Kurang Tertatanya Gua Jatijajar

Musim panas tahun lalu (2015) saya berkesempatan untuk pulang ke Indonesia. Rumah orang tua saya berada di Kebumen. Kebumen merupakan kabupaten yang terletak di sebelah selatan pulau Jawa. Waktu tempuh dari Jogjakarta sekitar 3-4 jam dengan menggunakan bus/mobil.

Seperti halnya wilayah kabupaten lain di Indonesia, Kebumen juga memiliki beberapa wisata andalan. Salah satu objek wisata yang cukup berbeda dengan kabupaten lain adalah Gua. Hal ini karena wilaya Kebumen yang memiliki pegunungan kapur (karst). Sekarang ini, wilayah pegunungan karst ini telah masuk kedalam wilayah yang dilindungi oleh Negara. Salah satu dari banyak Gua yang menjadi andalan wisata adalah Gua Jatijajar.

Terakhir kali saya berkunjung ke Jatijajar sekitar tahun 2004-2005 (10 tahun lalu). Saat itu, sekolah saya masih sering mengadakan hiking rutin ke Gua tersebut. Kala itu kami akan memulai perjalanan dari sekolah ke Gua tersebut dengan jarak sekitar 11 kilometer. Perjalanan pulang dilakukan dengan menyewa truk.

Pada waktu itu, Jatijajar itu tempatnya asri, bersih, dan banyak pohon. Di dalam objek wisata hanya terdapat 1 pasar yang menjual pernak-pernik oleh-oleh. Gua Jatijajar memiliki 3 buah gua yang saya lupa namanya (salah satunya jelas Gua Jatijajar). Saat masuk ke Gua Jatijajar, sudah terlihat beberapa tulisan pada dinding gua dengan menggunakan spidol. Di dalam pintu masuk, terdapat patung lutung kasarung yang merupakan legenda terkait dengan Gua ini. Jalur masuk ke gua, tidak ada yang dicor jadi tidak rata. Di dalamnya terasa dingin, dan ada dua sumber mata air lengkap dengan mitos-mitosnya. Di sekitar gua, terdapat bangunan yang seperti tobong kabur dari bata merah. Untuk toilet, standar toilet Indonesia kala itu. Rumput juga tumbuh di sekitar gua, sehingga enak untuk duduk-duduk makan siang. Baguslah saat itu.

Nah, karena sudah 10 tahun tidak berkunjung ke sana, maka saya putuskan untuk berkunjung ke tempat tersebut. Waktu itu saya masih merasa exited saat di dalam mobil. Tetapi semua itu berubah setelah di depan loket pintu masuk. Yah… Ternyata jadi begini.

IMG_4671

Pintu masuk Gua

IMG_4732

Tenda para penjual

IMG_4748

Beberapa penjual menggelar lesehan

IMG_4704

IMG_4705 Penjual lagi

 

Begini seperti apa. Ya bayangkan, ada banyak penjual makanan begitu banyak. Ruang terbuka yang dulu penuh tumbuhan, sekarang isinya tenda-tenda lesehan orang berjualan (bukan lesehan orang piknik). Belum lagi, sampah-sampah yang berserakan. Alhasil, saya merasa berkunjung ke pasar bukan ke objek wisata. Belum lagi para penjual yang ramai menawarkan dagangannya. Oh tidak. Saya merasa masuk ke tempat yang salah. Di beberapa titik saya juga menjumpai sampah yang dibakar. Hal ini yang menjadikan saya terheran-heran. Ini kan objek wisata. Kenapa ada sampah dibakar di dalam objek tersebut. Apakah ini bagian dari kebijakan manajemen?

Saya pun paham adanya penjual di dalam objek wisata tersebut. Bagaimana peran gua tersebut dalam kegiatan ekonomi masyarakat sekitar. Tetapi ya, tidak seperti itu juga rasanya.

IMG_4706

Sisa sampah dibakar

Sisa sampah dibakar

Mungkin karena musim kemarau akibat el nino, suasa begitu gersang. Dalam gua terasa sedikit panas. Tak ada lagi tuh, tetesan air melalui stalagmite. Gua Jatijajar masih mendingan situasinya dibandingkan dengan gua-gua lainnya. Saya pun hanya masuk ke satu gua yang lainnya. Dan kondisinya, ada sampah di dalam gua. Oh no…

Itu siapa yang minum obat batuk segitu banyak

Itu siapa yang minum obat batuk segitu banyak

Jujur saya sedih. Belum lagi, ada banyak sekali tulisan di dalam gua. Saya pun tidak habis pikir, itu nulis di gua buat apa, dalam hati “kamu mau tulis apa gitu, saya tetep nggak tahu kamu”. Justru kegiatan seperti itu merusak objek wisata. Nulis seperti itu nggak membuat kamu jadi keren. Emang nggak kasihan kamu sama anak-anakmu nanti, mereka tidak bisa menikmati indahnya gua tersebut seperti kamu sendiri. Ewww… Lihat di foto di bawah ini coba. Sungguh merusak pemandangan.

IMG_4680 IMG_4677

Tulisan di dinding gua

Tulisan di dinding gua

Keluar mencari tobong kapur yang waktu itu terlihat bagus, justru sekarang terlihat tidak terurus dan banyak tulisan-tulisan yang saru (dalam bahasa jawa, artinya: tidak sopan). Sudahlah, saya merasa kesal sekali. Baru kali ini saya berkunjung ke tempat wisata bukannya senang malah agak kesal. Sesekali saya juga melihat ada turis asing yang berkunjung ke sana. Jujur saat itu saya malu sekali, malu kepada turis asing tersebut dengan kondisi gua tersebut.

