna jalan dan sudah semestinya kendaraan lain untuk mengalah. Saya cuma membayangkan coba kalau ambulan itu bisa berbicara, seperti “ambulan datang, tolong minggir, mohon berhati-hati, korban harus segera ke rumah sakit!“. Dengan begini mungkin persepsi masyarakat akan berubah. Mereka akan sadar, kalau ambulan itu prioritas utama. Kali…

Kurang lebih contohnya seperti ini untuk kendaraan yang bersuara akan berbelok:

Stiker Kombini

Sekarang ini, jumlah minimarket di indonesia seperti cendawan di musim hujan. Banyak menyebar ke pelosok negeri. Saat belanja di minimarket kadang saya merasa sedikit gelisah saat saya membawa pula minuman botol yang saya beli di tempat lain dan benda tersebut bisa juga dibeli di minimarket tersebut. Gelisah dalam artian takutnya si kasir menduga saya mengambil barang dari toko padahal baranh tersebut memang dibeli dari toko lain. Atau misal minuman itu sudah diminum, bisa saja kasir mengira kalau saya mengambil minuman dari toko dan meminun langsung sehingga menimbulkan kesan saya membeli minuman dari toko lain padahal memang membeli minuman di toko lain. Hahaha.

Di Jepang, minimarket itu juga ada banyak. Di sini istilahnya konbini yang merupakan singkatan dari istilah bahasa Inggris convenience store. Tampaknya di Jepang ini, mereka berhasil menyelesaikan masalah sedikit kegelisahan saya itu. Setiap selesai transaksi, kasih di sini akan selalu menempelkan stiker yang bertuliskan nama konbini itu pada plastik tempat kita menaruh barang belanjaan atau pada barang belanjaan secara langsung ketika tidak ditaruh di plasik. Di bawah artikel ini, ada contoh gambarnya. Dengan begini, semua orang akan paham kalau barang tersebut telah memalui proses transaksi dan berpindah hak kepemilikannya.

Dengan begini, kasir pun tidak perlu melakukan konfirmasi dengan bertanya kepada pembawa barang tersebut, berikut juga pembawa barang dapat belanja dengan tidak perlu merasakan kecemasan atau dikonfirmasi.

Sederhana bukan? Lalu yang mengejutkannya lagi, hal ini merupakan tindakan yang umum pada toko-toko di Jepang. Mungkin sudah menjadi paham masyarakat umum dan sudah menjadi kewajiban untuk pemilik toko menaruh stiker setelah transaksi beres.

IMG_1019

Permulaan (1)

Hari hujan, duduk di pinggir jendela kamar, memandang ke halaman yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Ada pohon entah apa namanya, tapi orang sini sering menyebutnya momiji. Saat musim gugur, daunya akan berwarna-warni, begitu cantik, dan orang akan berbondong-bondong duduk di sekitarnya. Itu lah momiji. Cuaca tak begitu panas, tak begitu dingin pula, mirip dengan hawa di kampung yang terletak ribuan kilometer.

Sedikit bosan, sedikit tertarik. Tiba-tiba, pikiran ini terperosok ke ingatan tentang kejadian yang terjadi puluhan tahun silam. Agaknya manusia memang selalu menyimpan beberapa ingatan yang dirasa menyenangkan dan menyedihkan. Untuk diingat dan dipelajari lagi mungkin, atau barangkali sebagai kenang-kenangan kejadian lampau. Seperti halnya kerajaan meninggalkan prasasti, setiap manusia meninggalkan potongan peristiwa di pikirannya masing-masing. Bak arkeologis, manusia itu sendiri yang akan menggali-gali di saat-saat tertentu.

Aku ingat, itu adalah waktu yang paling membosankan di SMP. Tahukah kau peristiwa yang aku maksud itu? Itu adalah saat perlombaan antar-kelas setelah ujian akhir semester. Saat guru-guru sibuk menilai hasil ujian para siswa dan tak ada ilmu yang perlu disampaikan kepada para murid, maka sekolah pun mengadakan lomba antar kelas. Lombanya sederhana, lomba sepak bola.

