Beberapa waktu yang lalu saya sempat pulang ke kampung halaman di Gombong. Seperti biasa naik kereta ekonomi. Luar biasa memang, pelayanan kereta ini meningkat bukan main, dari yang saya rasakan selama kurung waktu empat tahun setiap naik kereta jenis ini.
1. Tak ada penumpang berdiri
Ya, penumpang tidak lagi berdiri, seluruh penumpang harus duduk. Alhasil, PT KAI hanya menjual tiket sebanyak kursi yang ada dalam kereta atau sekitar 800 penumpang dalam satu waktu.
Selain itu, tiket juga tidak lagi bisa dibeli saat kepulangan hari H. Oleh karena itu, diberlakukan pemesanan tiket paling lama H-7 di Stasiun. Betul sekali, PT KAI, memberlakukan tiket Online –Daring.
2. Jumlah pedagang Asongan berkurang tapi ada pengamen
Mungkin seiring berkurangnya jumlah penumpang, jumlah pedangan asongan yang tampak pun sedikit. Terbukti beberapa pedangan yang biasanya terlihat, saat itu tidak terlihat. Entah kenapa selama dua tahun ini pengamen mulai muncul lagi. Padahal ketika tingkat 1 dan 2, saya merasakan pengamen benar-benar hilang dari kereta.
3. Calo tiket mulai ada pertumbuhan
Ternyata sistem ini cukup menguntungkan calo. Bagaimana tidak, penumpang yang tidak kebagian tiket secara otomatis mau tidak mau harus membeli ke calo yang kalau dibilang harganya naik 50%. Tapi untuk hal ini saya belum pernah melakukannya karena minimal saya pesan tiket pulang H-6. Info ini saya dapat dari penumpang yang kemarin pulang bersama saya.
4. Hati-hati liburan
Saat liburan, benar-benar siapkan jadwal dan belilah tiket segera saat memasuki H-7. Jika tidak, mungkin bisa benasif seperti saya, saat H-6 tiket sudah ludes. Akhirnya, saya harus tidak mengikuti kuliah selama hari tiga hari.
5. Dalam kereta tidak boleh merokok
Ada tulisan yang secara tegas melarang penumpang untuk merokok. Tapi ternyata aturan ini belum dilakukan secara tegas. Buktinya, saat ada petugas, petugas pun tidak mengingatkan penumpang yang merokok padahal jelas-jelas dilarang. Pengalaman ini saya alami saat pulang ke kampung halaman kemarin. Tanpa merasa bersalah, penumpang disamping saya merokok sepuasnya. Apa mungkin perlu yang namanya gerbong atau ruang khusus merokok?
6. Tepat waktu
Agak terkejut, keretanya ternyata tepat waktu sampai di Bandung atau di kampung halaman.
7. Toilet bersih
Ya, toilet memang cukup bersih dan air juga tersedia. Anehnya, kenapa sering ada orang yang nongkrong depan toilet ya? Padahal punya kursi tempat duduk. J
8. Hati-hati pulang malam
Iya, beberapa kasus kejahatan terjadi di dalam kereta api terutama saat menggunakan kereta malam. Walaupun sudah ada petugas, tapi nampaknya kebanyakan petugas hanya berkeliling saat ada pemeriksaan tiket. Ada sih, satu dua petugas yang berkeliling walaupun bukan saat pengecekan tiket. Hal ini saya alami dulu, HP saya raib dari tangan saya dan beberapa orang dompetnya hilang serta tas yang digunakan robek. Ya, penjahatnya tampaknya semakin leluasa karena kondisi kereta yang cukup sepi. Dan mereka tidak melakukan aksinya sendiri, tapi bergerombol banyak orang. Mereka melakukan aksinya dengan target penumpang yang tidur. Saat penumpang tertidur, penjahat akan berpura-pura jadi penjual asongan dan menutup-nutupi penumpang yang jadi target sehingga tidak dicurigai oleh penumpang lain. Penjahat lainya akan melakukan penggeledahan-biasanya si, tas korban akan dirobek dengan senjata tajam.
Itu cerita saya tentang sekilas wajah baru kereta ekonomi kutojaya selatan.
Nah, selanjutnya peristiwa khusus yang saya alami pulang kemarin. Waktu ke Bandung tiba-tiba kereta berhenti sebelum Stasiun Rancaekek mungkin karena belum dapat semboyan untuk masuk stasiun. Hmm, ternyata banyak juga penumpang yang turun di sana.
Berkali-kali naik kereta, ada hal yang sebenarnya menarik perhatian yaitu saat pembelian tiket. Suatu ketika saya membeli tiket seharga 19.500 tapi kadang harganya menjadi 20.000 padahal di tiket tertera 19.500. Saya cuma bingung, ini yang 500 kemana ya? Sampai sekarang ini belum terjawabkan. Coba saja bayangkan, kalau sehari tiket dijual 800 tiket, berarti ada uang 400.000 yang tidak tahu rimbanya (maksimum). Nah, coba bayangin hal itu dilakukan selama 1 tahun : 144.000.000 (Semoga tidak salah perkalian). Banyak kan???
Mungkin jarang orang yang komplain karena menganggap hanya 500 rupiah saja termasuk saya. Dan beberapa penumpang juga menganggap hal tersebut wajar. Tapi ternyata jika dikumpulkan bisa jadi banyak buanget. Mending naikin jadi 20.000 kan tahu rimbanya masuk kemana.
Semoga saja praktek seperti ini mulai berkurang. Semangatlah PT KAI, buktinya, praktek orang membayar kereta di atas kereta sudah hilang.
Ngomong-ngomong tentang semboyan (Tanda bermakna), kalau kereta mau berangkat ternyata ada sahut-sahutan semboyan lho. Awalnya, PPKA akan menunjukkan tanda hijau (Semboyan 40) ke masinis kereta. Setelah itu, meniup peluit (Semboyan 41). Tiupan peluit akan dibalas dengan suara kereta panjang yang berarti kereta siap berangkat (Semboyan 35).
Oiya, Jenis lokomotif yang menarik gerbong kemarin adalah CC201.