Eh, tulisan begitu kadang justru yang jadi peninggalan sejarah yah. Hahaha. Bayangkan 3000 tahun di masa depan, saat Gua Jatijajar sudah tertutup tanah. Lalu ada manusia dari zaman sana menggali tanah di sekitar Gua itu. Tiba-tiba dia menemukan Gua. Terus di dalamnya ada tulisan-tulisan manusia seperti itu. Bukakah itu jadi penemuan yang penting. Hahahaha. Ingatkan dengan lukisan yang ada di dalam gua. Cuma mungkin mereka akan kecewa dengan beberapa makna tulisan yang ditemukan. *Bagian ini hanya lelucon saja*

IMG_4709 IMG_4710

Tulisan di tobong kapur

Tulisan di tobong kapur

Saya pikir ada yang salah dengan pihak manajemen objek wisata tersebut. Saya tidak tahu, mau diarahkan kemana objek wisata itu. Itulah kesan saya. Manajemen yang kurang baik, sehingga tidak bisa menanggulangi ledakan penjual dalam gua dan perawatan gua. Saya juga heran, memang tidak pernah ada usaha untuk pembuangan tulisan-tulisan yang nempel banyak di objek wisata (saya penasaran, ada atau tidak teknologi untuk membersihkan hal seperti itu)? Memang dari infrastruktur sekarang lebih baik. Jalan sekarang sudah permanen dan tidak becek saat hujan. Tapi hanya itu kemajuannya. Lainnya justru mengalami kemunduran. Rasanya bukan kombinasi yang bagus menggabungkan penjual makanan di mulut gua.

Jembatan masuk gua sudah bagus

Jembatan masuk gua sudah bagus

Satu lagi yang saya heran adalah tangga dan beberapa dinding bangunan menuju Gua itu berwarna-warni. Begitulah catnya. Rasanya gimana gitu. Daripada mengadakan anggaran untuk pengecatan, lebih baik dananya untuk pemeliharaan Gua. Dengan begini, dana untuk perawatan akan bertambah.

IMG_4733 IMG_4747

Warna-warni bangunan

Warna-warni bangunan

Rasanya lebih bagus kalau di sekitar gua dibangun museum yang mengenalkan apa itu wilayah karst atau wilayah kebumen lebih detil. Menjelaskan bagaimana gua itu terjadi. Bagaimana peta pengunungan karst itu. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk merawat gua. Bagaimana sejarah gua itu. Syukur-syukur bisa melihat animasi cerita lokal yang terkait dengan Gua itu. Itu lebih mendidik dan lebih informatif. Lalu, pohon-pohon coba diperbanyak. Menurut saya suatu objek wisata tidak hanya mengenalkan apa itu, tapi juga mengenalkan wilayah sekitarnya sehingga orang yang berkunjung ke tempat tersebut pun dapat paham budaya, kebiasaan masyarakat sekitarnya.

Bayangkan ada turis asing yang ingin berkunjung, sudah jauh-jauh dari rumah mereka, dan apa yang mereka dapati tidak sebanding. Rasanya harus ada banyak yang ditata, sebelum memasarkan tempat tersebut sebagai salah satu wisata andalan. Pertimbangan lain saat hendak mengembangkan tempat wisata adalah pesan seperti apa yang ingin disampaikan. Apa yang ingin kita pamerkan. Dan tentunya penambahan wahana lain akan menambah kuat konsep wisata yang ingin disajikan. Oh iya, mungkin ada baiknya ada tulisan apa yang tidak boleh dilakukan dalam objek wisata tersebut. Saya sendiri tidak mendapati adanya larangan tulis-menulis. Bisa jadi ada, tapi tidak ada yang tahu. Anyway, saya juga bukan ahli soal manajemen tempat wisata, jadi kalau ada yang tidak sesuai, abaikan saja.

Kesimpulan saya setelah mengunjungi Gua Jatijajar adalah tidak ada yang berubah dari segi wahana, hanya saja semakin semrawut, justru ada beberapa gua yang sudah sulit diakses. Barangkali pengujung menurun, tapi harusnya nggak begitu juga kondisinya. Entahlah… Berdasarkan sumber ini, gua ini berhasil menyumbang sekitar 2 miliar rupiah APBD. Itu pendapatan paling tinggi dibanding objek lain di wilayah kebumen. Semoga saja di masa depan situasinya lebih baik.

Sein Canggih di Jepang

Kendaraan seperti truk atau bis memang unik. Unik dalam arti, ada saja fitur yang digunakan untuk memberi tahu pengguna jalan lainnya kalau kendaraan badan besar itu akan lewat. Maka tak heran, di Indonesia ramai dengan bermacam-macam klakson. Bahkan ada bunyi klason panjang mirip dengan ringtone hp barang kali. Bagus sih, meskipun kalau boleh jujur, saya lebih sering merasa kaget kalau mendengarnya, terutama saat dulu sering bersepeda di jalan besar. Bagaimana tidak kaget, tiba-tiba ada suara tetot-tetot-tetot keras panjang di pinggir kita. Kendaraan besar umumnya jarang mengeluarkan suara gerungan mesin, kecuali mesinnya jelek.

Berpindah ke jepang, klakson ternyata tidak neko-neko. Yang neko-neko justru adalah sein-nya yang tidak hanya lampu, tapi suara. Jadi ketika kendaraan itu hendak belok, kendaraan itu akan bilang, “mau belok kiri/kanan, tolong berhati-hati”. Kurang lebih itu bunyinya setelah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Jadi saat tidak sempat menengok lampu sein, secara langsung si pengguna jalan lain tahu kemana kendaraan itu akan berbelok. Unik kan yah?