Aku tak tertarik dengan sepak bola. Sepak bola sendiri hanya butuh 11 orang, itu artinya mayoritas siswa dalam satu kelas tidak memiliki kegiatan apapun selain menonton pertandingan itu sendiri. Bosan bukan? Aslinya, banyak orang yang ingin libur, apa daya, kalau ini dilakukan berarti kami membolos sekolah. Membolos tidak baik. Toh berangkat tidak terlalu buruk, jam 11 kami pun sudah bubar pulang ke rumah masing-masing.

Aku sudah tak ingat lagi, siapa yang juara, apa kelasku juara atau tidak. Waktu aku kelas dua dan kelas di bagi lima, sekolah memberi label dari A-E. Penentuan kelas ditentukan berdasarkan kemampuan akademik murid-murid di sekolah. Kabarnya kelas paling top itu adalah kelas E. Dari kelas 1 sampai kelas 3, kelas E merupakan kelas yang paling mencolok. Mereka menempati bangunan baru, lantai keramik putih mengkilat, dan di depan berjajar pot bunga yang lurus berbaris. Sedang apes kali yah, zamanku, kelas 1 E justru menempati laboratorium biologi yang tak pernah digunakan lagi. Bangunannya tua, mengelilingi gedung terdapat wastafel untuk mencuci tangan, tapi sayang sudah rusak semua. Rusak karena mungkin tidak pernah digunakan. Seumur-umur aku sekolah di sana, tak pernah ada praktikum sedikit pun. Kelas 1 E harus menenpati bangunan itu karena ruang kelas mereka tengah direnovasi.

Sekolahku terletak di desa yang cukup tenang, tak banyak kendaraan lalu-lalang dan di kelilingi pekarangan yang dimiliki oleh penduduk sekitar. Salah satu peristiwa yang menyengkan bersekolah di sana adalah di waktu pagi akan banyak siswa-siswa yang berjalan ke sekolah. Umumnya para murid akan berjalan sekitar 2-3 kilo meter untuk menjangkau sekolah itu. SPP sekolah pun tak begitu mahal kala itu, kurang dari 20 ribu rupiah, rasanya.

Di kala lomba begini, selain lapangan yang ramai, warung-warung di sekitar sekolah juga ramai. Kala itu ada 5 warung di sekitar sekolah, tapi aku hanya pernah mengunjungi dua di antara mereka. Alasannya sederhana, jauh dari kelas. Perpustakaan juga akan ramai, tapi sepertinya tak pernah ada buku baru yang datang, kecuali majalah berbahasa jawa. Majalah itu kerap digunakan untuk mengajar oleh pak guru bahasa Jawa karena banyak mengandung tulisan dengan bahasa Jawa baik dengan alfabet atau tulisan jawa.

Oh iya, perpus juga menjadi tempat kami meminjam buku paket pelajar. Jadi boleh dibilang orang tua kami mengeluarkan seperser rupiah pun untuk buku paket, kecuali kalau menghilangkan buku itu. Kami pun tidak menggunakan LKS, semua latihan soal kami peroleh dari buku paket, atau sesekali ada guru yang memberikan fotokopian latihan soal dari buku koleksi beliau.

Saat lomba itu, aku lebih memilih duduk di sekitar perpustakaan. Angin sepoi-sepoi menipu tubuh, ngantuk rasanya. Aku pun bilang, aku ingin belajar ke negeri J. Dalam perjalanan mencapai keinginan itu, tentu ada beberapa capaian kecil. Di salah satu capaian kecil itu aku pun akan bertemu dengan seseorang yang mengatakan ingin pergi ke negeri J untuk belajar. Dia pun sudah bermimpi sejak lama. Aku pun kelak akan bersahabat dengannya.

Betapa bebasnya anak-anak bermimpi!!!