Oh iya, di Jepang juga sepertinya umum, untuk kendaraan biasa mengeluarkan suara-suara tertentu. Suara tertentu ini umumnya suara orang jualan. Perbandingan yang setara mungkin suara penjual tahu bulat atau perkakas rumah tangga yang sering keliling rumah-rumah. Hahaha

Saya pun kepikiran, mungkin ada baiknya kalau ambulan bisa mengadaptasi mobil bersuara. Kalau dilihat-lihat sekarang orang tidak begitu peduli dengan suara sirine ambulan. Ada saja orang yang ngotot tak mau mengalah satu pun. Padahal, kalau ambulan itu lewat, itu artinya ada sesuatu yang kritis terjadi dan butuh segera ditangani. Ini berarti ambulan memiliki prioritas paling tinggi sebagai pengguna jalan dan sudah semestinya kendaraan lain untuk mengalah. Saya cuma membayangkan coba kalau ambulan itu bisa berbicara, seperti “ambulan datang, tolong minggir, mohon berhati-hati, korban harus segera ke rumah sakit!“. Dengan begini mungkin persepsi masyarakat akan berubah. Mereka akan sadar, kalau ambulan itu prioritas utama. Kali…

Kurang lebih contohnya seperti ini untuk kendaraan yang bersuara akan berbelok:

Stiker Kombini

Sekarang ini, jumlah minimarket di indonesia seperti cendawan di musim hujan. Banyak menyebar ke pelosok negeri. Saat belanja di minimarket kadang saya merasa sedikit gelisah saat saya membawa pula minuman botol yang saya beli di tempat lain dan benda tersebut bisa juga dibeli di minimarket tersebut. Gelisah dalam artian takutnya si kasir menduga saya mengambil barang dari toko padahal baranh tersebut memang dibeli dari toko lain. Atau misal minuman itu sudah diminum, bisa saja kasir mengira kalau saya mengambil minuman dari toko dan meminun langsung sehingga menimbulkan kesan saya membeli minuman dari toko lain padahal memang membeli minuman di toko lain. Hahaha.

Di Jepang, minimarket itu juga ada banyak. Di sini istilahnya konbini yang merupakan singkatan dari istilah bahasa Inggris convenience store. Tampaknya di Jepang ini, mereka berhasil menyelesaikan masalah sedikit kegelisahan saya itu. Setiap selesai transaksi, kasih di sini akan selalu menempelkan stiker yang bertuliskan nama konbini itu pada plastik tempat kita menaruh barang belanjaan atau pada barang belanjaan secara langsung ketika tidak ditaruh di plasik. Di bawah artikel ini, ada contoh gambarnya. Dengan begini, semua orang akan paham kalau barang tersebut telah memalui proses transaksi dan berpindah hak kepemilikannya.

Dengan begini, kasir pun tidak perlu melakukan konfirmasi dengan bertanya kepada pembawa barang tersebut, berikut juga pembawa barang dapat belanja dengan tidak perlu merasakan kecemasan atau dikonfirmasi.

Sederhana bukan? Lalu yang mengejutkannya lagi, hal ini merupakan tindakan yang umum pada toko-toko di Jepang. Mungkin sudah menjadi paham masyarakat umum dan sudah menjadi kewajiban untuk pemilik toko menaruh stiker setelah transaksi beres.

IMG_1019

Permulaan (1)

Hari hujan, duduk di pinggir jendela kamar, memandang ke halaman yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Ada pohon entah apa namanya, tapi orang sini sering menyebutnya momiji. Saat musim gugur, daunya akan berwarna-warni, begitu cantik, dan orang akan berbondong-bondong duduk di sekitarnya. Itu lah momiji. Cuaca tak begitu panas, tak begitu dingin pula, mirip dengan hawa di kampung yang terletak ribuan kilometer.

Sedikit bosan, sedikit tertarik. Tiba-tiba, pikiran ini terperosok ke ingatan tentang kejadian yang terjadi puluhan tahun silam. Agaknya manusia memang selalu menyimpan beberapa ingatan yang dirasa menyenangkan dan menyedihkan. Untuk diingat dan dipelajari lagi mungkin, atau barangkali sebagai kenang-kenangan kejadian lampau. Seperti halnya kerajaan meninggalkan prasasti, setiap manusia meninggalkan potongan peristiwa di pikirannya masing-masing. Bak arkeologis, manusia itu sendiri yang akan menggali-gali di saat-saat tertentu.

Aku ingat, itu adalah waktu yang paling membosankan di SMP. Tahukah kau peristiwa yang aku maksud itu? Itu adalah saat perlombaan antar-kelas setelah ujian akhir semester. Saat guru-guru sibuk menilai hasil ujian para siswa dan tak ada ilmu yang perlu disampaikan kepada para murid, maka sekolah pun mengadakan lomba antar kelas. Lombanya sederhana, lomba sepak bola.

Aku tak tertarik dengan sepak bola. Sepak bola sendiri hanya butuh 11 orang, itu artinya mayoritas siswa dalam satu kelas tidak memiliki kegiatan apapun selain menonton pertandingan itu sendiri. Bosan bukan? Aslinya, banyak orang yang ingin libur, apa daya, kalau ini dilakukan berarti kami membolos sekolah. Membolos tidak baik. Toh berangkat tidak terlalu buruk, jam 11 kami pun sudah bubar pulang ke rumah masing-masing.

Aku sudah tak ingat lagi, siapa yang juara, apa kelasku juara atau tidak. Waktu aku kelas dua dan kelas di bagi lima, sekolah memberi label dari A-E. Penentuan kelas ditentukan berdasarkan kemampuan akademik murid-murid di sekolah. Kabarnya kelas paling top itu adalah kelas E. Dari kelas 1 sampai kelas 3, kelas E merupakan kelas yang paling mencolok. Mereka menempati bangunan baru, lantai keramik putih mengkilat, dan di depan berjajar pot bunga yang lurus berbaris. Sedang apes kali yah, zamanku, kelas 1 E justru menempati laboratorium biologi yang tak pernah digunakan lagi. Bangunannya tua, mengelilingi gedung terdapat wastafel untuk mencuci tangan, tapi sayang sudah rusak semua. Rusak karena mungkin tidak pernah digunakan. Seumur-umur aku sekolah di sana, tak pernah ada praktikum sedikit pun. Kelas 1 E harus menenpati bangunan itu karena ruang kelas mereka tengah direnovasi.

Sekolahku terletak di desa yang cukup tenang, tak banyak kendaraan lalu-lalang dan di kelilingi pekarangan yang dimiliki oleh penduduk sekitar. Salah satu peristiwa yang menyengkan bersekolah di sana adalah di waktu pagi akan banyak siswa-siswa yang berjalan ke sekolah. Umumnya para murid akan berjalan sekitar 2-3 kilo meter untuk menjangkau sekolah itu. SPP sekolah pun tak begitu mahal kala itu, kurang dari 20 ribu rupiah, rasanya.

Di kala lomba begini, selain lapangan yang ramai, warung-warung di sekitar sekolah juga ramai. Kala itu ada 5 warung di sekitar sekolah, tapi aku hanya pernah mengunjungi dua di antara mereka. Alasannya sederhana, jauh dari kelas. Perpustakaan juga akan ramai, tapi sepertinya tak pernah ada buku baru yang datang, kecuali majalah berbahasa jawa. Majalah itu kerap digunakan untuk mengajar oleh pak guru bahasa Jawa karena banyak mengandung tulisan dengan bahasa Jawa baik dengan alfabet atau tulisan jawa.

Oh iya, perpus juga menjadi tempat kami meminjam buku paket pelajar. Jadi boleh dibilang orang tua kami mengeluarkan seperser rupiah pun untuk buku paket, kecuali kalau menghilangkan buku itu. Kami pun tidak menggunakan LKS, semua latihan soal kami peroleh dari buku paket, atau sesekali ada guru yang memberikan fotokopian latihan soal dari buku koleksi beliau.

Saat lomba itu, aku lebih memilih duduk di sekitar perpustakaan. Angin sepoi-sepoi menipu tubuh, ngantuk rasanya. Aku pun bilang, aku ingin belajar ke negeri J. Dalam perjalanan mencapai keinginan itu, tentu ada beberapa capaian kecil. Di salah satu capaian kecil itu aku pun akan bertemu dengan seseorang yang mengatakan ingin pergi ke negeri J untuk belajar. Dia pun sudah bermimpi sejak lama. Aku pun kelak akan bersahabat dengannya.

Betapa bebasnya anak-anak bermimpi!!!

Polah Manusia di “Bumi Manusia”- Bekas-Bekas di Otak

IMG_0971IMG_0972Mengobrak-abrik, ya, mengobrak-abrik. Jika membaca roman ini, tentu hati manusia mana yang tidak terobak-abrik. Pram tidak hanya menyajikan kisah asmara dua merpati, ia juga menyajikan cerita humanis, perjuangan, konflik sosial, dan ketidakberdayaan.

Membaca buku ini, terasa diri ini dilempar ke sebuah ruangan dan kita dihadapkan pada sebuah jendela. Dari jendela itu, kita bisa melihat sepotong demi sepotong peristiwa yang mungkin terjadi satu abad yang lalu. Suata masa yang sangat jauh dan kita hanya bisa temui relik-reliknya saat ini.

Dikisahkan seorang minke. Ia aristokrat, bangsawan, anak pejabat, turunan satria, seorang jawa, dan anak seorang Ibu yang penuh kasih. Ia juga seorang terpelajar yang kaya akan ilmu pengetahuan, putra bangsa, luas pergaulannya baik dengan pribumi maupun dengan Belanda, pandai berbahasa Melayu, Jawa, Belanda, Inggris, dan Prancis. Ia orang Jawa yang memakai sepatu, berpakaian seperti belanda karena ia menuntut ilmu di sekolah Belanda. Serta yang tidak kalah pentingnya adalah ia seorang pemuda, yang bunga asmara mulai mekar. Ia seorang manusia yang menjadi bagian cerita di bumi manusia karena ia hidup di dalamnya.

Melalui penggambaran di buku ini, saya pun merasa berkenalan dengan orang Jawa, yang jauh, jauh hidup sebelum saya. Orang Jawa yang masih menyembah rajanya, belum bersepatu, masih banyak yang buta aksara, menggunakan aksara Jawa dan banyak berbicara dengan Jawa. Tak banyak dari mereka yang bisa bercakap Melayu apalagi Inggris. Dan Minke seperti sosok peralihan dengan masa sekarang. Pada dirinya bertubrukan nilai Eropa dan nilai Jawa. Sewaktu membaca roman ini, saya pun mengandai-andai, apa yang hendak ia katakan ketika ia bertemu dengan orang dari jenisnya sekarang. Sekarang, orang Jawa tak lagi buta huruf, berbahasa Melayu, menulispun sering dengan Melayu, dan banyak pula yang bersepatu. Tak sedikit orang Jawa yang bersekolah, bahkan hingga universitas, tetapi memang tak banyak pula yang bisa menulis dan membaca dengan aksara Jawa. Apakah dia tersenyum atau justru memprotes? Saya tidak tahu. Saya pun membayangkan balik, apa yang terjadi jika saya hidup di zaman itu. Huh, mungkin saya hanya jadi bagian dari orang-orang yang tidak diundang saat pelantikan ayahanda Minke. Saya bisa mengatakan ini, karena tak ada rasanya tak ada leluhur saya yang tinggal di Residen B. Hehehe.

Minke adalah manusia biasa. Sewajarnya manusia biasa, ia berbuat khilaf. Tapi Ia berjuang untuk belaku adil baik dalam pikiran maupun dalam perbuatan, karena ia sadar ia memiliki ilmu. Berilmu itu bukan menjadikan seseorang sombong atau congkak antar sesamanya, melainkan harus berusaha seadil mungkin dalam menghadapi segala sesuatu. Saya begitu terinspirasi dengan menilai diri sendiri dari orang pertama, kedua, dan ketiga. Menilai pribadi sebagai perencana, penerima perintah, dan persoalan.

Dari penggambaran dalam kisah ini, saya pun dapat membayangkan betapa terinjak-injaknya orang pribumi kala itu. Ia diinjak oleh yang berkuasa, yang masih dari golongannya sendiri, lalu yang menginjak pun masih diinjak oleh orang asing yang datang dari negeri yang bertanah rendah. Meskipun begitu, tak semua orang dari negeri tanah rendah itu bersikap kurang ajar, ada diantara mereka pula yang memiliki nurani dan dapat menimbah-nimbang dengan cukup bijaksana. Kalau tidak, mana pula terjadi pergulatan sehingga lahirlah politik etis. Begitu pula pada pribumi, tak semua pemimpin pribumi menginjak yang dipimpin. Kalau tidak, mana pula kita mendengar raja-raja yang arif bijaksana. Begitulah kirana dalam sebuah bangsa, ada yang kurang bijak dan adil dalam bersikap, ada pula yang sebaliknya. Dan semestinya, antar bangsa pun berdiri sama tinggi dan duduk pun sama rendah. Sebagian orang dulu berpikir begitu, Minke salah satunya, bagaimana dengan sekarang, sudah kah kita merasa demikian? Dan benar, pada akhirnya, hanya dengan ilmu pengetahuan itu sebuah bangsa akan kuat dan bertahan. Lihatlah, Amerika, Eropa, dan banyak lagi. Sebuah suguhan konflik yang seru dari Pram.

Lalu, siapa pula yang tidak tertonjok dengan penggalan kisah dari buku ini, pada bagian Minke berujar tentang sumbangan orang Eropa pada manusia, dilanjutkan dengan Jepang, dan terakhir menanyakan pertanyaan kepada orang digolongannya sendiri. Pertanyaan yang sulit dijawab, dan mungkin kita sendiri tak tahu jawabannya karena yang bisa menilai adalah kelak orang-orang yang hidup setelah kita, orang yang merasakan dampaknya secara langsung. Ibarat kata, apa yang diperbuat oleh orang tua pada anaknya, baik atau buruk perbuatan mereka, ya anaknya lah nanti yang menilai. Ibarat ini juga bisa ketemui pada Nyai atau pun Annelies, yang keduanya juga hanya manusia biasa.

Bapaknya Nyai mungkin menilai tindakannya adalah yang paling bijak dengan menjadikan anaknya sebagai Nyai dari seorang yang ia anggap lebih tinggi derajatnya. Tetapi bagi Nyai, tindakan itu adalah hal yang salah dan kurang ajar. Sampai-sampai, ia menghukumi orang tuanya dengan memutus tali kerabat. Bahkan sang Ibu pun karena tidak berdaya menghentikan keputusan sang ayah, dihukumi sama dengan sang ayah. Seperti buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Nyai pun akan mengalami hal yang sama dengan apa yang ia perbuat kepada orang tuanya. Begitu tragis, atau bisa jadi itu karma atas tindakannya.

Di samping kekurangannya, Nyai merupakan pribadi yang selalu berusaha memperbaiki diri. Ia belajar dari kesalahannya, dan ia mampu menerawang kedepan jauh, menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Ia seorang yang tegas, berani mengambil sikap, dan nahkoda di rumah. Penggambaran perempuan yang jarang ada di masanya saat itu. Begitu pun Annelies, ia mampu menerima keadaan setelah berjuang melawan perasaan bahwa ia telah kehilangan seluruh pengharapannya. Bukan berarti ia menyerah? Saya kira ia tidak menyerah, “menerima” kenyataan merupakan wujud sebuah perjuangan setelah kita berjuang sekuat tenaga untuk mengubah kenyataan. Begitu pula sikap Minke dan Nyai. Pada akhirnya Annelies pun berhasil menentukan sikapnya meskipun -dalam benak saya- ia mencontoh apa yang telah dilakukan oleh pendahulunya.

Bagaimana dengan pasangan Nyai yang seorang totok? Saya pikir, telah terjadi konflik dahsyat dalam dirinya. Ia seorang totok, tapi sayang sekali, apa yang dilakukan tidak menggambarkan nilai-nilai yang dipegang oleh dari golongannya. Merasa jauh dari asalnya, ia berpikir aman bersikap demikian, mungkin. Dia menyesal akan hal ini. Di satu sisi, nuraninya pun tidak tega melihat Nyai dan anak-anaknya. Sehingga kita dapati, ia mau mendidik Nyai dan menjadikan rekan bisnisnya. Tentu dia pun berharap kondisi yang baik sepeninggalnya, mungkin. Setelah kedatangan anak sulungnya, ia menjadi takut. Takut kehilangan atau melukai apa yang dimilikinya dulu, dan yang dimilikinya sekarang. Tapi bukankan ia sudah melukai apa yang dimilikinya dulu? Mungkin dalam pikirannya, kalau yang dimilikinya dulu tidak tahu, maka tindakanya itu bukan lah yang termasuk demikian.

Membaca roman ini, kita tidak dapat menentukan apakah ini kisah ini benar terjadi, atau hanya gubahan si penulis, karena penulis berhasil menuliskan dengan begitu nyata. Nyata, menguliti hati manusia, sifatnya, tindakannya, pikirannya, dan perasaanya. Maka sudah pantas jika kisah ini menjadi salah satu kisah paling berkesan dari beberapa kisah yang pernah saya baca. Tentu saya paham dengan maksud “Sumbangan Indonesia untuk Dunia”.

Saya pun belajar bahwa dengan berilmu sudah sepantasnya kita menjadi semakin bijak dan adil dalam menilai dan bersikap. Semestinya pula kita mendudukkan diri kita tidak lebih tinggi dan tidak pula lebih rendah dengan bangsa lain ataupun dengan orang-orang dari golongan kita. Kita hidup hanya sekali dan pada masa yang begitu pendek, sudah semestinya kita bersikap dan memberikan yang terbaik. Terbaik untuk kita, orang sekitar kita, dan orang setelah kita kelak dan manusia secara umum. Barangkali terbaik itu, kelak suatu saat nanti akan dinamai sebagai sumbangan pada dunia. Tentu haruslah banyak-banyak bersyukur dengan kondisi sekarang ini.

Jika nasib bangsa ditentukan dengan ilmu pengatahuan, dan nasib diri ditentukan oleh keimanan. Bukankah akan lebih baik ketika kita rakus pada keduanya?

Sikap menghargai: oh, begini toh orang Jepang

“Ada yang suka makanan Jepang?”, tiba-tiba guru Bahasa Jepang saya bertanya ke kelas. Kami pun menjawab satu per satu pertanya guru kami tersebut. Ada yang suka, ada juga yang kurang suka. Saya sendiri tidak memiliki masalah dengan masakan jepang asalkan itu halal dan bukan natto. Dari pertanyaan tersebut, kami pun berdiskusi terkait filosofi makanan jepang secara umum. Guru kami bercerita pada umumnya makanan jepang tidak memiliki rasa yang begitu kuat, sehingga hampir tidak ditemui makanan jepang yang pedas atau manis sekali. Lihat saja sushi, sashimi, tempura, dan lainnya. Orang jepang ingin menikmati rasa alami dari bahan makanan yang digunakan. Akibatnya, ada banyak variasi rasa yang bisa dikombinasikan dalam makanan. Bagi saya pribadi, menikmati makanan mengikuti pandangan orang Jepang adalah hal yang baru bagi saya. Menurut orang Jepang, dengan menikmati rasa alami dari bahan makanan tersebut merupakan perwujudan sikap apresiasi atau penghargaan terhadap alam (bukan nama orang).

Berbekal cerita di atas, kali ini saya ingin membahas orang Jepang dengan sikap apresiasinya. Secara harfiah apresiasi dan menghargai berarti:

apresiasi/ap·re·si·a·si/ /aprésiasi/ n 1 kesadaran terhadap nilai seni dan budaya; 2 penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; 3 kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah; (http://kbbi.web.id/apresiasi)

menghargai/meng·har·gai/ v 1 memberi (menentukan, membubuhi) harga: dia terlalu tinggi ~ barang-barang dagangannya; 2 menaksir harganya; menilaikan: ia ~ barang itu terlalu rendah karena tidak tahu kegunaannya; 3 menghormati; mengindahkan: setiap orang harus ~ dan memuliakan orang tuanya; 4 memandang penting (bermanfaat, berguna, dan sebagainya): kami dapat ~ saran Saudara;(http://kbbi.web.id/harga)

Menurut saya, makna nomor 3 dan 4 adalah yang paling sesuai untuk konteks cerita di atas. Oleh karena itu, sikap menghargai tersebut dapat diartikan sebagai

sikap memandang penting atau menghormati dan mengindahkan sesuatu hal karena akibat baik dari keberadaannya.

Berdasarkan definisi yang saya tuliskan di atas, saya jadi teringat tentang konsep bersyukur bahwa bersyukur tidak hanya diucapkan secara lisan, tetapi juga dibuktikan dengan perbuatan. Misalnya, orang mendapatkan rezeki, sebagai perwujudan rasa syukurnya orang tersebut akan membagikan sebagian rezekinya untuk orang lain, membelanjakan rezeki tersebut untuk hal-hal yang baik. Contoh lainnya, ketika orang tua mendapatkan titipan berupa anak, normalnya orang tua tersebut akan merawat dan memberikan hal-hal yang terbaik bagi anak. Kesimpulannya adalah sikap menghargai yang dilakukan oleh orang jepang merupakan salah satu perwujudan rasa syukur. Jadi begitu toh, cara orang Jepang bersyukur.

Setelah saya amati lebih jauh, ternyata sikap menghargai tersebut tidak hanya mendarah daging di urusan makanan saja, tetapi juga menyebar ke berbagai sisi kehidupan orang Jepang. Kita bisa lihat bagaimana pedagang di Jepang menghargai pembelinya karena bisnis mereka tergantung dari pembeli. Sampai-sampai istilah pembeli adalah dewa (お客様は神様です。おきゃくさまはかみさまです). Di Indonesia ada juga istilah serupa, yakni pembeli adalah raja. Levelnya jauh berbeda untuk pembeli di Indonesia dan Jepang. Di Jepang lebih wow.

Meskipun kita memiliki istilah pembeli adalah raja, sepertinya hal ini tidak diterapkan dengan baik atau bahkan tidak banyak pelaku bisnis yang sadar akan hal ini di Indonesia. Pernyataan tersebut hasil generalisasi setelah melihat beberapa penjaga toko Indo dan alfa bulan sebelum april sewaktu pulang ke Indonesia dulu. Kondisinya sangat berbeda di Jepang di mana pembeli dan pelanggan dilayani dengan ramah, sekalipun ada orang komplen sambil marah-marah, orang yang komplen jarang dimarahi balik. Itulah pengalaman saya selama tinggal di sini.

Selain itu, saya juga dapati bahwa dengan sikap menghargai ini, banyak sekali implikasinya, seperti sikap melayani, merawat, menjaga, kerja keras, dsb. Karena itu, di Jepang jarang di dapati ada puncak gunung yang kotor karena sampah, orang hampir tidak memetik bunga atau ranting di taman, dan masih banyak lainnya.

Contoh terakhir yang baru baru ini saya rasakan adalah meningkatnya jumlah tempat ibadah di tempat umum dan makanan halal untuk umat Islam. Orang Jepang sadar betul betapa pentignya orang Islam yang datang ke Jepang baik untuk berwisata, bisnis, atau kegiatan lain bagi ekonomi jepang, atau hal lainnya. Oleh karena itu, orang jepang menghargai orang Islam dengan memberikan pelayanan sebaik mungkin di Jepang ini.

Hmm, setelah diamati pola-pola orang Jepang dalam menghargai sesuatu, saya jadi berhipotesis kalau level tertinggi orang Jepang dalam menghargai sesuatu adalah dengan menjadikan sesuatu yang dihargai tersebut kamisama (神さま) atau dewa. Di Jepang, ada beberapa Jinja yang didedikasikan kepada orang yang pernah hidup. Mereka didewakan karena apa yang dilakukan selama hidup bermanfaat, hebat, atau berkuasa semasa hidupnya, atau sesuatu yang buruk setelah kematiannya.

Contoh jinja yang didedikasikan untuk manusia adalah Himuro-Jinja (氷室神社). Lokasinya ada di Nara. Saya pernah bermain ke sana. Pada waktu ibukota Jepang masih di Nara sekitar tahun 500 masehi, ada seorang yang berhasil menemukan teknik untuk menyimpan es sehingga es yang muncul pada musim dingin dapat bertahan hingga musim panas. Saat musim panas inilah, es tersebut dapat dinikmati oleh orang-orang dari kalangan atas pada saat itu. Berkat kemampuan ini dan tentunya mungkin manfaat yang diberikan sehingga orang bisa menikmati es pada musim panas, menjadikan orang Jepang mendewakan orang tersebut. Saya pikir ini adalah salah satu wujud apresiasi orang jepang ke orang tersebut. Jika ingin mengunjungi tempat tersebut, mungkin waktu yang tepat adalah saat bulan agustus atau saat hanami. Kabarnya bunga sakura di sekitar jinja kalau mekar terlihat bagus dan pada bulan Agustus ada festival es serut.

IMG_1521

Himuro jinja tampak dalam

Himuro Jinja

Himuro Jinja

Selain orang hebat, kaisar juga merupakan salah satu kriteria yang akan dibuatkan Jinja walaupun sepertinya tidak semua kaisar, misalnya Himuro-Jinja juga didedikasikan untuk kaisar Nintoku. Begitu kurang lebih hipotesis saya. Kalau salah, ya namanya juga hipotesis dan saya sendiri masih berusaha memahami orang Jepang.

Kembali ketopik utama kita, saya pikir sikap menghargai yang diamalkan orang Jepang ini patut untuk dijadikan teladan bagi kita. Iya, tentunya tidak perlu sampai pada level mendewakan juga. Hehehe.

Karena saya orang Indonesia, di akhir artikel ini saya ingin membandingkan dengan situasi di Indonesia. Beberapa waktu lalu sempat heboh di media sosial ada orang yang mengambil foto di tengah taman bunga sehingga membuat bunga-bunga di sekitarnya menjadi rusak. Karena tindakannya tersebut, banyak orang di media sosial yang pada akhirnya menghakimi dan mengutuk tindakan tersebut. Mari kita coba pahami kejadian tersebut dari sudut pandang pelaku. Pelaku datang ke taman bunga tersebut menujukkan bahwa pelaku suka bunga atau suka keindahan. Saat pelaku mengambil foto pada posisi tersebut, pelaku mungkin berpikir kalau lokasi untuk mengambil foto tersebut adalah lokasi yang paling tepat sehingga foto yang dihasilkan itu bagus dan keren. Ini menguatkan fakta kalau pelaku sangat suka dengan keindahan dan sesuatu yang bagus, akan tetapi dampak dari tindakan tersebut adalah merusak keindahan itu sendiri. Ini menunjukkan kalau level menghargai kita masih pada level individu, belum pada tataran level yang lebih luas seperti di Jepang. Maksud saya adalah level dimana kita menghargai sesuatu yang tidak kita miliki secara langsung dan sesuatu tersebut merupakan sesuatu yang kita bagi dengan orang lain.

Situasi yang sama ketika saya berlibur ke salah satu objek wisata di kabupaten saya. Saya dapati ada banyak tulisan yang semestinya tidak ada di sana dan kadang tulisan-tulisan tersebut bernada kotor. Saya paham, dengan menulis disitu, kita ingin menunjukkan pada dunia kalau kita pernah mengunjungi tempat tersebut. Tindakan ini dapat dipahami sebagai rasa penghargaan kepada diri kita yang telah mencapai tempat tersebut. Akan tetapi kenapa kita lupa menghargai tempat tersebut?

Rasanya fenoma ini dapat pula digeneralisir kepersoalan lainnya. Misalnya saja, hampir semua orang Indonesia pasti membersihkan dan menjaga rumahnya, tetapi membuang sampah hasil bersih-bersih tersebut sembarangan. Rumah yang penting bersih, lingkungan sekitar mau kotor, tidak terlalu peduli. Kita selalu berusaha menjamu tamu dengan baik di rumah, dilayani, dan tentu disambut dengan sopan. Akan tetapi kenapa perilaku ini tidak sampai pada saat kita berhubungan di masyarakat secara umum, misal di tempat kerja, jualan, dsb. Kembali pada contoh kejadian penjaga toko. Kadang kita mendapati penjaga toko yang galak dan tidak ramah. Ini menunjukkan kalau penjaga toko tersebut tidak terlalu menghargai tempat kerjanya meskipun tempat kerjanya mendatangkan manfaat untuknya, karena penjaga toko tersebut tidak memiliki secara langsung toko tersebut. Padahal kalau pikirkan lebih jauh, manfaat yang diterima dari toko tersebut tergantung dari pembeli yang datang.

Bukan kita tidak memiliki rasa menghargai atau mengapresiasi, kita memiliki rasa tersebut, akan tetapi rasa tersebut masih sebatas individu, keluarga, atau rumah. Kita masih kurang memiliki rasa menghargai pada level yang lebih luas lagi yaitu level bermasyarakat secara umum di mana kita dituntuk untuk menghargai sesuatu yang tidak kita miliki secara langung tetapi kita mendapatkan manfaat darinya.

Kesimpulannya apa yang harus kita lakukan? Saya kira hanya satu, refleksikan pada diri kita sendiri, pada level apakah rasa menghargai kita. Jika levelnya masih sebatas individu, mari tingkatkan rasa tersebut.

Kira-kira kapan yah “Gombong” itu muncul di buku pertama kali?


Pernah nggak sih penasaran, kapan suatu kata dipakai di buku untuk pertama kalinya? Misalnya gini nih, di dekat rumah saya, ada kecamatan namanya “Gombong”. Saat zaman Belanda dulu, daerah ini lumayan terkenal dan dijadikan basis pertahanan Belanda. Tentu, orang belanda saat ke Indonesia, mereka tidak hanya mengambil kekayaan Indonesia, tetapi juga melakukan studi. Terus yang menjadi rasa penasaran saya adalah studinya tentang apa yah?

Untuk mencari jawaban dari rasa ingin tahu saya ada banyak sekali caranya. Cara yang paling gampang, kumpulin semua buku yang ada, dan cari. Tapi sekarang kita nggak perlu melakukan hal itu untuk mencari tahu hal ini, mengingat sekarang kita sudah berada di zaman digital.

Saat ini salah satu perusahaan raksasa dunia di bidang IT sebut saja Google, memiliki proyek yang disebut dengan Google Books. Mungkin sebagian dari sudah ada yang tahu akan hal ini. Dari Google books ini, Google melakukan kalkulasi frekuensi kata yang terkandung di seluruh buku yang dimilikinya. Menariknya lagi, buku sendiri juga memiliki informasi waktu terbit yang juga dimanfaatkan untuk analisis lain yaitu lini waktu terhadap penggunaan suatu kata.

Bagi saya, informasi ini sangat menarik karena paling tidak kita bisa tahu pada periode tertentu seseorang atau seseuatu menjadi bahasa baik dikalangan akademisi atau khalayak umum. Sederhananya, kalau zaman sekarang menggunakan twitter, untuk memahami masa lampau kita juga bisa menggunakan buku. Berkaitan dengan frekuensi kata, saya yakin kalau frekuensi totalnya akan mengikuti hukum Zipf (kapan-kapan saya mungkin akan menulisanya, lengkapnya: https://en.wikipedia.org/wiki/Zipf%27s_law). Google juga tidak hanya menghitung frekuensi per kata saja melainkan frequensi N-gram-nya (cek disini, apa itu N-gram: https://en.wikipedia.org/wiki/N-gram). (Komen: luar biasa, itu ngitungnya saja sudah ribet, hal teknis). Singkatnya sebut saja Google N-gram.

Kembali ke pertanyaan awal, tentang Gombong (lihat gambar di bawah):

Screen Shot 2015-11-06 at 19.03.08

Gombong vs Sempor

Ordinat merupakan probabilitas dari kata yang dimaksud dan Axis adalah tahun. Jadi jawabannya sekitar tahun 1850 sepertinya. Berdasarkan informasi tersebut, kita juga bisa menggali buku-buku yang memuat kata tersebut. Contohnya saya ambil buku tahun 1887 dengan judul The armed strength of the Netherland and its Colony oleh Major J.K. Trotter R.A. Berikut saya sajikan kutipan frasanya: “The Boy School at Gombong: This Institution is intended for the training of boys who have no sufficient means of subsistence and who are provided for by the State Candidates for admission must be between the ages of seven and fourteen and must be physically sound They are educated and trained as soldiers and as a rule remain in the school till their 19th year when they are drafted into the Army under an engagement to serve ten years Well developed lads may be drafted into the Army in then 16th year and boy musicians in their 14th year The boys whilst at the school are not subject to military law but to special regulations A Captain of Infantry is Commandant of the School and the cadre consists of 83 rank and file.” Saya menduga itu tulisan tentang Secata Gombong.

Studi kasus berikutnya adalah terkait dengan isu hangat yang terjadi di masa lampau. Misalnya kita bandingkan presiden Indonesia dan bapak proklamator kita.

Screen Shot 2015-11-06 at 19.29.17

Mari kita bahas terlebih dahulu, untuk nama Pak Hatta, sepertinya tercampur-campur dengan kata asing yang bukan berasal dari Indonesia, sehingga kita bisa jumpai peluang untuk kata “hatta” tidaklah nol pada awal 1800-an. Sangatlah wajar kalau nama proklamator kita memiliki frekuensi yang tinggal pada tahun 1940-an karena memang tidak jauh dari detik-detik Indonesia merdeka. Untuk pak Soeharto seperti yang kita ketahui kalau beliau jadi presiden sekitar tahun 1967-1968 (lupa), maka sangat wajar kalau beliau jadi topik pembicaraan pada tahun tersebut. Begitu pula pada tahun 1997-2000 (lihat pak Soeharto dan pak Habibie meningkat).

Ini hanya iseng-iseng saja. Silakan dicoba, masih ada banyak analisis lain yang menarik saya rasa.